Om Anton
Om Anton

Saya ingin sekali bisa menulis dengan baik tetapi belum tahu banyak tentang menulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengapa Akhirnya Saya (Kembali) Menulis?

12 Juli 2018   23:28 Diperbarui: 12 Juli 2018   23:49 223 0 0
Mengapa Akhirnya Saya (Kembali) Menulis?
Foto: pixabay.com

Kegalauan saya akhirnya menemukan titik terang. Jawaban yang sudah lama saya temukan, namun sering kali dilupakan dan diabaikan. Jawabannya adalah menulis. Iya, aktifitas penuh gairah untuk membenamkan kata kata ke lembaran file yang bisa dibaca kelak oleh siapapun yang menginginkannya.

Kita diberikan dua aktifitas utama dalam hidup, belajar dan bertindak. Bertindak adalah melakukan sesuatu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Sedangkan belajar adalah cara kita bisa mahir dalam bertindak sehingga tujuan dimungkinkan tercapai.

Membaca adalah bagian dari belajar. Melengkapi membaca adalah menulis. Menulis adalah sebuah tindakan, demikian pula membaca. Menulis dapat juga berarti sedang belajar. Karena tidak ada orang di dunia ini, tiba tiba menjadi penulis yang baik tanpa belajar menulis terlebih dahulu.

Keresahan saya dimulai dengan tanda tanda berat badan yang naik. Kebiasaan saya kalau tidak ada kegiatan ya artinya makan. Akhirnya perlahan tapi pasti, timbangan itu mulai bergeser ke kanan. Alias kembali ke berat semula ke kelas berat sekali.

Bisa jadi ini karena saya memasuki zona nyaman dalam pekerjaan. Meskipun saya merasa belum memberikan hasil yang maksimal, lingkungan meninabobokan diri saya dengan fasilitas yang luar biasa. Tidak ada tekanan tekanan langsung yang membuat saya harus melenting, meloncat, menerjang dan memenangkan benteng di bukit bukit pencapaian berikutnya.

Di sinilah saya akhirnya menemukan kembali sebuah aktifitas kreatif yang sangat klasik, berpikir dan menulis. Dengan kegelisahan yang diawali dari diri, saya mulai mencari jawaban. Biasanya,  buku adalah salah satu sumber solusi dari pertanyaan yang timbul. Pertanyaannya, aktifitas apa yang bisa menjadi kanvas dari kreatifitas diri saya.

Perjalanan ternyata kembali berulang. Dari menulis, kemudian ke coding, dan memulai bisnis hingga akhirnya menjadi pengawal proyek IT membuat saya tersadarkan siklusnya telah kembali. Kembali ke aktifitas kreatif yaitu menulis.

Bila ditimbang menulis itu bukan sebuah pekerjaan mudah. Pengalaman menunjukan dibutuhkan konsistensi dan ketahanan. Tidak akan ada orang yang memiliki alasan lemah untuk duduk selama satu hingga dua jam, berhadapan dengan papan ketik untuk menterjemahkan aneka ide yang ada di dalam kepalanya. Dibutuhkan sebuah semangat yang tak pernah padam dimakan waktu. Setiap hari, disempatkan satu dua lembar kertas akan berisi hasil tulisannya. 

Sedangkan saya memiliki masalah dengan konsistensi ini. Mudah teralihkan dengan sebuah hal baru menjadi hal yang mengganggu fokus aktifitas saya di banyak hal. Sehingga saya merasa butuh sebuah alasan baru.

Dan tulisan ini akan mengingatkan saya kembali alasan alasan itu. Pertama adalah waktu. Waktu seperti sebuah garis yang ditarik dari titik awal oleh mata pena. Berjalan hingga sampai diujung, dan kemudian sang pena diangkat untuk disimpan. 

Demikian juga hidup kita, dilahirkan, hidup dan pada akhirnya disimpan untuk dibangkitkan kembali kepada NYA. Jangan bermain dengan waktu, penuhi  dengan aktifitas yang bermanfaat, tidak hanya untuk dunia tetapi untuk akhirat kita kelak.

Kedua adalah manfaat. Sebuah manfaat hadir karena memberikan kemudahan bagi penerimanya. Dan tentu saja ada yang menebarkannya. Sang penebar manfaat, salah satunya adalah para penulis. Mereka menuliskan ilmu ilmu hasil perenungan mereka ke dalam tulisan yang dapat diterima oleh generasi selanjutnya. 

Generasi demi generasi menambahkan manfaat yang ada sehingga menjadi lebih baik dalam kehidupan. Sekali lagi peran para penulis hadir di sana sebagai para penoreh tinta emas kebijakan hidup dan pengetahuan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali menulis sebagai sebuah pilihan. Seperti seorang pengendara sepeda motor kopling yang terbiasa dengan motor otomatic, tentu butuh waktu untuk menyesuaikan. Semoga bisa lebih cepat, dan lebih baik dalam mengendarai akal pikiran untuk dibawa ke lembaran-lembaran kertas yang membawa kebaikan bagi semua yang melewatinya. Aamiin.