Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Penyihir Kota Kembang: III. Kisah Sang Ratu (Part 5)

9 Oktober 2022   17:30 Diperbarui: 10 Oktober 2022   10:07 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. pri. Ikhwanul Halim

"Tanpa ragu, Kaniya berputar dan menusuk tombaknya ke musuh yang menyelinap dari belakang ke arah mereka. Tapi meski, terluka di dada, penyusup itu masih tangkas dan trengginas, menebas wajah Kaniya yang menggenggam tombaknya erat-erat saat dia melihat ke mata musuh, mata orang sekarat. Panglimanya sendiri."

"'Grawira,' dia menarik napas. 'Tidak.'"

"Namun tak ada jawaban. Sang Panglima tersedak darahnya sendiri, kemudian terkulai tak bernyawa. Kaniya menyentak tombaknya dan menatap tubuh itu. Sang Penyihir hanya berdiri, bergeming di sisinya.

"'Kamu ...' akhirnya Kaniya berhasil mengatakan, menyeka darah dari luka di pipi. Luka yang akan meninggalkan carut, dia tahu. 'Kamu mengatakan yang sebenarnya. Tapi kenapa dia melakukan ini?'"

"'Tidak ada yang tahu kejahatan apa yang mengintai di hati para pria,' kata penyihir itu, 'atau seorang wanita.'"

"Penyihir mengamati luka di pipi Kaniya. 'Aku bisa menyembuhkannya tanpa membekas,' katanya, 'jika kamu mau.'"

"'Tidak,' jawab Kaniya. 'Aku akan menyimpan bekas luka ini untuk kenang-kenangan.'"

"Penyihir memandang gadis muda itu. 'Sebagai pengingat?'"

"'Saat kami berlatih untuk menjadi pejuang, kami dilatih dengan darah panas dan baja dingin. Kami diajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada pedang, tombak, atau perisai. Kami diajari untuk menjadi senjata. Dan kami tidak lari, tidak berhenti, sampai pertarungan dimenangkan. Ketika tetes darah pertama menitik, beiarkan mengalir hingga akhir. Aku tak menyimpan luka untuk mengingatkanku. Aku hanya menjadikannya sebagai janji. Aku akan menghabisi siapa pun yang memulai pengkhianatan ini.'"

"Penyihir itu tidak berbicara sepatah kata pun, hanya mengangguk dan mulai berjalan. Kaniya tidak mengajukan pertanyaan, dia tahu ke mana mereka pergi dan mengikuti. Dia tidak menyeka tombaknya, tidak perlu. Satu orang lagi akan mati oleh pedangnya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun