Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

OMB (Orang Miskin Baru)

12 Oktober 2017   21:15 Diperbarui: 12 Oktober 2017   21:19 4274 12 4
OMB (Orang Miskin Baru)
Ilustrasi: barbarism.net

Nasib kaum kelas bawah selalu menjadi bahan dagangan saat pemilihan umum sepanjang sejarah manusia. Politisi mengatakan bahwa menghapuskan kemiskinan adalah tanggung jawab kita kepada orang miskin. Tapi kita semua tahu, jangan pernah percaya sepatahpun kata yang keluar dari mulut mereka.

Zaman telah berubah.

Suara dari permukiman kumuh bukan lagi keluh kesah. Jerit lapar, tangis dukacita, suara pertengkaran, api yang membakar sampah dirubung tungau, semuanya telah hilang. Mereka yang melarat tidak lagi membeku kedinginan atau merintih kelaparan.

Aku mendengarnya setiap hari dalam perjalanan pulang dari kerja. Dari bawah jembatan baja dan beton sempit yang menjadi jalan pintasku mengejar komuter pukul 20:39. Itulah sebabnya mengapa hanya sedikit penumpang yang mengambil rute ini, meskipun merupakan stasiun ini merupakan stasiun terdekat dari persimpangan lalu lintas pejalan kaki di Manggarai.

Kebisingan yang berasal dari bawah. Meski selama ini aku tidak dapat melihat mereka, namun aku bisa mendengarnya.

Suara berisik, bunyi derit tungkai atau antena logam menggores baja dan beton. Kabarnya tidak semua bagian bawah terbuat dari semen dan besi, namun suara-suara yang naik ke permukaan tidak menunjukkan adanya material lain. Kadang-kadang saya mendengar bunyi gelombang statis yang rendah, puluhan dari mereka bergerak sekaligus, berkeliaran tanpa tujuan dan tanpa harapan, tanpa daya atau tenaga. Terkadang aku melihat satu-dua sorot lampu redup, yang bisa mengikuti gerakan meluncurnya yang menyedihkan saat mengembara dari stopkontak ke stopkontak, kabel membentang terseret-seret, mendongkrak limbah untuk mencari onderdil yang bisa digunakan atau menyedot catu daya yang tersisa.

Beberapa kelompok aktivis mengklaim bahwa meninggalkan mereka adalah perbuatan kejam. Kita harus merawat kreasi kita atau setidaknya menghancurkannya ketika telah sampai masa kedaluwarsa. Namun pemerintah kota mengatakan tidak punya anggaran untuk itu.

Jadi, tidak ada orang yang memperhatikan kelompok kaum pinggiran itu. Berunjuk rasa memprotes kekejaman terhadap makhluk hidup hal yang lumrah, tapi membela mesin? Bahkan kaum proletar liberal pun menganggap hal itu berlebihan.

Aku sendiri hanya seorang pekerja kantoran biasa. Meski aku tak peduli dengan semua omong kosong di pamflet para aktivis, tapi aku pikir ada sesuatu yang harus dilakukan mengenai hal-hal itu.

Aku tahu pemerintah mengatakan sudah terlambat. Bahwa akan menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang untuk menghancurkan atau mendaur ulang semua robot dan mesin yang berkeliaran di bawah sana. Tapi, semakin hari keadaan hanya semakin memburuk.

Kebanyakan orang tidak pernah mendengar suara-suara itu. Bahkan jika kamu menyeberang jembatan baja di koridor utama Manggarai, kamu belum tentu akan mendengar mereka. Mereka semua terisolasi, diperlukan telinga yang tajam untuk menangkap keluh kesah mesin-mesin yang terbuang. Dan sialnya, saat kereta terlambat, dering menyedihkan dari bawah sana membuat bulu kudukku berdiri.

Nasib kelas bawah telah menjadi platform dagangan pemilihan ulang sejak buku-buku sejarah dicetak. Namun waktu telah berubah. Politisi mengatakan bahwa mengalahkan kemiskinan adalah tanggung jawab kita semua.

 Tapi antara kau dan aku? Suatu saat mereka akan bangkit melawan kita.


Bandung, 12 Oktober 2017