Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Writer. Editor. Poet. Space dreamer. https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sore yang Cerah di Serpong

7 Agustus 2017   23:10 Diperbarui: 9 Agustus 2017   00:09 1910 9 3
Sore yang Cerah di Serpong
Ilustrasi: www.thestar.com

"Hari yang indah, bukan?" sapa gadis itu sambil tersenyum lebar. Waluyo menatap cuaca sore yang cerah. Tidak biasa bagi Serpong yang suram, bahkan di awal bulan Juli. Dia memutuskan untuk langsung ke intinya.

"Omong kosong apa ini tentang mengundurkan diri?"

Ia duduk di meja di seberang wanita muda yang cantik itu, memberi tanda pada pelayan agar segera mengantarkan teh tawar hangat pesanannya. Orang-orang yang baru pulang kerja meninggalkan komplek perkantoran berputar-putar dan mengalir di luar pagar besi teras kafe kecil itu.

Gadis itu mendesah.

"Jadi, sekarang sudah bisa galak, Dr. Waluyo? Atau saya harus memanggil Anda Pak Menteri? Selamat atas jabatan baru."

Waluyo mengendurkan otot wajahnya yang tegang.

"Belum ada pemberitahuan resmi sampai resuffle kabinet minggu depan, Dr. Ningrum. Dan jangan mengubah pokok pembicaraan. Mengapa saya harus kehilangan fisikawan nuklir teoritis saya yang paling pintar?"

Gadis itu menyesap kopinya.

"Karena saya sudah bosan dengan birokrasi dan ingin menikmati waktu saya yang tersisa, menulis fiksi ilmiah, misalnya. Tapi bukan itu sebabnya saya meminta Anda menemui saya di sini."

Waluyo bingung. "Sisa waktu? Ningrum, Apakah kamu---"

"Saya tidak sakit, kalau itu yang mau Anda tanyakan, Doktor."

Ningrum mencondongkan tubuh ke depan, melipat tangannya di atas meja.

"Saya justru khawatir melihat jiwa Anda terancam oleh proyek ini, Dok. Sejak saya masih menjadi mahasiswa bimbingan Anda di di Teknik Nuklir UGM, Anda bagaikan ayah saya. Proyek ini akan membuat Anda tersingkir."

"Oh, omong kosong, Ningrum," Waluyo mencoba menertawakan kekhawatiran wanita muda itu. "Saya adalah pimpinan proyek sains terbesar yang pernah ada. Memang sedikit melelahkan, tapi kesehatan saya prima."

"Sudahkah Anda memberi tahu Dewan tentang unit pendingin yang retak?"

"Apa?"

Mata Waluyo menyipit. "Bagaimana kamu tahu tentang itu?"

"Sebetulnya saya tidak tahu, Dok. Sampai Anda memberi tahu saya barusan."

Ningrum bersandar di kursinya dan menyesap kopinya perlahan.

Waluyo menatap tajam rekan kerja mantan mahasiswinya itu, dan kemudian ujung bibirnya membentuk senyum ceria.

"Sedikit kemunduran karena nasib sial, tapi kita sudah---"

"Kejadian burung pipit itu kapan? Bulan Maret lalu?"

Senyum di bibir Waluyo menghilang berganti cemberut dengan keasaman tinggi.

"Ya, ya---seperti berita utama jaringan televisi Bumi Hijau, Seekor burung menjatuhkan kotorannya ke dalam kapasitor---"

"Dan meledakkan unit pendingin, menaikkan suhu di atas tingkat superkonduktor. Membuat proyek senilai empat triliun dihentikan sementara dan kereta hyperloop berhenti beroperasi selama enam hari. Aneh, bukan?"

Senyum Ningrum mempesona di antara kemilau berkas sinar mentari sore dari balik atap stasiun Hyperloop One Serpong - Babarsari.

"Ya Tuhan," seru Waluyo tiba-tiba. "Kamu mulai percaya omong kosong si gila Mahiwal!"

"Dr. Nuklim Mahiwal adalah seorang ilmuwan di Abdul Salam ICTP, Dok. Sedikit eksentrik, tapi tidak gila," balas Ningrum dengan suara pelan.

"Teorinya tak punya dasar. Riak dari masa depan mematikan VLHC? Perjalanan waktu?"

"Rumus yang ditemukannya bersama Dr. Cecilia tidak ada yang mampu membantah, Dok."

"Aku ingin lebih jelas lagi. Kamu percaya bahwa suatu saat di masa depan, kita berhasil menemukan Higgs-boson. Karena Tuhan, atau alam semesta, atau alien dari dimensi ke-5 tidak ingin kita menemukan 'Partikel Tuhan', maka penemuan partikel itu digunakan untuk berjalan mundur dalam waktu dan melumpuhkan VLHC hari ini."

Dia mendengus. " Paradoks Perjalanan Waktu paling gila yang pernah kudengar!"

"Jangan," kata Ningrum.

Waluyo terpaku.

"Apa?"

"Jangan," ulangnya.

"Jangan mengolok-olok fisikawan gila yang bersemedi di dalam dunianya sendiri? Ahli teori sialan itu!"

Ningrum menggeleng.

"Anda salah paham."

Dia makin mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala-nyala oleh emosi. Bukan sifatnya.

"Saya telah banyak membaca karya Mahiwal, dan saya telah menemukan algoritma yang disusunnya sungguh pemikiran seorang jenius."

Waluyo mengerutkan jidatnya. Kemampuan matematis Ningrum tidak ada bandingannya di kalangan fisikawan nuklir, atau bahkan di seluruh bidang profesi. Tapi ini---

"Mungkin masa depan---saya tahu saya orang yang paling skeptis dan paling sulit menerima hal ini. Mungkin karena itulah saya yang dipilih."

"Dipilih?"

Tenggorokan Waluyo mendadak kering. "Dipilih kenapa?"

Tatapan Ningrum menerawang jauh ke arah stasiun Hyperloop One yang diintegrasikan dengan VLHC.

"Saya pulang tadi malam dari laboratorium," jawab Ningrum, "dan mendapatkan komputer saya mati. Tepatnya dimatikan."

"....begitu?"

"Paginya saya menjalankan analisis diagram Feynman sebelum berangkat kerja. Sesuatu telah mematikannya. Saya hidupkan kembali, dan menyala dengan baik. Bahkan gambar latarnya masih sama. Tapi ... "

Suaranya ragu-ragu.

"Tapi?"

"Semua data 8 Terabyte di harddisk saya sudah dihapus bersih."

"Drive itu kosong?"

"Tidak sepenuhnya kosong, tidak. Ada pesan yang ditinggalkan."

"Sebuah pesan? Apa? Dari siapa?" Waluyo bertanya.

Ningrum berdiri tiba-tiba, membungkukkan tubuhnya. Dia mencium Waluyo dengan lembut di pipi, lalu memasang kacamata hitamnya.

"Saya bisa melihat di mata Anda bahwa saya tidak akan pernah bisa meyakinkan Anda, Dok. Baiklah, saya harus pergi. Jaga diri Anda baik-baik. Anda tahu alamat surel saya."

"Ningrum, tunggu! Apa pesannya?"

"Jangan," katanya.

"Hanya ... 'Jangan'. Satu kata, enam huruf yang ditulis berulang kali di hard drive saya dalam format Open Data. Pintu dan jendela terkunci rapat, sistem keamanan masih menyala, komputer saya tidak terkoneksi dengan internet. Seseorang berjalan mundur dalam waktu, menghapus hard drive saya dan mengisinya dengan satu kata: 'Jangan'."

Kembali Ningrum tersenyum dan kemudian dia melangkah pergi untuk menghilang di tengah kerumunan.

Waluyo menatap kosong ke arah trotoar tempat orang berlalu lalang, seakan menanti kedatangan malaikat maut.

Lalu ia meneguk tehnya sampai tandas.

 

Bandung, 7 Agustus 2017

Catatan:

  • VLHC: Very Long Hadron Collider, mesin khayalan penulis untuk mempercepat akselerasi partikel. Dalam kisah ini, mesin tersebut terintegrasi dengan 'tabung' kereta hyperloop (kereta dengan kecepatan melebihi suara, kereta konsepteual pemikiran Elon Musk) dari Serpong ke Babarsari, Yogyakarta.
  • Abdul Salam ICTP (International Centre for Theoretical Physics): Lembaga Internasional untuk Fisika dan Matematika dibawah Unesco, IAEA dan pemerintah Italia. Terletak di kota Trieste, Italia.
  • Higgs-boson: partikel dasar masif hipotetis yang diperkirakan ada sesuai Model Standar (MS) fisika partikel. Keberadaannya diyakini sebagai tanda-tanda penyelesaian atas sejumlah inkonsistensi pada Model Standar. Eksperimen untuk menemukan partikel ini sedang dilakukan dengan menggunakan Large Hadron Collider (LHC) di CERN, serta di Tevatron Fermilab sampai Tevatron ditutup pada akhir 2011.