Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Sunyi Mawar

24 Januari 2020   21:27 Diperbarui: 25 Januari 2020   17:55 238 41 39 Mohon Tunggu...
Puisi | Sunyi Mawar
Ilustrasi. Sumber: Pixabay.com.

Bukan ini yang kuinginkan. Cerita tentang rerumpunan mawar, di halaman belakang rumah tua yang ditinggalkan penghuninya. Meninggalkan sunyi dan duri 

Ada sebuah pesan ditinggalkan pada secarik kertas buku. Kutinggalkan rumah ini: Lemari kayu jati, baju-baju, juga harum yang ditinggalkan tubuh Ibu; Seperangkat kursi berikan saja pada tetangga. Ada sepatu, topi, sepeda, peninggalan Bapak. Sebaiknya  disimpan saja, untuk mengingatkan kita, ada tumpahan keringat dari ketiga benda itu, mengantar kita ke ujung sekolah 

Bersihkan rerumputan di halaman depan, agar orang-orang yang lewat di depannya bisa melihat, bahwa pernah pada suatu masa rumah itu adalah tempat belajar menghidupkan lampu, percakapan-percakapan di ruang keluarga, bagaimana sebaiknya ketika kita mempunyai air mata 

Jangan marahi anak-anak, kalau mereka mencuri jambu yang ditanam Bapak. Seperti kamu dihukum gurumu menulis lima halaman buku: "Saya tidak akan mencuri lagi!" 

Kau mencuri uang temanmu untuk membeli es krim yang tak pernah kau rasakan. Bambu kecil itu sampai pecah karena dihantamkan Bapak ke kakimu

Kita tinggal berdua. Aku tidak ingin bertengkar yang tak perlu. Jangan bersedih. Di rumah ini kita sekeluarga sudah terlalu banyak menumpahkan air mata 

Untuk sementara ini jangan mencariku 

- dari kakakmu

Cilegon, Januari 2020 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x