Mohon tunggu...
Imron Fauzi
Imron Fauzi Mohon Tunggu... Dosen IAIN Jember

Sebagai Dosen Tetap di IAIN Jember pada Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan. Pengalaman menulis bermula pada tahun 2005 dengan mengembangkan sebuah blog sederhana yaitu https://mahluktermulia.wordpress.com/ yang berisi mengenai keagungan Rasulullah. Karya-karya buku yang telah diterbitkan antara lain: Manajemen Pendidikan Ala Rasulullah Saw (2012), The Power Of Story (100 Kisah-kisah Inspiratif) (2012), Kurikulum dan Bahan Ajar PAUD (2013), Pendidikan Kewarganegaraan (2014), Etika Profesi Keguruan (2017), Konvergensi Kurikulum dan Pembelajaran di Madrasah Berbasis Pesantren (2019), serta sebagai editor buku Pandom Mangerteni Basa Jawa (2014) dan Psikologi Perkembangan (2015). Selain itu, juga rutin menulis di beberapa jurnal ilmiah, detailnya dapat dilihat di: https://scholar.google.co.id/citations?user=ooLo7HYAAAAJ&hl=id.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Guru Itu Aktor, Bukan Sekadar Administrator

17 Januari 2020   09:24 Diperbarui: 18 Januari 2020   00:29 191 14 6 Mohon Tunggu...
Guru Itu Aktor, Bukan Sekadar Administrator
foto ilustrasi (Sumber: Instagram/hendraagatama)

Guru, itulah ungkapan yang biasa dibicarakan orang ketika melihat seseorang yang mengajar di sekolah. Ia menjadi figur utama dalam membelajarkan siswa sebagai penerus bangsa. 

Ia pula yang menjadi agen untuk mewariskan pengetahuan, sikap, dan keterampilan bagi penerus bangsa, sebab dalam benaknya terdapat sebuah pemahaman bahwa pendidikan merupakan upaya untuk membentuk kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan anak bangsa dalam meraih cita-cita hidup.

Ketika ia dimaknai sebagai agen pembentuk anak bangsa sesuai dengan harapan bangsa, akankah ia terhenti hanya puas dengan pengetahuan yang dimiliki saat ini. Jawabannya pasti tidak. 

Guru tidak bersandarkan diri pada pengetahuan dan keterampilan yang ia miliki. Atau hanya berhenti sejenak untuk melejitkan kemampuan, itu pun tidak layak baginya. Ia harus melangkah lebih cepat daripada anak bangsa yang ia didik. 

Dengan begitu tidak muncul kembali anekdot bagi guru zaman sekarang, seperti "Tipus" (tidak punya selera), "Mual" (mutu amat lemah), "Kudis" (kurang disiplin), "Asma" (asal masuk kelas), "Kusta" (kurang strategi), "TBC" (tidak bisa computer), "Keram" (kurang terampil), "Asam Urat" (asal sampaikan materi, urutan kurang akurat), "Lesu" (lemah sumber), "Diare" (di kelas anak-anak remehkan), dan "Ginjal" (gaji minim, jarang aktif, dan lambat).

Jika siswa dipandang sebagai pembelajar, maka guru lebih dari pembelajar seperti halnya siswa. Ia harus lebih cepat daripada personal yang dididik dan dibimbingnya. 

Menurut Rudi Ahmad Suryadi, guru ibarat pemanjat tebing (Climber) yang berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai puncak ketinggian yang ditentukan. Dalam hal ini, terdapat ibarat sederhana untuk menggambarkan tipe guru sebagai pembelajar.

Pertama, guru Quitter. Guru tipe ini hanya berhenti pada kaki gunung, tidak dapat melanjutkan pendakian. Gambaran ini bersentuhan dengan tipe guru yang puas pada apa yang dimiliki sekarang, tidak open minded, merasa riskan terhadap perubahan, dan kukuh pada pendapatnya yang ia anggap benar tanpa menyadari perubahan. 

Tipe seperti ini tidak punya semangat tinggi untuk melakukan perubahan mendasar pada dirinya terkait pengembangan kompetensi. Alih-alih manusia lain sudah merangkak menjamah perubahan ICT pada pembelajaran, malah ia terhenti pada pembelajaran ekspositori.

Kedua, guru Camper. Ia berkemah di perut gunung, merasa puas dan nyaman di sana, dan tidak mau berlanjut menuju puncak. Guru seperti ini pernah melakukan transisi perubahan kompetensi, namun ia tidak punya selera untuk terus melejitkan kompetensi sampai titik kulminasi puncak. 

Ketika ia mendapatkan satu teori model pembelajaran baru, ia pernah menerapkannya, namun tidak mau meraih model pembelajaran lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN