Mohon tunggu...
Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Padi, Petani, dan Rendah Hati

23 September 2021   10:53 Diperbarui: 23 September 2021   11:01 90 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Padi, Petani, dan Rendah Hati
Sumber: www.thrivenationsglobal.com

Saat hendak memasak nasi pagi tadi, wadah dimana beras biasa saya simpan disana sudah kosong, hanya tinggal empat sampai lima butir saja. Kehidupan anak kos-kos an yang sok hemat, tapi di saat yang sama juga kesusahan mengatur keuangannya. Tapi, pada kesempatan ini kita tidak akan bicara soal keuangan.

Tiba-tiba saja saya teringat pada Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Iya, mereka adalah Petani, orang-orang kuat nan penuh ketulusan yang selalu menjadi pahlawan negeri ini. Kendati demikian, nasib mereka juga sering terlupakan.

Di Sawah sana, mereka berjemur di bawah tengah terik matahari, sesekali bertengkar karena rebutan aliran air, tak sampai disitu para petani juga terus berjuang membeli pupuk dengan harga yang mahal.

Kita bisa saja mengajukan pertanyaan: Kenapa dengan negara sekaya Nusantara kita tak melihat kesejahteraan Petani?

Alhasil akan ada banyak spekulasi yang muncul untuk menjawab pertanyaan itu. Mulai dari subsidi yang kurang dari pemerintah, harga pupuknya yang mahal, hingga rantai tengkulak yang amat panjang.

Namun, kali ini kita coba mengintip ketulusan para petani. Mereka adalah manusia dengan ketulusan mendalam pada Tuhan, siang hari berkerja seharian, saat malam tiba mereka begitu syahdunya mendekati Tuhan, di atas sajadah kadang air mata kerinduan jatuh.

Di tengah terik matahari, dengan pakaian lusuh, badan berkeringat, tidak lupa mereka menyembah Tuhan di sela pekerjaannya.  Tak jarang kita melihat hamba hamba Tuhan itu sholat di atas daun.

Saat panen tiba, beberapa bagian dari hasilnya dibagikan. Dengan penuh kegembiraan ia bagikan hasil taninya itu kepada anak di Rantau, kepada Kyai Kampung serta tetangga-tetangga di sekitar rumah.

Tidak malu-kah Kita? Jumawa dan mencari popularitas. Tidak malu-kah kita? Menyembah Tuhan pun ingin di lihat banyak orang.

Sementara itu, padi emang selalu mengajarkan banyak hal pada kita. Kata kyai di sudut desa sana: Semakin berisi, semakin tunduk. Selanjutnya. Kiranya para petani mewariskan ilmu rendah hati pada kita, untuk kesekian kalinya saya menegaskan kembali: Bukankah hanya dengan mendongak ke langit, kita sudah terasa amat kecil?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan