Mohon tunggu...
Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Agamawan, Surga dan Krisis Lingkungan Hidup

11 Oktober 2021   11:54 Diperbarui: 11 Oktober 2021   11:58 135 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Unsplash/Sepia Photography of bare trees 

Krisis lingkungan hidup bukanlah sesuatu yang baru, kalau kita kembali menilik sejarah umat manusia, betapa kita akan menemukan fakta yang suka atau tidak suka harus kita terima tentang nenek moyang kita adalah spesies penghancur. Boleh-boleh saja kita membantahnya dengan sejuta argumentasi.

Namun faktanya, jutaan spesies lain musnah karena manusia, peralihan dari manusia pemburu-pengumpul ke pertanian, kemudian sekarang menjadi manusia industri. Dari waktu ke waktu spesies manusia telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan alam, tapi di saat yang bersamaan manusia telah mampu melewati berbagai tantangan.

Penemuan-penemuan dahsyat yang dilakukan oleh manusia itu juga berangkat dari kekhawatiran atau antisipasi terhadap ancaman, katakanlah senjata-senjata yang terus berkembang, alat pendeteksi bencana, hingga teknologi yang terus berkembang hinga saat ini.

Sayangnya seiring dengan perkembangan itu, umat manusia juga di hantui oleh berbagai macam ketidakpastian soal lingkungan hidup, salah satu isu yang hangat dan selalu dibahas belakangan ini adalah soal global warming atau pemanasan global. Dalam bahasa yang sederhana kita simpulkan bahwa bumi semakin panas.

Baru-baru ini, tepatnya pada 22 april lalu, Elon Musk membuat sayembara bagi siapapun yang mempunyai mis untuk menyelamatkan bumi. Musk menjanjikan hadiah senilai 100 Juta Dollar AS bagi siapapun yang mampu menemukan cara-cara menghilangkan emisi karbon dari muka bumi.

Tidak hanya itu, wacana soal rumah baru di mars bukanlah berita baru yang kita dengar yang seakan-akan mengamini bahwa sejuta cara akan di lakukan untuk menylamatkan umat manusia dari ancaman pemanasan global yang membuat bumi semakin tidak layak di huni.

Lalu, apa semestinya yang bisa kita lakukan?

Indonesia dengan ideologi Pancasilanya membuat semua masyarakat Bumi Nusantara di haruskan ber-Tuhan, bagaimana tidak, di sila pertama ia sudah menekankan soal ketuhanan. Itulah salah satu alasan kenapa, suara ahli agama di Nusantara ini bak berlian yang amat mahal harganya, sehingga apapun yang di lontarkan Agamawan itu, akan di ikuti banyak orang.

Saya lebih senang menggunakan istilah Agamawan dibandingkan pendakwah, ustadz, pendeta, dsb, supaya tidak terkesan tidak memojokkan agama tertentu, meski saya adalah seorang Muslim di Indonesia yang kalau bicara Agamawan tentu arahnya kepada mayoritas, hehe.

Oleh karena itulah, dalam konteks ini Agamawan penting menyuarakan pentingnya menjaga alam ini, merawat lingkungan hidup, sangat sedikit sekali para pendakwah yang berbicara soal isu ini, padahal krisis ini ada di depan mata kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan