Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | [RTC] Cokelat Hangat dan Kiamat

15 November 2017   09:12 Diperbarui: 15 November 2017   09:19 2167 15 3
Cerpen | [RTC] Cokelat Hangat dan Kiamat
Ilustrasi: www.vrhealthonline.org

Pagi hari masih kelabu menyisakan dingin sisa hujan dini hari. Di dinding facebook bersliweran status tentang walk out dan penutupan diskotik oleh gubernur baru. Juga sidang yang memutuskan kebebasan berekspresi diberangus. Satu dua debat vaksin dan anti vaksin, yang memicu imajinasi tentang fiksi epidemi. Maut Hitam. Zombie.

Panci pemanas air mengeluarkan bunyi menggelegak air mendidih. Aku masih belum menulis sepatah kata pun. Tapi halaman ini tak pernah benar-benar kosong,  meski berisi kata-kata yang dilahirkan dengan rasa pedih.

Pernah kudengar orang berkata bahwa tidak ada yang mau membaca tentang akhir dunia. Siapa yang benar-benar ingin membicarakan tentang Apocalypse? Atau Armageddon? Thor: Ragnarok tidak bercerita tentang akhir 9 dunia.

Siapa yang sungguh-sungguh meyakini kiamat? Dusta dibenarkan. Korupsi dihalalkan. Bajingan dinabikan. Politisi hilang urat malu. Hakim bersekongkol melapukkan palu. Apakah kiamat akan datang dalam bentuk kegelapan? Melepaskan dunia dari 'engsel'nya dan melemparkannya ke palung entropi. Apakah kita saat ini berada pada hari-hari terakhir, atau pada awal dari hari hari-hari terakhir? Tidak ada yang benar-benar peduli. Bahkan mereka yang tidak mungkin diselamatkan.  

Terutama mereka yang diselamatkan. Mereka yang sudah selamat bahkan sebelum hari kiamat. Mereka telah selamat dari kehancuran yang akan datang. Apakah mereka bersama-sama kita menunggu kiamat, kemudian mereka juga ada di dunia yang datang setelahnya. Di manakah mereka? Apakah mereka hidup atau mereka mati? Apakah mereka hantu bergentayangan atau bidadari di taman Tuhan?

Tapi bagaimana jika sebenarnya dunia sesungguhnya belum dimulai? Atau bagaimana jika dunia sudah berakhir sebelum kita lahir? Bagaimana jika kita semua selamat dari sesuatu yang tidak dapat kita ingat? Bagaimana jika kita hantu yang luput dari waktu yang hilang? Bagaimana jika Armageddon bukanlah akhir tapi sebuah titik awal lingkaran siklus sejumlah sejarah yang menolak untuk berakhir?

Sebagai seorang pendosa, pengetahuan adalah siksaan yang kutanggung setiap detik, sebuah pemikiran yang menyedihkan. Sengsara. Karena selalu ada pertanda bahwa kiamat itu dekat, sangat dekat, dan selamat atau tidak, kita akan berkumpul di aula multidimensi. Seluruh manusia dari Adam hingga keturunannya yang terjauh. Bagi orang mati dan orang-orang yang mengalami kiamat, tak masalah koordinat mana kita berada setelahnya, namun kita akan saling bertatap muka mengungkap salah dan dosa dalam satu ruang yang padat, wadah yang sempit. Meski ada janji akan sesuatu yang indah setelahnya, tapi aku yakin tubuh fana ini akan terbakar api tak terhingga bilangan.

Aku menuangkan air panas setelah sebelumnya menabur bubuk cokelat ke dalam gelas. Rasanya menyenangkan. Ini pagi yang kelabu, masih menyisakan dingin hujan dini hari. Duduk di kursi, menghadap laptop terbuka di atas meja kerja.  Denting nada di gawai menandakan deretan pesan masuk. Mungkin tentang politik, kesalahan sistem, atau pesan berantai.

Halaman pengolah kata penuh narasi kosong, tapi aku akan menulis. Mungkin aku akan menulis tentang kiamat yang tak pernah berakhir.

 

Bandung, 15 November 2017