Mohon tunggu...
adnan wildan
adnan wildan Mohon Tunggu... Penulis Amatir

Rakyat biasa yang tak bisa dibanggakan

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Potensi Pencurian dan Penyalahgunaan Data Kesehatan dalam Bantuan Asing

8 September 2019   23:14 Diperbarui: 3 November 2019   23:02 0 0 0 Mohon Tunggu...

Lima tahun sudah BPJS Kesehatan beroperasi sejak berganti dari PT. Askes (persero). Pada tahun 2019 diperkirakan jumlah penduduk yang menjadi peserta BPJS Kesehatan mencapai 224 juta jiwa dari 264 juta jiwa total penduduk Indonesia

Hal ini akan berpengaruh pada kenaikan pendapatan iuran BPJS Kesehatan yang dibarengi  dengan kenaikan beban DJS (Dana Jaminan Sosial) Kesehatan yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun permasalahan defisit sudah didera dari awal tahun beroperasi. Pada tahun 2014, BPJS Kesehatan mengalami defisit sekitar Rp. 1,9 triliun. 

Defisitnya makin membengkak di tahun kedua, yaitu sekitar Rp. 9,4 triliun. Diprediksi defisit ini akan terus membengkak hingga Rp. 32 Triliun di tahun 2019. Adanya mismatch antara klaim yang dibayarkan perusahaan dengan iuran yang diterima menyebabkan defisit pada BPJS Kesehatan. Atas kondisi ini pemerintah membuat kebijakan untuk memberikan suntikan dana berupa penyetoran modal kepada BPJS Kesehatan yang nantinya sebagian dari setoran modal tersebut dihibahkan dari BPJS Kesehatan ke DJS Kesehatan dan hal ini diharapkan dapat menekan defisit yang terjadi pada DJS Kesehatan.

Terhitung sudah berulang kali BPJS Kesehatan menerima suntikan dana dari pemerintah untuk menutup defisit. Di tahun ini BPJS Kesehatan menerima suntikan dana dari pemerintah sebesar Rp. 10,1 Triliun dengan dibagi menjadi dua tahap sesuai dengan hasil audit BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) terhadap BPJS Kesehatan. 

Tak hanya bantuan dari dalam negeri (pemerintah), negara lain pun tertarik dalam membantu masalah defisit BPJS Kesehatan. 

Bantuan tersebut datang dari  perusahan tiongkok yang bergerak di sektor finansial yang bernama Ping An Insurance Group. Di Tiongkok, Ping An Insurance Group melalui Ping An Healthcare and Technology digunakan oleh 800 juta pelanggan. Jumlah tersebut jelas lebih besar ketimbang BPJS Kesehatan. Kabar ketertarikan Ping An Insurance Group dibawa oleh Menko Kemaritiman, Luhut B. Panjaitan saat acara kunjungan kerja ke Tiongkok pada Juli lalu.

Ping An Insurance menawarkan kerja sama berbentuk B2B (Bussines to Bussines) untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem TI (Teknologi Informasi) BPJS Kesehatan. B2B atau Business to Business artinya ada yang didapat diantara kedua belah pihak. Pihak BPJS Kesehatan mendapatkan perbaikan sistem TI dan alih teknologi dari Ping An, sedangkan Ping An mendapatkan data kesehatan seluruh rakyat Indonesia yang terdaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Informasi strategis begitu mudah mengalir ke Tiongkok jika kerjasama ini dilanjutkan. Tidak ada yang bisa menjamin informasi strategis ini tidak disalahgunakan oleh Ping An selaku perusahaan Tiongkok yang memiliki kepentingan mewujudkan proyek BRI (Belt and Road Initiative). Impian Tiongkok ingin membangun kembali silk road atau Jalur Sutera melalu proyek BRI diinisiasi oleh Xi Jinping pada 2012 lalu. 

Program ini membangun infrastruktur secara besar-besaran untuk meningkatkan dan memperbaiki jalur perdagangan dan ekonomi antar negara dikawasan Asia dan sekitarnya. 

Sebagian proyek ini dibiayai oleh pinjaman dari Tiongkok, dibangun oleh kontraktor dan pegawai Tiongkok, serta menggunakan teknologi dan material yang berasal dari Tiongkok. Tiongkok menggelontorkan dana besar-besaran untuk proyek ambisius ini dengan tujuan perekonomian serta aspek yang lain juga akan terdongkrak. 

Tujuan Xi Jinping tak hanya berhenti sampai disitu, Tiongkok akan menanamkan pengaruhnya dan menjadi penguasa dunia, kemudian Tiongkok dapat mengontrol semua kebijakan seluruh negara yang terimbas dalam proyek BRI ini. Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran dalam proyek ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN