Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Segitiga Yogya 80-an: Fungsi Lain Kantor Telkom Kotabaru dan Stasiun Tugu

19 Juni 2017   16:34 Diperbarui: 19 Juni 2017   23:45 1486 2 1
Segitiga Yogya 80-an: Fungsi Lain Kantor Telkom Kotabaru dan Stasiun Tugu
Stasiun Tugu (pinterest.com)

Sebagai mahasiswa Fakultas Teknik yang gersang dari makhluk lucu indah, namanya usaha penghijauan harus terus dilakukan secara berkesinambungan supaya jiwa tetap sehat selaras dengan jagat semesta. Indekos penghuninya cowok semua, daripada orang tua khawatir dengan maraknya isu ‘buffalo gathering’ alias kumpul kebo yang diembuskan Kelompok Dasakung yang menghebohkan dunia padepokan dan perindekosan Nusantara. Karena itu penting bagi kami penghuni asrama indekos untuk membuka hubungan diplomatik dengan asrama-asrama putri terdekat. Dan untuk lebih memacu semangat, dibuatlah peraturan nomor 19:

Barang siapa malam Minggu duluan pulang ke asrama, wajib menyikat kamar mandi.

Menyikat kamar mandi bukanlah tujuanku jauh-jauh dari Banda Aceh pindah SMA ke Bandung dan melanjutkan kuliah ke Yogya. Maka aku yang saat itu lugu, imut dan menggemaskan—gemas menabung, dengan giat mencari kenalan di indekos putri seputaran Sekip. Artinya dari jalan Kaliurang sampai Bantul dan dari Adisucipto sampai Godean. Tujuanku, semakin banyak yang bisa kuajak bermalam minggu, semakin kecil peluang menyikat kamar mandi.

Gadis yang bernasib sial mana yang berhasil kuajak tidaklah penting. Yang penting adalah bagaimana menyiasati agar malam Minggu benar-benar malam yang panjang, malam yang asik—maaf.

Jadilah aku dan gadis-yang-namanya-rahasia menjelajah malam: malam ini Teh Poci Telkom yang remang-remang dengan lampu teploknya, minggu depan nonton midnight show di bisokop Mataram, Lempuyangan, minggu berikutnya wayang semalam suntuk di Pelataran Balairung. Begitu seterusnya. Bahkan jika musim ujian, aku dan gadis-yang-namanya-rahasia memanggul tas berisi buku teks setebal textbook belajar di perpustakaan kampus—atau ruang belajar asrama putri seperti Stella Duce dan Bale Gadeng.

Bioskop Mataram (montasefilm.com)
Bioskop Mataram (montasefilm.com)

Problemnya, asrama para gadis selalu pasti jam malam. Ada yang jam sembilan, jam sepuluh, atau jam sepuluh kurang lima menit.

Solusinya hanya satu: pulang pagi sekalian! 

Tapi... mana kuat begadang semalaman! Mau ngamar hotel saat itu belum kepikiran, maklum, aku ‘kan masih lugu, lumayan guob—k. Juga kondisi keuangan sama dengan rata-rata mahasiswa perantauan lainnya: tanggal tua mi instan lagi, mi instan lagi.

Nah, saat kantuk mulai melanda, aku dan gadis-yang-namanya-rahasia akan memilih salah satu lokasi yang nyaman untuk tidur bersama: Kantor Telkom atau Stasiun Tugu. Kedua tempat itu buka dua puluh empat jam.

Kantor Telkom laris dengan pelaku SLJJ (sambungan jarak jauh tapi yang bayar penerima, pulsa telepon ala mahasiswa kehabisan dana). Setiap saat terdengar panggilan menyebutkan nama dan nomor bilik bicara. Dan karena Yogya berada ditengah-tengah jalur kereta api pulau Jawa, kereta dari timur ke barat dan sebaliknya mampir selewat tengah malam. Aku bahkan bisa menirukan bel kedatangan kereta api sambil memejamkan mata.

Terakhir ke stasiun Yogya November tahun lalu, masih ada yang tidur-tiduran di bangku panjang stasiun. Namun dengan berakhirnya era telepon jalur darat, mungkin kantor Telpon Kotabaru sudah tidak buka 24 jam lagi, dan berganti nama menjadi Plasa Telkom.

Oh ya, aku pernah harus menyikat kamar mandi karena semua teman-teman satu indekos baru balik Minggu sore.


BERSAMBUNG

Bandung, 19 Juni 2017

Catatan: tulisan ini tadinya dipersiapkan untuk pemanasan ICD Yogyakarta. Berhubung kesibukan mengejar launching buku 2045 maka gagal tayang sampai deadline.