Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Belajar Menulis dari Seorang Kiai Bisri Mustofa

10 Mei 2019   07:23 Diperbarui: 10 Mei 2019   07:38 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kiai Bisri Mustofa (ayah dari kiai Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus) dikenal sebagai ulama yang terkenal, politikus dan orator ulung, selain juga penulis yang sangat produktif. Namun di sini saya hanya akan menyinggung sekilas tentang kiai Bisri sebagai sosok penulis yang handal. Saya sendiri pernah melakukan penelitian terhadap karya-karya kiai Bisri Mustofa. Karya kiai Bisri berjumlah lebih dari 170 baik berupa terjemahan, syarh (komentar) terhadap suatu kitab, hingga karyanya sendiri. Karya-karya itu sebagian besar ditulis berbahasa Jawa menggunakan aksara Pegon. 

Karya kiai Bisri terdiri dari berbagai bidang, mulai dari tafsir Al-Qur'an, Ulumul qur'an, Ulumul Hadis, Fikih, tata bahasa Arab, sejarah, puisi dan syair-syair hingga novel dan naskah drama. Karyanya yang mungkin paling populer adalah  tafsir Al-Ibriz . Tafsir Al-Ibriz tidak hanya banyak dibaca dan dipelajari oleh masyarakat Muslim tradisional dan pesantren di Indonesia, tapi juga bahkan di beberapa daerah di Malaysia.

Sedangkan karya-karya terjemahnya sangat banyak sekali, terdiri dari hampir seluruh bidang ilmu keislaman dan tata bahasa Arab seperti terjemah kitab Alfiyah Ibnu Malik hingga kitab tata bahasa Arab yang lebih kecil seperti Imrithi dan Jurumiyyah. Kiai Bisri juga banyak menulis syair-syair diantaranya syair Ngudi Susilo dan gubahan syairnya yang paling terkenal adalah Tombo Ati, yang hingga sekarang banyak dinyanyikan oleh para penyanyi.

Lalu kenapa kiai Bisri Menulis?

Saya pernah mewawancari Gus Mus tentang hal ini. Menurut Gus Mus ada beberapa alasan kenapa kiai Bisri produktif menulis. Pertama ketika menulis kiai Bisri berniat linasyril ilmi atau menyebarkan ilmu. Salah satu tugas seorang ulama adalah menyebarkan dan mengajarkan ilmu. Kedua dengan menulis kiai Bisri juga berniat likasbil maisyah atau untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Menurut Gus Mus niatan yang kedua ini tidak kalah penting dari niatan yang pertama. Karena bagi setiap Muslim bekerja untuk menghidupi keluarga adalah suatu kewajiban. Kiai Bisri bisa membangun rumah dan menghidupi keluarganya dari pekerjaan menulis atau menerjemah.

Bahkan Gus Mus menceritakan, ketika di awal-awal sepulangnya dari studi di Mesir, beliau pernah "mengadu" ke seorang pengusaha penerbitan yang banyak menerbitkan karya-karya ayahnya. Ketika itu Gus Mus bertanya, "kulo niki mboten saget nopo-opo, kira-kira pekerjaan seng cocok kangge kulo nopo nggih?" Dengan yakin si pengusaha tadi menjawab, "nggeh nulis Gus. Kados abahe sampeyan". Si pengusaha masih melanjutkan lagi "Abahae sampeyan saget damel griyo dan lain sebagainya juga karena nulis". Mungkin karena tergugah dari dialognya dengan si pengusaha Gus Mus akhirnya kelak juga memilih jalan sebagai seorang penulis seperti yang dijalani ayahnya.

Dalam sebuah dialog antara kiai Ali Maksum (Krapyak, Yogyakarta) dengan kiai Bisri Mustofa, kiai Ali Maksum bertanya kepada kiai Bisri, "Yi, jane nopo to rahasiane sampeyan kok tulisane saget katah?" (Kiai apa sich rahasianya kok tulisannya bisa banyak?). Sambil bercanda kiai Bisri menjawab,"Kulo niku mboten kados sampeyan Yi nek nulis. Sampeyan kan liLLahi Ta'ala thok. Nek kulo tak niati likasbil maisyah" (Saya itu tidak seperti anda Yi, kalau anda kan menulis karena  liLLahi Ta'ala (ikhlas saja). Kalau saya menulis itu diniati untuk mencari penghidupan).

Kiai Bisri memang menulis salah satu niatnya untuk mencari penghidupan, tapi untuk tetap agar bisa menjaga keikhlasan hati (menyebarkan ilmu) kiai Bisri biasanya menjual putus karyanya. Maka biasanya setelah menyelesaikan sebuah tulisan kiai Bisri akan mengirimnya ke penerbit atau percetakan dan menjualnya secara putus sejumlah berapa rupiah, tanpa royalti. Mungkin kalau niatannya hanya untuk mencari penghidupan, kontrak penerbitan dengan system royalty atau setidaknya semi royalti akan jauh lebih menguntungkan. 

Faktanya banyak karya kiai Bisri yang tak tidak hanya cetak utang tiga atau empat kali tapi bahkan belasan atau berpuluh-puluh kali seperti tafsir Al-Ibriz. Bayangkan misalnya untuk satu karya ini saja misalnya, dicetak sejak tahun 1960an oleh sebuah penerbit di Kudus, Jawa Tengah. Dan hingga sekarang kitab ini masih terus dicetak dan terus laku, dan entah berapa banyak keuntungan yang diperoleh oleh penerbitnya. Padahal penerbit itu hanya bermodal membeli secara putus sekali saja. Makanya Islah Gusmian, seorang peneliti senior yang banyak melakukan studi tentang tafsir di nusantara yang juga mengaku banyak belajar menulis dan terinspirasi oleh kiai Bisri dalam sebuah kesempatan berseloroh, "sek nyugehke penerbit itu ya tafsir Al-Ibriz" (tafsir Al-Ibriz lah yang banyak memberikan keuntungan bagi penerbit itu).

Kiai Bisri menulis sejak beliau masih belajar di pondok pesantren Kasingan, Rembang asuhan kiai Kholil Harun yang kelak menjadi mertuanya. Awalnya sekedarnya menerjemahkan atau menyadur kitab-kitab yang diajarkan di pondok tersebut. Untuk kepentingan santri-santri yang begitu mahir atau bahkan masih kesulitan belajar bahasa Arab. Dari hasil menerjemah itu Bisri kecil mendapatkan imbalan dari teman-temannya yang membutuhkan hasil kerjanya. Sejak kecil (sejak usia 8 tahun) kiai Bisri adalah seorang yatim, makanya sambil mondok dia berusaha mencari pemasukan. Kecerdasannya dalam menyerap ilmu yang diajarkan gurunya seringkali ia tuangkan menjadi sebuah tulisan. Dan akhirnya kebiasaan menerjemah dan menyadur itu ditekuninya hingga akhirnya menjadi penulis. Menjadi penulis pun kelak menjadi jalan hidupnya. Melalui tulisan pulalah kiai Bisri kelak menyebarkan pengetahuan dan mendakwahkan Islam.

Ketika sudah berkeluarga Bisri pun tak jarang mengandalkan hasil tulisannya untuk mencari maisyah. Bahkan dalam sebuah periode hidupnya yang mungkin paling susah, ketika itu kiai Bisri bersama keluarga terpaksa mengungsi di daerah Sarang (sebuah kecamatan dari kabupaten Rembang) untuk menghindari kekejaman tentara Jepang yang ketika itu mulai memasuki kota Rembang. Untuk menghidupi keluarganya di samping berjualan jamu Ma'jun kiai Bisri juga sering menggubah syair-syair yang kemudian diedarkan sendiri dan dijual kepada masyarakat di sepanjang pesisir pantai Sarang.Syair-syair yang digubah oleh kiai Bisri tersebut kemudian banyak dilantunkan di musolla-musolla oleh masyarakat setempat menjelang shalat Jama'ah. Ketika itu kiai Bisri baru memiliki dua orang putera, Kholil Bisri dan Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).  Sekitar dua tahun kiai Bisri bersama keluarga hidup di pengungsian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x