Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Penyair Majenun

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Yang Disengaja Hilang

29 April 2021   13:59 Diperbarui: 29 April 2021   14:14 135 15 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yang Disengaja Hilang
Source: piecesofme2016.com

Di rumah kami, barang-barang menghilang setiap hari.

Biasanya terjadi malam hari, ketika kami duduk di lincak reyot di pekarangan belakang rumah, menghadap padang ilalang meninggi yang membentang beberapa hektar di hadapan kami. Hanya aku dan adikku, Maruli, dan bau makan malam yang menyengat di udara di sekeliling kami. Inang akan segera memanggil untuk makan malam, tetapi kami harus menyelesaikan permainan yang kami mainkan setiap malam.

Aturan mainnya sangat sederhana, ambil sesuatu dan lemparkan sejauh mungkin ke semak-semak. Mengamati lintasan proyektil dan setelahnya menentukan pemenangnya. Itulah satu-satunya aturan yang berlaku. Sampai malam ini.

Barang-barang yang kami lempar biasanya adalah barang-barang yang tidak akan kami lihat lagi, seperti tongkat kayu yang digunakan amang untuk mengajar kami, atau bungkus rokok yang disembunyikan inang di laci pakaian dalamnya.

Inilah alasan mengapa di rumah kami banyak barang hilang sepanjang waktu.

Saat kami berdiri, mengerahkan segenap tenaga yang kami punya, kurasa Maruli terbawa suasana. Aku tidak melihat saat dia melemparkan benda di tangannya, tetapi segera mendongak ke atas untuk mencatat lintasan parabola benda dan menyatakan diriku sebagai pemenang--aku selalu menang karena Maruli memiliki lengan yang lemah dan tidak bisa melempar dengan baik--dan aku perhatikan bahwa yang dilemparnya adalah bola kristal salju milikku yang berkilau di bawah cahaya bulan. Hadiah dari amang, dari saat dia biasa bepergian sebelum kehilangan pekerjaan dan mulai minum serta memukuliku dan inang. 

Sebelum Maruli dapat berbicara dan berjalan.

"Kenapa kau membuangnya?" Kemarahan mendidih dalam suaraku. Panas terasa di tenggorokan.

"Tapi kau bilang aku bisa melempar apa saja?" Kebingungan di wajahnya memberitahuku dia tidak mengerti mengapa aku marah, karena memang tidak ada aturannya dalam permainan kami.

 "Pergi dan ambil sekarang," kataku padanya sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah ilalang tinggi.

Dia berjalan perlahan menuju rerumputan dan segera aku saja tidak melihatnya lagi. Baju kaos merah dengan celana jins biru cerah ditelan hijau dan coklat rumput tinggi yang bergoyang ditiup angin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN