Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Jurnalisme Cepat Saji, Catatan Lain tentang Berita Wafatnya BJ Habibie

12 September 2019   10:27 Diperbarui: 13 September 2019   10:48 0 42 21 Mohon Tunggu...
Jurnalisme Cepat Saji, Catatan Lain tentang Berita Wafatnya BJ Habibie
Ilustrasi. Sumber: Pixabay.com

Di era media sosial seperti sekarang ini, di mana seseorang bisa menjadi "wartawan" tanpa perlu di bawah institusi media arus utama ( cetak, elektronik, maupun online ). Ia bisa mengunggah segala peristiwa, segala gambar-gambar di akun pribadinya, tanpa mengindahkan kaidah-kaidah berbahasa, juga foto-foto tanpa sensor. 

Di sisi lain orang-orang ingin melihat berita yang cepat, singkat, tanpa mengerenyitkan dahi. Karena memang, mereka membacanya di sela-sela aktifitas mereka. Di dalam bus, di kereta, di sela waktu luang saat mereka bekerja. Dan mereka lebih tertarik dengan berita-berita yang "menghasut" mata. Dan kadang, mereka tak peduli apakah berita itu benar-benar terjadi, atau sekadar hoaks.

Di media cetak ada seleksi pada sidang redaksi, apakah sebuah berita atau foto layak muat. Pun pada media elektronik semacam tv berita. Ada proses editing sebelum berita layak tayang. 

Tapi bagaimana dengan berita "dadakan", Breaking News?
Televisi seperti berlomba adu lari untuk menjadi "ter", tercepat, tereksklusive, dan ter-ter lainnya. Walau objek beritanya sama, mereka berusaha menyajikan dengan sudut pandang berbeda. Saking semangatnya, mereka sedikit hilang kontrol. Pemirsa mungkin tak terlalu memperhatikan, karena fokus dengan objek berita. 

Ini terlihat pada laporan langsung pada berita meninggalnya mantan Presiden Indonesia ke-3, BJ Habibie. Berita TV-One, contohnya.  Reporter TV-One, saat di RSPAD Gatot Subroto, melaporkan orang-orang yang datang ke rumah sakit begitu "meriah". Meriah? 

Menurut KBBI kata "meriah" berarti: ramai untuk bersuka ria. Bersuka ria saat menjenguk orang meninggal? Tentu kita maklum, bukan itu maksud sang reporter. 

Semangat seperti ini rupanya menular juga kepada narasumber. Ali Mochtar Ngabalin saat dimintai tanggapan oleh TV-One, mengatakan, "Oom Rudy telah selamat lahir batin." Orang meninggal selamat lahir batin? 

Ternyata TV-One punya teman, Kompas TV. Reporter Kompas TV saat di rumah duka Patra Kuningan melaporkan, bahwa "kloter" pertama telah selesai menyalatkan jenazah BJ Habibie. Kloter? Apa lagi, nih? Sepengetahuan saya kloter adalah singkatan dari "kelompok terbang", dan sering mengacu kegiatan ibadah haji. 

"Kelompok terbang pertama sudah selesai menyalatkan jenazah BJ Habibie."

Yah, dimaafkan. 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x