Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Sebuah Surat untuk Pak Amien Rais

23 Mei 2019   16:15 Diperbarui: 23 Mei 2019   21:13 0 12 14 Mohon Tunggu...

Setelah pemilu 17 April yang lalu saya sudah sebetulnya sudah tidak ingin berbicara tentang kondisi politik di negara kita. Apalagi ini di bulan puasa (dalam bahasa Arab berasal dari kata siyam atau shaum) yang secara bahasa menahan diri. Seperti yang dikatakan dalam Al-Qur'an Inni nadzartu lirrahmani shouma. Inti dari berpuasa adalah menahan diri, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. 

Tapi juga menahan diri dari hawa nafsu, dari berbicara yang tidak perlu, rerasan apalagi menebar kebohongan, fitnah, apalagi adu domba. Tapi melihat kondisi politik belakangan saya merasa ingin menuliskan sesuatu. Tulisan ini mungkin mewakili hati nurani saya sebagai seorang rakyat biasa yang menginginkan kedamaian dan ketentraman di negeri ini. Mungkin juga mewakili hati nurani sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pak Amin Rais yang saya hormati dulu saya adalah salah seorang pengagum bapak. Bahkan dulu di tahun-tahun ketika terjadi reformasi yang anda pimpin bersama beberapa tokoh seperti Gus Dur, Cak Nur, Megawati, Cak Nun dan beberapa tokoh lain, saya begitu mengagumi anda sebagai seorang intelektual yangmendorong perubahan mendasar untuk bangsa dan negaranya. 

Saya bahkan ketika itu sempat punya cita-cita ketika kelak ketika kuliah nanti saya berbicata-cita kelak akan menjadi seorang intelektul seperti anda. Apalagi kemudian anda digelari sebagai guru atau bapak bangsa. Saya masih ingat ketika di tahun 1998 kakak saya sering berangkat ke Jakarta untuk ikut berdemo, dan andalah yang dianggap sebagai penggerak dari para mahasiswa. 

Dan ketika saya membaca koran langganan ayah saya saya sering melihat bagaimana nama anda ditampilkan oleh media sebagai tokoh patut untuk diberi penghargaan tinggi dalam proses reformasi. Betambah pula kekaguman saya pada anda.

Namun ketika kemudian anda mendorong Gus Dur untuk maju menjadi presiden dan kemudian anda lengserkan sendiri, dengan dalih atau tuduhan korupsi yang disematkan kepadanya-meskipun tak pernah terbukti sampai sekarang---ketika itulah saya mulai melihat anda dengan pandangan yang tidak lagi sebagai seorang pengagum. 

Saya melihat sendiri, bagaimana ayah saya yang bahkan sebelumnya tidak suka berpolitik kemudian menahan amarah yang sangat ketika menyaksikan Gus Dur anda lengserkan. Meskipun ayah saya biasa dekat dan berkawan dengan orang-orang Muhamadiyah (sebuah organisasi yang pernah anda pimpin) namun sebagai seorang santri, alumni dari pondok pesantren yang didirikan oleh kakek Gus Dur, ayah saya ketika sangat kecewa dan marah pada anda. 

Mungkin kemarahan ayah saya adalah contoh kecil dari kemarahan seorang rakyat kecil yang tidak pernah sampai ke anda. Kemaharahan itu juga saya lihat terjadi pada orang-orang pesantren, warga NU, dan juga para pendukung Gus Dur. Bagi sebagaian besar orang pesantren dan warga NU, sikap dan menuver anda ketika melengserkan Gus Dur dianggap telah menorehkan dendam sejarah yang mungkin akan sulit terhapus. 

Jika tidak percaya coba lihat ketika anda maju mencalonkan diri menjadi presiden, mungkin tidak ada orang pesantren atau orang NU yang mau memilih anda, karena mereka sudah terlanjur pernah disakiti. 

Manuver anda tersebut juga membuat hubungan antara warga NU dan Muhammadiyah ketika itu menjadi renggang--padahal beberpa waktu sebelumnya sudah mulai dekat kembali-- meskipun mereka tahu anda tidak sedang mewakili Muhammadiyah ketika melengserkan Gus Dur. Dan tidakkah anda menyadari hal itu?

Namun saya secara pribadi tetap melihat anda sebagai seorang intelektual, dan sebagai manusia anda bisa saja salah dan melakukan khilaf. Meski saya tidak lagi menjadi penggemar anda, saya juga tidak melihat anda sebagai tokoh yang patut dibenci.

Ketika di pilpres 2014 saya kemudian mengamati lagi manuver anda sebagai seorang politisi. Dan tanpa sengaja saya pernah membaca tulisan seorang wartawan senior di Jawa Pos, yang tulisannya hampir sama dengan apa yang saya pikirkan tentang anda. 

Wartawan itu bernama AS Laksana, seorang yang bahkan juga pernah menjadi mahasiswa dan pernah mengagumi anda sebagai seorang intelektual dan sebagai seorang politisi. Yang mengagetkan dia mengatakan dia berhenti mengagumi anda dan menuliskan surat terbuka yang memprotes anda karena dianggap mendorong munculnya politik identitas pada pemilu 2014.

Saya kemudian melihat sebagai seorang intelektual anda kemudian terlibat terlalu jauh dan cenderung suka "bermain-main" dengan kondisi politik yang ada. Anda terus mendorong proses demokrasi ketiika itu ke dalam politik identitas yang saya anggap menjadi benih untuk menciptakan friksi-friksi di antara elemen masyarakat.

Beberapa waktu lalu saya juga membaca tulisan (catatan) seorang ibu guru, seorang nenek yang menorehkan curahan hati nuraninya. Ibu itu bernama Nursini Rais (seorang Kompasianer), yang nama terkhirnya hampir sama dengan anda. 

Ketika terjadi peristiwa reformasi ibu itu juga merupakan pengagum berat anda, bahkan dia sampai berpikiran andalah tokoh penyelamat bangsa ini ketika terjadi remormasi. Namun sama seperti wartawan yang saya sebut tadi ibu itu belakangan juga menjadi kecewa sebab menuver-manuver politik yang anda lakukan beberapa tahun terakhir. Bahkan dengan lantang ibu itu menulis "Pak Amin Rais Anda Saya Copot".

Sebagai seorang rakyat biasa, dan mungkin (kalau dianggap) sebagai seorang insan kampus, jujur kadang saya lebih mengharapkan anda menjadi seorang intelektual sejati, menjadi akademisi, menjadi seorang profesor yang justru mengayomi dengan pandangan-pandangannya menyejukkan dari pada bertahan menjadi politisi seperti sekarang ini. 

Apalagi gelar guru bangsa pernah disematkan kepada anda. Sebagai mantan ketua umum Muhammadiyah pula, sebuah organisasi Islam yang disegani, saya juga lebih suka melihat anda sebagai orang tua yang bijak. 

Prof Syafi'i Ma'arif, yang merupakan rekan anda di Muhammadiyah mungkin bagi saya adalah contoh tepat sebagai tokoh yang bisa menempatkan dirinya sebagai seorang "bapak" di tengah kekisruhan politik yang ada. Maka saya pun tak keberatan jika orang-orang memanggilnya Buya.

Belakangan saya justru melihat anda (mohon maaf) terlalu banyak khilafnya, entah itu anda sadari atau tidak. Sebelum pemilu 17 April kemaren dilaksanakan misalnya, anda justru malah sudah mewacanakan adanya people power. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2