Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Belajar dari Alquran Bagaimana Menerima Sebuah Berita

29 Mei 2019   02:13 Diperbarui: 29 Mei 2019   03:03 0 0 0 Mohon Tunggu...

Maraknya hoaks yang beredar di kalangan masyarkat kita belakangan, terutama melalui media sosial, tentu saja membuat banyak orang resah. Mungkin bagi orang yang biasa mengkroscek suatu berita atau biasa melihat sesuatu secara kritis baginya tidak ada masalah. Tapi mungkin bagi orang-orang mungkin tidak biasa bertindak seperti itu akan lain cerita. 

Saya sering mendapati misalnya orang-orang di desa saya, melalui Hp memperoleh berbegai kabar/berita dari media sosial, namun banyak dari mereka asal terima saja, tanpa bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang hoaks. Jangankan orang-orang di desa saya yang kebanyakan awam dalam menerima sebuah berita, ibu mertua saya saja yang kebetulan seorang PNS di sebuah kantor Kementrian Agama tak jarang ketika mendapati sebuah berita yang janggal, beliau bertanya. Kok ada berita begini, ini benar apa ndak.

Kita bisa belajar dari Al-Qur'an bagaimana menyikapi sebuah berita yang sampai ke kita. Ada sebuah ayat Al-Qur'an "Idza ja'akum fasiqun binaba'in fatabayyanuu", kira-kira terjemah kasarnya "Jika telah datang seorang fasiq kepadamu dengan membawa sebuah kabar/berita, maka tabayunkanlah terlebih dahulu". Yang dimasud dengan "fasiqun" atau orang fasiq adalah orang yang sering berbuat dosa, baik dosa kecil atau dosa besar.

Jika dipahami menggunakan kaedah "al-ibrah bi umumil lafdzi, laa bi khususi as-sabab", "pelajaran atau makna dari suatu ayat itu dilihat dari keumuman lafadz atau redaksinya, bukan dari sebab khusus yang melatarinya", ayat di atas berlaku umum. Artinya jika kita mendapati sebuah berita/kabar dari seseorang dari grup, dari sebuah media dan lain sebagainya, harus kita kroscek dulu kebenarannya. Apakah berita yang disampaikan itu benar atau tidak, jika terkait dengan orang atau pihak lain misalnya ya harus kita konfirmasi ke yang bersangkutan.

Diceritakan dalam sebuah tafsir ayat "alladzi yakhrujul khob'a fis samaawaati wal ard. Waya'alamu maa yusirruuna wamaa yu'linuun sampai ayat sanandzuru ashodaqta am kunta minal kaadzibiin (Qs. An-Naml)" , bahwa ketika Nabi Sulayman didatangi oleh burung Hud-hud yang membawa sebuah kabar tentang adanya suatu kerajaan besar (yang belum diketahui oleh Sulayman) yang dipimpin oleh seorang perempuan, Nabi Sulayman tidak lantas menerimanya. Sumbernya hanya tunggal, yaitu burung Hud-hud. 

Apalagi sebelumnya Hud-hud telah melanggar perintah dari Sulayman. Ketika dalam perjalanan Sulayman bersama rombongan (terdiri dari manusia, jin, hewan melata, serangga, burung dan lain sebagainya) berhenti di suatu daerah, mereka tidak mendapati air. Padahal sudah waktunya shalat dan Sulayman ingin segera melaksanakannya. Tapi Hud-hud yang diperintahkan hanya untuk mencari sumber air, malah justru lama tidak kembali. 

Hud-hud justru asyik dengan temuannya: sebuah kerajaan besar dengan seorang perempuan bernama Bilqis sebagai ratunya. Ia justru asyik melihat/mengamati dan menggali informasi tentang kerajaan tersebut, sampai melupakan tugas utama yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia kembali, dan sebetulnya nabi Sulayman marah kepadanya. 

Namun hanya karena ia kemudian memberikan kabar penting, nabi Sulayman menahan diri dan tidak jadi menghukumnya. Tapi Nabi Sulayman juga tidak lantas mempercayai apa yang disampaikannya sampai kemudian beliau menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada ratu tersebut dan meminta Hud-hud untuk menyampaikannya (lihat Tafsir Maroh Labid, jilid 2).

Dalam Islam kita bisa belajar dari ilmu hadis bagaimana menerima sebuah berita. Dalam ilmu hadis ada yang namanya naqdul hadist atau kritik hadis. Kritik hadis secara sederhana bisa dikatakan sebagai metode atau upaya untuk bagaimana membedakan sebuah riwayat, apakah sahih dan akan diterima atau sebaliknya.

Kritik hadis sendiri secara umum terbagi menjadi dua tahapan atau proses. Yaitu naqdul rawi/naqdul rijal atau kritik sumber atau periwayat dan yang kedua adalah naqdul matn atau kritik isi/redaksinya. Kritik sumber/periwayat berbicara tentang bagaimana kualitas orang yang meriwayatkan/atau menyampaikan sebuah berita. Apakah dia orang yang terpercaya (tsiqqoh), kuat hafalannya, atau justru dia seorang pembohong (kadzzab) atau pernah tertuduh berbohong. 

Kalau periwayatnya terpercaya sebuah riwayat bisa diterima, dan kalau periwayatnya orangnya tidak jujur beritanya tentu tidak diterima. Namun tidak berhenti di situ jika perawinya diterima, tapi dilanjutkan dengan tahap selanjutnya. Bagaimana sekarang isinya. Apakah isinya bertentangan dengan Al-Qur'an atau tidak, bertentangan dengan ajaran Islam yang pokok atau tidak, bertentangan dengan fakta atau tidak dan lain sebagainya. Itu ilmu hadis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2