Mohon tunggu...
Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mohon Tunggu... Mahasiswa Pendidikan

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Harkitnas 2021: Kelaparan, Kesetaraan, dan Pendidikan (Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional)

20 Mei 2021   10:55 Diperbarui: 20 Mei 2021   12:37 188 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Harkitnas 2021: Kelaparan, Kesetaraan, dan Pendidikan (Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional)
Sumber logo harkitnas: Kompas.com

Hari ini, 20 Mei 2021 Hari Kebangkitan Nasional kembali dirayakan sekaligus diperingati. Mulai dari dilakukannya upacara, lomba, serta berbagai platform media sosial dibanjiri ucapan selamat dengan mengusung tema  "Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh."  Tujuan peringatan 113 tahun Kebangkitan Nasional adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong-royong kita sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan. Sejenak kita di ingatkan kembali dengan apa yang kita sebut sebagai simbol pemersatu bangsa.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pelajari kembali sejarah Hari kebangkitan Nasional ini secara ringkas. Kebangkitan Nasional ini adalah masa dimana semangat nasionalisme bangkit dan itu terjewantahkan dalam semangat persatuan dalam melawan penjajah. 20 Mei 1908 lahirlah sebuah organisasi anak kandung Indonesia yang didirikan Dr. Soetomo. Organisasi ini bernama "Boedi Oetomo." ia menjadi pencetus berbagai pergerakan serta menjadi pelopor lahirnya organisasi lainnya. Bergerak dibidang Sosial, Ekonomi, Kebudayaan, Pendidikan, dsb. Organisasi ini disebut sebagai langkah awal gerakan awal menuju Indonesia merdeka kala itu. Tak berlebihan rasanya jika Ir. Soekarno menetapkannya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. 

Kalau melihat dari sejarahnya betapa pejuang kita dulu sangat memikirkan bagaimana negeri ini benar benar merdeka. Apapun dilakukan meski dalam keadaan yang lemah. Mereka disiksa, dipenjara, dan di buang jauh. Namun, Akal dan Hatinya tetap tertuju bagaimana negeri ini benar benar merdeka. Apapun akan dilakukan, termasuk mendirikan "Boedi Oetomo." Hari ini 113 tahun telah berlalu, Apa kabar Indonesia kita hari ini? Sudahkah kita benar benar bangkit dari penjajah? Atau kemerdekaan kita hanyalah bersifat formalitas saja?

Patut disyukuri tentunya, kemerdekaan yang kita rasakan hari ini. Semuanya tak terlepas dari perjuangan para pahlawan kita dulu. Meski demikian, ternyata dalam perjalanannya, Indonesia kita ini masih memiliki banyak masalah yang begitu kompleks. Soekarno misalnya mempunyai konsep bahwa Merdeka itu adalah Adil, yang didalamnya tidak akan lagi orang miskin di Indonesia. rasa rasanya jika dilihat hari ini, betapa keadaan Bangsa kita sangat tak relevan dengan apa yang di cita cita kan oleh Presiden pertama itu. Di lampu merah, ada saja yang menengadahkan tangan meminta sedekah, mulai dari anak anak hingga ibu ibu yang menggendong anak. itu hanyalah cuplikan kecil saja bagaimana kelaparan panjang masih banyak dirasakan oleh rakyat Indonesia hari ini. Dalam konteks yang lebih luas kita mungkin akan membicarakan banyaknya kasus kekerasan, kejahatan di Indonesia itu berawal dari kemiskinan. 

Setelah berbicara soal Kelaparan, mari kita teropong sedikit saja soal keserataan dan pendidikan di Indonesia. Jangankah berbicara jauh soal kesetaraan gender, melihat kondisi polarisasi saja rasanya  semakin hari semakin tajam. Sehingga hak hak keadilan kadang kadang tidak setara, dalam kondisi sosial masyarakat juga amat meresahkan, ada banyak anak yang merasakan diskrimasi, bullying, dst. Hak Pendidikan juga demikian.

Penulis selalu membahasakan begini "Bahwa apa yang di dapatkan anak anak di Jawa, tak sama dengan apa yang diperoleh anak anak di Papua." Kesetaraan dalam berbagai bidang itu masih jauh dari harapan kita. Belum lagi jika kita berbicara soal Potret pendidikan Indonesia. Urutan yang jelek dalam skala Internasional, Pencabulan masih terjadi, Fasilitas yang tidak memadai di berbagai daerah, kurikulum yang memaksakan orang untuk "sama", hingga pada puncaknya kita akan menyebut bahwa SDM pengajar pun masih rendah. Inilah sedikit potret Kelaparan, Kesetaraan dan Pendidikan kita di Hari Kebangkitan Nasional 2021 ini.

Tulisan ini bukan untuk menjadikan kita akan mencaci maki penguasa atau malah terus mengeluh terhadap berbagai masalah bangsa. 113 tahun lalu Boedi Oetomo itu didirikan oleh semangat anak muda. Hari ini, sudah bukan masanya lagi kita bertanya kemana ribuan sarjana yang di wisuda tiap tahun. Sudah saatnya kita menyamakan persepsi tentang arah bangsa ini, menyatukan langkah untuk berkontribusi lebih banyak untuk kemajuan, sudah waktunya bergandengan tangan untuk merubah keadaan sekitar walaupun itu perubahan kecil. 

Takdir negeri ini adalah berjuang dan kitalah para pejuangnya. Selamat Hari Kebangkitan Nasional Kawan, Bangkitlah! Kita bangsa yang tangguh.
-Awaluddin

VIDEO PILIHAN