Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Segitiga Yogya 80-an: Marching Band Pengiring Ratu Pantai Selatan

19 Juni 2017   23:45 Diperbarui: 20 Juni 2017   04:05 93 2 3
Segitiga Yogya 80-an: Marching Band Pengiring Ratu Pantai Selatan
Ilustrasi: www.infobdg.com

“Katanya siapapun yang mendengar suara drumband malam-malam, kemanapun pergi bakal kembali ke Yogya,” kata ibu kos yang baik hati.

“Drumband mana yang main malam-malam, bu?” tanyaku polos.

“Itu drumband yang mengiringi kunjungan Nyi Roro Kidul yang berkunjung ke keraton.”

Aku pamitan sambil membawa piring gorengan pemberian ibu kos ke meja makan.

“Betul, kan?” tanya Kasrul.

“”Menurut bu Bekti begitu.”

“Hiiih....bulu kuduk saya masih merinding enggak turun-turun,” ucap Kasrul sambil bergidik.

Semalam ia numpang belajar di kamarku, karena Ikbal teman sekamarnya sedang belajar. Ikbal belajar dengan membaca keras-keras rumus yang mengganggu konsentrasi Kasrul.

 Aku ragu apakah benar Kasrul semalam mendengar suara drumband? Soalnya, saat ia membangunkanku pukul satu lewat tengah malam karena ketakutan, aku tak mendengar apa-apa.

***

Akhirnya suara marching band yang legendaris itu sampai juga ke telingaku.

Saat itu aku tidur di rumah teman satu daerah asal di dekat Selokan Mataram.  Kami baru selesai menuntaskan turnamen domino di mana yang kalah harus memasak mi instan. Mi instan sudah tandas, dan dalam gelas-gelas hadiah sabun colek hanya tersisa ampas kopi.

Kami berlima, dan keempat temanku sedang mendengkur bersahut-sahutan. Tiba-tiba aku mendengar suara musik tetabuhan sayup-sayup dibawa angin.  Karena tidak begitu jelas karena bersaing dengan kuartet ngorok, aku segera keluar ke halaman rumah yang luas. Langit cerah penuh bintang. Bulan sabit tanggal tujuh.

“Daradam dam dam dam... daradam dam dam dam dam....”

Aku menajamkan indra pendengaran. Tak salah lagi, itu suara marching band terdengar dari timur. Kampus UGM? Atau Kali Code? Pemilik warung koboi di depan Mirota Kampus bercerita tentang pasukan Diponegoro yang melawan tentara Belanda hingga tumpas di kali Code. Aku tak tahu apa hubungan kisahnya dengan rombongan pemain drumband yang mengiringi Ratu Pantai Selatan. Tapi itu penjelasan yang kudapat darinya saat kutanyakan tentang legenda tersebut. Dan mendadak saja, suara drumband itu lenyap. Warung koboi kini lebih dikenal dengan nama angkringan.

Aku masih berpikir: itu suara pohon bambu di tepi Selokan saling bergesekan oleh embusan angin dini hari.

***

Kesempatan untuk mendengarkan suara marching itu datang lagi.

Saat itu aku belajar sedang di kamar kos. Teman-teman lain sudah lama terlelap. Siaran radio sudah tuntas, hanya meninggalkan bunyi statis datar.

Saat mematikan radio dan hendak menggantinya dengan kaset, aku mendengar suara itu. Dekat saja. Aku indekos di Sekip dan suaranya seperti berasal dari Terban. Tak sampai satu kilometer.

Segera kutuntun sepeda motor Honda C70 merah milikku ke jalan, dan kemudian melaju ke arah Selatan. Rombongan marching band itu rupanya sudah berpindah lokasi ke Jetis. Aku tancap gas penuh harap. Kembali suara itu terdengar dari arah Mangkubumi. Malioboro. Mataram... dan hilang.

Dengan kesal aku berhenti di warung koboi Kotabaru.

“Dari mana, mas? Malam-malam begini,” tanya sang penjaga warung berbasa basi.Hanya ada aku dan dia.

“Tadi ada rombongan drumband lewat sini enggak, mas?” tanyaku setelah memesan teh nasgitel. Aku membuka bungkus nasi kucing sambal teri.

“Oooh....mas nguber suara drumband? Enggak bakalan ketemu, mas,” jelasnya.

Aku menghela napas. Kupejamkan mata mencoba mendengarkan suara-suara di kejauhan. Hening.

Saat aku membuka mata, ternyata aku sendirian!

“Mas? Mas!” seruku.

“Ada apa jenengan kok teriak-teriak gitu, tho?” mendadak muncul kepala mas penjaga warung yang sedang mencuci gelas di samping tenda. 


BERSAMBUNG

Bandung, 19 Juni 2017

Catatan: tulisan ini tadinya dipersiapkan untuk pemanasan ICD Yogyakarta. Berhubung kesibukan mengejar launching buku 2045 maka gagal tayang sampai deadline.