Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Orang Pintar Tahu Segalanya (1)

27 Agustus 2017   21:28 Diperbarui: 27 Agustus 2017   21:44 5253 12 5
Orang Pintar Tahu Segalanya (1)
Ilustrasi: pinterest.com

Hujan turun dengan lebatnya saat Syehrazat dilahirkan ke muka bumi. Ia lahir pada hari pekan di desa kecil pedalaman Muara Siau, setelah hujan deras dua hari berturut-turut menenggelamkan badan jalan. Tak ada kendaraan yang lewat untuk mengantarkan Maryam ke rumah sakit atau puskesmas di kota. Tetangga Maryam, Halimah, tak punya pilihan lain selain membawanya ke dukun beranak yang berjarak lima menit jalan kaki dari rumah Maryam.

"Ini budak sepesial," adalah kalimat yang diucapkan dukun perempuan tua saat dia menyentuh perut Maryam. Liur berwarna merah muncrat menciprati baju kaus longgar Maryam dari bibirnya yang mengunyah sirih, sebelum akhirnya dia meludah ke dalam tempolong batok kelapa di samping dipan di mana Maryam berbaring dengan napas memburu tersengal-sengal.

"Bayimu tidak akan lahir sekarang; Dia akan keluar kalau dia sudah siap."

Begitulah. Setelah setengah jam Maryam mengerang-ngerang mulas, nyeri di perutnya berhenti dengan sendirinya dan ia pulang dalam derasnya hujan ke rumah.

Malam itu dia menceritakan kejadian tersebut kepada suaminya.

Udin adalah seorang petani yang menanam ubi jalar dan singkong di kebun keluarga sekitar dua puluh kilometer dari rumah mereka.

Dia adalah seorang pekerja keras dan hasil kebunnya pasti cukup, seandainya dia dan Maryam tidak memiliki tujuh orang anak yang harus diberi makan, termasuk kedua orang tuanya yang terlalu tua untuk ikut mengolah kebun. Hasil kebunnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka semua selama setengah tahun saja.

"Sepesial?" Udin mendengus keras sehingga bulu hidungnya menjulur keluar, selembar melayang lebih jauh bagai balon yang sedang ditiup kemudian dibiarkan lepas terbang.

"Yang sepesial dari anak-anak kita makanan yang mereka habiskan. "

Dia menggaruk-garuk bekas koreng di pahanya dan menguap, sama sekali  tak tertarik dengan apa yang dikatakan Maryam.

"Apa untuk makan malam?"

Maryam menunjuk meja makan. Nasi yang kekuning-kuningan dan daun singkong rebus, sambal terasi dalam cobek. Tanpa banyak cakap, Udin menyendok nasi ke piring dan makan dalam senyap, hanya sesekali terdengar bibirnya mengecap kepedasan.

Nyeri perut Maryam berlanjut keesokan harinya yang merupakan hari pekan di Muara Siau. Suami Maryam pagi buta telah pergi ke kebun meski hujan belum reda juga dari dua hari lalu. Dia harus bersepeda selama sejam untuk sampai ke kebun, jadi dia lebih suka berangkat sebelum fajar menyingsing. Dengan demikian dia dapat melaksanakan sebagian tugasnya sebelum panas surya menjadi terlalu ceria sehingga membakar punggungnya.

Sambil menahan sakit yang melilit, Maryam sampai di tempat dukun beranak. Dia disambut gadis muda murid sang dukun, dan Maryam memberi tahunya bahwa si bayi sudah siap untuk dilahirkan. Gadis itu memapahnya ke ruang bersalin.

Di sana, gadis magang itu mulai menggumamkan mantra dan mengoleskan ramuan pada perut buncit Maryam. Dia terus membaca mantra meski Maryam telah berhasil mendorong kepala bayinya keluar di sela-sela pahanya.

Awalnya, Syehrazat tidak menangis.

Gadis magang itu menepuk pantat si bayi. Dia menepuknya dengan sangat keras sehingga sidik jarinya membekas dengan jelas di bagian belakang bayi, namun tetap saja sang bayi tak bersuara.

Gadis magang itu berteriak dan gurunya, si dukun beranak, tergopoh-gopoh masuk. Dia menaburkan bubuk merica ke udara. Syehrazat bersin berkali-kali sebalum menangis dengan kerasnya.

Seorang bayi yang kecil. Mungil dalam arti harfiah mirip boneka plastik yang dijual Sarkim tukang kredit keliling dari Tebo. Maryam jadi sadar mengapa para perawat RSIA di kota menolak untuk mempercayainya saat dia melaporkan bahwa kehamilannya sudah lebih dari sembilan bulan.

"Aku sudah pernah tujuh kali melahirkan," katanya, menunjukan lima jari tangan kiri ditambah telunjuk dan jari tengah tangan kanannya saat mencoba meyakinkan perawat yang memeriksanya.

"Aku bukan orang bodoh yang tak pandai menghitung hari. Ini sudah hampir sepuluh bulan."

"Itu tidak mungkin, ibu Maryam," jawab seorang asisten perawat yang lagaknya melebihi perawat kepala. Tatapan matanya yang sinis membuat Maryam ingin mencongkel keluar kedua mata tersebut. Caranya menatap bagai menuduh Maryam adalah orang gila yang melarikan diri dari pasungan dan kini telanjang bulat berkeliaran di jalan raya antar kabupaten.

Maryam memperhatikan dari waktu ke waktu kaki dan tangan Syehrazat membengkak. Tak satu pun kakak-kakaknya mengalami hal seperti itu. Juga dia atau suaminya.

Ketika bengkaknya semakin menjadi-jadi, Maryam membawa Syehrazat ke toko obat Darmuji milik saudara Sarkim. Tapi yang dia berikan hanyalah suplemen penambah darah dan sirup multivitamin.

"Tidak mungkin delapan anakmu sama semua," goda lelaki itu, yang membuat Maryam membelalak salah mengartikan canda tersebut.

"Wajar kok, ibu mengkhawatirkan anaknya. Bawa dia pulang dan beri dia makanan yang bergizi. Bengkaknya akan hilang dengan sendirinya," buru-buru Darmuji bicara sebelum murka Maryam meledak.

Maka ketika saat suatu pagi bengkak kaki dan tangan Syehrazat tiga kali dari ukuran normal dan dia tak henti-henti menangis, Maryam menggendongnya dalam ikatan kain batik panjang dan pergi ke Teluk Sikumbang menumpang motor ojek untuk menemui si Orang Pintar.

Kian Wesi Waja Ireng sangat termasyhur karena kemampuan supranaturalnya.


BERSAMBUNG

Bandung, 27 Agustus 2017