Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight headline

Bagaimana Mati dengan Bertanggung Jawab

13 Agustus 2017   22:35 Diperbarui: 15 Agustus 2017   12:57 3313 21 9
Bagaimana Mati dengan Bertanggung Jawab
Liustrasi: www.linkedin.com

"Pak, sudah sampai. Apakah Bapak akan keluar?" tanya sopir taksi. Pertanyaan bagus. Relevan, normal, wajar dan tak terhindarkan...

Beginilah kenyataan, pikirku sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

"Beri aku waktu sebentar saja. Aku akan membayar lebih."

Melirik rumah gaya Spanyol dinding bata putih yang sudah terlalu tua itu. Rumahku.

Rumahku.

Bahkan aku tak bisa menyebutkannya. Bahkan aku tak mampu menyatakannya secara wajar. Kata itu remuk di ujung lidah, meleleh panas dan menguap tanpa bunyi, bagai minuman bersoda dibiarkan mengembun di teras depan semalaman, tutupnya dibiarkan terbuka. Hambar.

"Ada apa?" tanya sopir. Namanya Junaidi. Selama empat puluh lima menit berkendara dari Bandara Sultan Iskandar Muda ke rumahku di Geuceu Kaye Jato, aku telah mengetahui riwayat hidupnya melebihi kisahku sendiri.

Aku mengetahui bahwa dia memiliki empat putri dari dua istri. Sebelum menjadi sopir taksi, dia adalah seorang petarung bebas profesional.

 "Sampai kemudian tangan saya mulai gemetar dan tempurung lutut saya yang retak membuat saya harus menerima kenyataan bahwa saya tak mungkin bertarung lagi. Bapak punya namak perempuan? Bisa Bapak bayangkan bagaimana perasaan mereka melihat wajah saya lebam dari minggu ke minggu?"

Satu hal yang dia sukai adalah membawa orang dari satu titik ke tempat lain dengan yang aman.

Di sinilah dia, menatapku seolah kami sudah berteman baik bertahun-tahun lamanya.

"Ada apa, teman?" ia bertanya dengan nada khawatir. Sementara sebutan Bapak terlupakan.

Aku membuang muka ke jendela dan menghela napas panjang. Kelebat kilas balik masa lalu memudar dari layar maya di benakku.

"Sudah lima tahun aku belum pernah pulang."

"Ini rumah Bapak atau rumah orang tua Bapak?"

"Ya." Biar dia mengartikan jawabanku yang ambigu.

"Tapi selama ini , Anda selalu mengontak mereka, bukan? Bukan masalah besar jika Bapak selalu menghubungi mereka."

"Tidak."

"Surat? Menitip kabar kepada mereka yang berkunjung ke kota ini?"

Aku menggelengkan kepala dan menatap rumah yang tempatku hidup dan tumbuh semasa kecil. Ayah pasti sudah memasang gembok tambahan di pintu pagar besi. Jalan setapak dari rumput mati menguning di taman depan. Satu set ayunan berkarat lama tak tersentuh, dan aku menduga yang kehijauan itu adalah lumut yang mencoba menguasai seluruh kebun.

Mereka bahkan tidak tahu aku di sini. Selama lima tahun aku mengembara dari kota ke kota menciptakan ilusi jati diri, belajar dan mengajar berburu kalimat sakti yang memisahkan air laut menjadi sesuatu yang dapat diminum dan menggerakkan kapal selam nuklir. Mencoba berada di beberapa tempat sekaligu tak berada di manapun. Aku menatap matahari terbenam bersama suku nelayan terasing hingga badai datang, duduk di geladak perahu mengagumi permainan kromakey warna langit. Aku bahkan jatuh cinta pada seorang gadis bernama Ragealla, yang mengajariku bahasa kasih sayang dan perasaan. Namun, terlepas dari segala daya upaya....

"Apa yang akan Bapak katakan pada mereka?" tanya Junaidi.

"Ada saran?"

"Uhm ... baiklah. Jika salah satu putri saya tidak mau berbicara dengan saya selama lima tahun, saya akan memarahinya sampai ia menangis tersedu-sedu dan muntah-muntah memohon ampunan saya."

Aku tersenyum tulus. Sebagian diriku menginginkan reaksi itu. Inilah bagian yang aku bayangkan, sejak lulus kuliah. Aku ingin masuk ke dalam rumah dan membiarkan orang tuaku mengatakan bahwa mereka menyesal telah memberikan api neraka yang berkobar dalam diriku. Aku ingin mendengar mereka berkata:

"Apa yang kamu rasakan sekarang tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan apa yang kamu lalui saat bersama kami!"

Junaidi menghabiskan kopi dari tumbler dan berdeham. Aku tahu dia gelisah.

"Kenapa Bapak kembali lagi?"

Aku menggigil terus dan terus. Cuaca di luar panas. Sebuah pertempuran berkecamuk di dalam dirikuAku ingin berteriak bahwa hidupku berada di titik akhri dan semua yang aku butuhkan tak jelas lagi. Aku ingin mempercayai pencarian, perburuan, petualangan, cita-cita. Namun entah di titik mana, warna mereka berubah kelabu.

"Aku tak bisa tidur pada malam hari," kataku pada Junaidi.

"Jika aku bermimpi, maka aku terus melihat Ibu dan Ayah, dan mereka menangis. Dan aku tidak bisa, kau tahu---aku tak bisa. "

Junaidi mengangguk mahfum. Dia kembali berdeham, menyeka tetes kopi bibirnya, lalu kembali mengangguk.

"Rasa bersalah..." katanya lembut.

Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah orangtuaku. Sesuatu bergejolak di jiwaku. Aku melihat Junaidi menekan bel pintu. Kunci mobil ditinggal di lobangnya.

Kenangan kembali datang meledak-ledak bagai guntur sambung bersambung, bagai perahu nelayan yang terperangkap dalam badai, atau berbincang dengan kekasih dalam bahasa yang sama sekali tidak kamu mengerti.

Aku melompat ke kursi depan dan membuka jendela di sisi sopir.

"Katakan bahwa aku mencintai mereka!" teriakku

Lalu dengan satu hentakan memindahkan persneling dan menginjak pedal gas sekuatnya, memekikkan lengking roda berdecit menggesek aspal jalan yang pernah menjadi tempat kubermain semasa kecil, saat aku mengira bahwa aku akan hidup selamanya.

 

Bandung, 13 Agustus 2017