Mohon tunggu...
Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mural "Tuhan, Aku Lapar" Bertanya: Sedang Apa Kita?

21 Agustus 2021   10:57 Diperbarui: 21 Agustus 2021   11:05 260 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
 Mural 'Tuhan Aku Lapar!!" di Tangerang- (Twitter/@txtdaritng) 

Per hari ini, PPKM di beberapa wilayah Indonesia masih berlanjut. Tidak bisa di pastikan kapan PPKM ini akan berakhir, pengumuman diperpanjang atau tidak, menjadi momen yang amat di nantikan masyarakat. Sepanjang presiden setelah Soekarno, "mungkin" baru kali inilah masyarakat berkumpul di depan tv, menunggu pidato presiden.

Fenomena ini tentu tidak bisa dilepaskan dari betapa berpengaruhnya PPKM kepada kehidupan masyarakat. Kita tidak menafikan bahwa PPKM telah membantu menekan angka covid. Tapi, kita juga tak bisa menutup mata saat banyak ayah yang kesusahan mencari nafkah untuk istri dan anaknya.

Anda bisa bayangkan kedai kopi yang harus tutup di malam hari. Waktu yang seharusnya meja meja di kedai nya ramai, di minta tutup. Sementara di kedai nya ada karyawan yang harus di gaji. Begitu pula pedagang pedagang kecil keliling, yang entah kemana lagi ia menjajakan dagangannya.

Tibalah masa dimana kita menyaksikan berbagai cara dalam mengkespresikan kekecewaan itu. Salah satunya dengan melukis di tembok, kita biasa menyebutnya dengan mural.

Mural-mural itu kemudian menjadi viral di medsos, salah satu yang viral adalah mural dengan tulisan "Tuhan, Aku Lapar." Kita bisa menyaksikan komentar netizen terkait mural itu. Mulai dari sikap peduli, kasihan hingga men-cemooh.

Sekilas mural itu tampak biasa saja, tak ada ubahnya dengan lukisan lukisan lainnya. Tapi, bilamana kita melihatnya dalam perspektif Tasawuf dan merenunginya lebih dalam, betapa kita akan menemukan merasangan dorongan bathin yang berbeda.

Kalimat "Tuhan, Aku Lapar" kemudian di tuliskan di tempat yang sangat mudah di akses. Pinggir jalan, tempat dimana segala kalangan bisa melihatnya. Ada semacam ekspresi yang menggambarkan bahwa tak lagi mempunyai ketergantungan kepada Penguasa. Keputus asa-an terhadap kebijakan pemerintah.

Tak lagi ada tempat mengadu, entah kepada siapa lagi di bisikkan suara nurani. Ketika suara suara tak lagi di dengarkan, maka lahirlah mural itu. Dibaca oleh banyak orang, sejanak menghentak bathin banyak orang, ternyata di tengah tawa kita, masih banyak orang yang bingung apa yang akan di makan besok pagi.

Bersamaan dengan itu, kita juga melihat mural ini sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Bahwa ketika tak lagi tempat untuk bersandar, tak ada lagi sosok yang mendengarkan keluhan, masih ada Tuhan yang tanpa henti mendengarkan berbagai cerita.

Mural itu tak bertuliskan Tuhan tak adil, tidak pula bertulisan Tuhan engkau dimana. Sederhana sekali tulisannya, ia menyampaikan sesuatu yang Tuhan tahu, yaitu bahwa ada hamba hamba-Nya lapar. Bentuk penyerahan diri yang amat tulus, tanpa protes dan mengeluh kepada Tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan