Mohon tunggu...
Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tafakkur, Ibadah Penting yang Sering Terlupakan

22 September 2021   10:15 Diperbarui: 22 September 2021   10:22 120 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Koleksi Canva.com

Sebelum kita menelisik lebih jauh, agaknya pagi-pagi sekali penulis ingin menyampaikan bahwa tulisan tulisan disini akan mudah dipahami jika pembaca mengerti kerangka berpikir penulis yang mungkin terlihat dari tulisan-tulisan sebelumnya. Jadi, dalam berbagai ulasan telah kita bahas bahwa Beragama itu tak hanya tentang Fiqih atau kasarnya hanya tentang ritual formalitas saja, hehe.

Saya percaya bahwa Ibadah semacam ini juga ada dalam agama lain. Karena penulis adalah seseorang yang beragama Islam, maka disini kita akan menggunakan kata Tafakkur untuk penyebutan Ibadah ini. Senang sekali jika pembaca non muslim sekalipun ikut membaca ulasan ini.

Tafakkur berasal dari padanan kata fakara-yafkiru-fakran-tafakkuran, makna utama nya ialah berpikir yang kemudian juga bisa dimaknai dengan merenung atau mengenang. Tafakkur juga sudah masuk ke dalam Bahasa Indonesia, menurut KBBI Tafakkur ialah renungan atau memikirkan, dan menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh.

Maka, apabila kita berbicara soal Tafakkur setidaknya ia tak akan lepas dari pendalaman makna atas segala sesuatu, ia akan membawa seseorang kepada kedalaman bathin yang amat suci. Bertafakkur juga berarti mengintropeksi diri, rehat sejenak dari berbagai hiruk pikuk duniawi, kemudian merenung dan memikirkan berbagai macam kejadian.

Dalam Islam Tafakkur merupakan Ibadah yang sangat penting, bahkan Tafakkur juga merupakan ibadah yang sangat sering di lakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam Al Qur'an ada sebuah ayat nan amat masyhur yang berbicara soal Tafakkur. Ayat itu termaktub dalam Q.S Ali Imron ayat 191: 

  

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Ayat di atas merupakan pendefenisian dari Ulil Albab di ayat sebelumnya. Dimana salah satu barometer seseorang layak disebut Ulil Albab ialah harus senantiasa bertafakkur atas penciptaan langit dan bumi.

Sayangnya, kita sangat jarang sekali meluangkan waktu untuk melakukan ibadah ini. Setelah membaca ini, mungkin boleh kita bertanya pada diri sendiri tentang kapan terakhir kali duduk di atas sajadah, merenung sejenak, memikirkan berbagai kesalahan kita, merenungkan berbagai kejadian, sehingga ada waktu buat mengevaluasi diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan