Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok dan Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Kasus Sang Harimau (Bab 22)

27 September 2022   16:30 Diperbarui: 27 September 2022   16:33 82 13 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. pri. Ikhwanul Halim

Aku menatap mata cokelat besar yang sedang mengamatiku dengan penuh rasa ingin tahu. "Kamu bilang namamu Tarika?" aku bertanya.

"Bukan," jawab anak itu dengan tegas, Aku bilang Kar-ti-ka."

Luar biasa, pikirku. Mustahil ini sebuah kebetulan. Aku tahu Kartika adalah nama yang cukup umum, tapi mendengar nama dalam bahasa Sanskerta untuk 'Bintang' itu aneh di telingaku setelah malam itu di hotel Marbella.

Sebelum aku bisa mengatakan apa-apa lagi, pintu dibuka oleh seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun. Rambut hitamnya ditata dengan selera tinggi dan nyaris tidak tersentuh warna abu-abu. Masih tampak cantik meskipun tampak sifat judes di sudut bibir dan matanya. Dia memandangku dari jarak seorang ibu rumah tangga membukakan pintu untuk pedagang keliling dan berkata, "Ya?"

"Nyonya Ria Syarif?" tanyaku.

"Benar," jawabnya, masih waspada.

Aku mengeluarkan kotak kacamata dari saku. "Maaf mengganggu," aku berkata, "tetapi apakah ini milikmu?'

Nyonya Ria melihat kotak kacamata itu sejenak. Kemudian sikapnya berubah. "Saya telah merelakannya, saya anggap hilang. Saya mencarinya ke mana-mana tanpa hasil sama sekali."

Aku perhatikan bahwa ekspresinya telah melunak. Dia melangkah ke samping dan menahan pintu agar tetap terbuka. "Apakah kamu tidak mau masuk?"

Tepat sebelum kami masuk ke ruang tamu, Nyonya Ria menoleh ke anak itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan