Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Lelaki Angin dan Kupu-kupu Bermata Gemuruh Seribu Ombak

20 Juni 2019   06:05 Diperbarui: 20 Juni 2019   06:43 0 22 8 Mohon Tunggu...

"Aku lelaki Angin. Jangan berharap dan percaya padaku," katamu sesaat sebelum menghilang 

Aku percaya. Seperti dulu saat kau baru tiba. Tubuh bersimbah darah dengan lubang menganga. "Sembunyi di kamarku," bisikku 

Kau kurawat kujaga. Padahal kau bukan siapa-siapa. Seperti yang lainnya, menaksir tubuhku berharga berapa. Tapi ada yang lain pada dirimu. Itu apa aku sendiri pun tak tahu. "Aku suka matamu, menantang. Seperti gemuruh seribu ombak," katamu membuat aku tersipu. Tak pernah ada lelaki yang memujiku

Kau sedikit bicara. Tapi matamu selalu waspada, mendengar suara-suara yang mungkin menyapa 

Akhirnya yang kucemaskan datang juga. "Untuk sementara waktu aku akan menghilang. Tinggalkan tempat ini, dan bawa uang ini. Jaga kandunganmu."

Dan kini setiap pagi di kaki bukit aku menunggumu bersama lelaki kecilmu. Lihat tangannya yang kokoh. Seperti tanganmu, dulu meremukkan dadaku. Lihat juga rambutnya yang tebal. Seperti rambutmu yang dulu kutarik kuremas, karena aku kehabisan napas, dan membenamkan kukuku hingga kulit punggungmu terkelupas. Matanya, matanya mengambil mataku. Apa katamu? Bergemuruh seperti seribu ombak?  Aku suka itu 

Dan nampaknya angin badai akan datang. "Ayah datang bersama badai, Mak?" 

Mungkin 

Cilegon, 2019 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x