Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Tembang Bocah Udik (3)

8 September 2017   03:14 Diperbarui: 8 September 2017   14:29 3098 11 4
Tembang Bocah Udik (3)
Ilustrasi: www.lsu.edu

Sebelumnya....

"Dia dua tahun lebih tua darimu," bisik Maulina sebelum anaknya tiba.

Ranto tamat SMA tapi masih belum tahu hendak jadi apa. Sebenarnya Maulina ingin anaknya kuliah ke perguruan tinggi, tapi ayahnya menghendaki dia jadi montir mobil seperti dirinya.

Aku dan Ranto meninggalkan rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Panggil aku 'Retak'," katanya sambil memberikan senyuman paling hangat yang pernah kulihat. Tingginya lebih dari 180 sentimeter dengan bobot 110 kilogram. Rambutnya kaku bergelombang, merah tembaga terbakar matahari. Matanya yang biru lazuli berkilauan memancarkan kegembiraan. Sisa wajahnya babak belur.

Kami berjabat tangan, atau lebih tepatnya, dia menggenggam tanganku dan mencoba untuk tidak meremukkan tulang-tulang jariku dengan cengkeramannya yang sekeras tang.

Semasa SMA, Retak juara tinju amatir sekabupaten. Gelaran 'Retak' didapatnya karena lawan-lawannya selalu meninggalkan ring dengan minimal satu tulang retak. Kini tujuannya adalah menjadi juara tinju amatir kelas berat nasional, dan dengan terus terang dia berharap aku bisa membantunya mencapai cita-citanya itu.

"Aku benci berlumuran oli," kata Retak setelah menceritakan tentang olahraganya: "Aku lebih baik mati daripada hidup seperti bapakku."

Kami berjalan beriringan, yang mungkin terlihat aneh bagi orang lain. Dua anak yang tidak mempunyai kesamaan fisik atau intelektual, tapi langsung akrab meski kami tidak memiliki gagasan yang jelas mengapa.

***

Maryam dan Nuriah juga bersahabat karib. Meskipun mereka penduduk asli, namun pada dasarnya mereka juga merupakan pengungsi, pelarian dari tekanan orang tua dan pemberontak berdasarkan nilai-nilai gagasan baru yang lahir bersamaan dengan perusahaan minyak asing dan polisi brimob yang dikrim dari luar daerah untuk mengatasi konflik. Kejenuhan yang dirasakan oleh hampir setiap remaja kampung.

Invasi terhadap nilai-nilai adat yang masih dipegang teguh para tetua itu tidak terang-terangan muncul di permukaan. Pil pencegah kehamilan dan kondom menjadi benteng pelindung maksiat di bawah permukaan, apapun tujuan awalnya.

Dan akhirnya, sebuah persekutuan antara dua pria remaja dan sepasang gadis sebaya menjadi tak terelakkan. Bahwa kita harus bersatu, meski tanpa ada dasar yang jelas.

Maryam sangat kurus dan putih pcat dengan rambut hitam panjang dan lurus. Dia selalu membuat para pria berhenti dan menatap. Caranya berjalan yang begitu lemah lembut sehingga jika jatuh tersandung akan peah berkeping-keping membuat cowok-cowok merasa harus menjadi ksatria berkuda pelindung putri. Aku membayangkan dia menari di telapak tangan Retak seperti dalam dongeng tentang raksasa dan peri labu.

Nuriah memandang dirinya sendiri, atau mungkin seperti sekarang aku melihatnya, sebagai pelacur. Dia adalah yang pertama bagiku. Dan meskipun dia mengaku hilang keperawanannya bersamaku dan bahwa dia mencintaiku, aku tidak tahu atau peduli apakah itu yang sebenarnya.

Pokoknya, saat aku menyelinap keluar dari rumah dengan meloncat dari jendela menuju pondok beratap jerami di belakang kebun ayah Nuriah, Retak dan Maryam sudah duluan berada di sana. Dia berbisik bahwa dia berhasil melepaskan bra Maryam.

Aku berbohong bahwa aku dan Nuriah belum sampai ke tahap itu.

Tak lama kemudian, dia mengetahui hal sebenarnya.

Aku telah memutuskan untuk membantu ayahku yang karena frustrasi memutuskan untuk menikmati pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai.

Kami menyalakan api unggun di pojok kebun. Retak duduk di pagar. Ada memar di wajahnya, sisa latihan di sasana markas artileri pertahanan udara tak jauh dari tambang gas bumi.

"Maryam akan datang untuk menonton pertandinganku minggu depan," katanya padaku.

"Bagus," kataku sambil melempar setumpuk koran dan majalah ke dalam api. Aku mencoba untuk tidak memperhatikan tubuh gadis telanjang berkerut sebelum menjadi abu di majalah khusus lelaki yang menggantikan bacaan sastra ayah sejak ibu jarang pulang. Ayah menyembunyikannya di atas lemari kamar dan aku cukup ahli menemukan apa yang tersembunyi.

Retak hendak menantang juara provinsi kelas berat super atau semacam itu. Aku tak pernah tertarik dengan olahraga yang mengandung unsur kekerasan dan tidak pernah berharap untuk menontonnya secara langsung.

"Menurutmu," tanya Ranto tersipu-sipu malu, "Maryam atau Nuriah kelak akan setia jika kita menikah dengan mereka?"

"Ranto," aku menjawab dengan tak sabar. "Aku takkan menikahi Nuriah, meski dia berjanji untuk tetap setia sampai dunia kiamat--- "

Kata-kata yang kuucapkan dengan nada tinggi terhenti oleh teriakan nada tinggi lain dari balik pagar kebun.

"Kalian tidak punya hak untuk menyalakan api di sekitar sini," suara itu menjerit, sebelum pintu pagar terbuka dan pemilik suara masuk tanpa disuruh.

"Istriku asmanya kumat, dan kami harus menutup jendela supaya asap tak masuk."

Orang tua itu bernama Semaun yang tinggal di pondok tak jauh dari kami. Gubuknya mirip dengan apa yang mungkin biasa kita lihat di buku gambar anak sekolah: jalan tanah yang lengang dan gerombolan pohon bambu, kecuali di situ kita akan menemukan anjingnya yang menggonggong tak henti-henti dan istrinya yang selalu kelihatan gugup.

"Jak pap leumo," ucapku pelan menyiram bensin ke dalam api.

"Aku dengar itu!" teriaknya. 

"Aku dengar itu, anak muda! Sebelum kehadiran kalian pendatang, di sekitar sini damai dan tenteram. Kalian telah merusak segalanya. Dan jangan mengira aku tidak melihat kau setiap malam menyelinap keluar! Aku tahu ke mana kau pergi, Nak! Aku akan menceritakan kepada ayah pelacur itu tentang apa yang kalian lakukan."

Retak turun dari pagar dan bayangannya berkelebat terbang ke arah pria itu. Aku bisa merasakan melihat wajah ayahku di jendela yang terbuka, saat pukulan dan caci maki susul menyusul dalam kepungan asap api unggun.

"Kamu takkan mengira orang tua bisa memberi perlawanan seru."

Retak berdiri di sampingku. Kami berdua menatap sosok tubuh yang sedang terbakar dalam api yang menyala.


BERSAMBUNG

Jakarta Barat, 8 September 2017

*jak pap leumo: caci maki dalam bahasa Aceh