Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Batas-Tak-Bertuan (XVI)

6 Desember 2022   18:43 Diperbarui: 6 Desember 2022   18:52 93
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. pri. Ikhwanul Halim

Dua penjaga Malin melepaskan baju terusannya dan mengejar Musashito. Lelaki tua itu terus menatap kosong ke dalam bayang-bayang. 

Dilucuti dari pelontar tombaknya, dia tidak berguna, mencengkeram medali yang dibangga-banggakan sebagai legenda. Di sini semua peringatan paranoidnya menjadi hidup, dan dia hanya berdiri di sana, tidak bergeming ketika Muka Pucat menarik lengannya ke belakang bahunya, memukul kepalanya, memukulnya di samping, tidak peduli dengan apa yang diinginkannya, mengabaikan fakta bahwa perang telah berakhir.

"Kalian melanggar perjanjian gencatan senjata," kata Malin. "Kalian harus kembali ke tempat asal kalian. Ini bukan tempatmu."

Dia mendapat tamparan lagi dari Karung Umbi. Malin meringis saat tangannya yang bersarung bersentuhan dengan dagingnya, mengisap bibir bawahnya yang montok dengan napas kecil yang seksi, yang membuatnya mendapat tamparan lagi. Jauh lebih menaykitkan dari dua sebelumnya.

Bibirnya pecah, meledak dengan bintik-bintik ludah dan darah merah. Malin mencicipi darahnya yang diperkaya dengan bahan organik dari baju terusannya, menahan tetesannya, tidak ingin ada yang terbuang sia-sia.

"Aku juga mencintaimu, Ndut." Dia merunduk cukup cepat untuk menghindari pukulan lain.

"Sampai kalian semua, Sampah Timur musnah, perjanjian itu hanyalah kahyalan. Kalian semua sebaiknya mulai bekerja sama. Ini hanya pemanasan."

Jarum menunjuk ke Makhluk Insang yang diam-diam menyesap tuak di bangkunya. "Dia sudah memberitahumu apa yang kami inginkan. Kami datang untuk mengambil kembali milik kami, termasuk gen kalian." Malin sama sekali tak mengerti kata-kata gadis jangkung itu.

Malin belum pernah menghadapi rasisme Dunia Barat sebelumnya. Dia pernah mendengarnya, terutama dari Mujsashito, tetapi tidak mengharapkan kebencian yang keluar dari pada setiap kata dari lidah manusia mana pun.

Dingin menusuk daging di lengan dan di belakang lehernya. Orang-orang ini lebih berbahaya daripada yang diocehkan Musashito. Orang tua itu dulu dianggapnya ngelindur kosong. Malin seharusnya mendengarkan dengan lebih baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun