Dokter Avis
Dokter Avis profesional

Saya dr. Hafiidhaturrahmah namun biasa disapa Avis, lulusan FK Univ Jenderal Soedirman. Saat ini jadi residen anak di UGM. Awardee Beasiswa LPDP-PPDS Angkatan 1. Tempat pengabdian sebelumnya di Sumba-Timika Papua (peneliti malaria) dan Bromo (Pencerah Nusantara 1). Blog pribadi monggo www.dokteravis.net atau twit di @avista_nada atau FB Avis Unsoed

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Pengalaman Pertamaku Bersama Cadaver

10 November 2011   14:42 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:49 721 10 26

[caption id="attachment_148079" align="alignnone" width="500" caption="Ilustrasi/Admin (Shutterstock)"][/caption]

Yah...nama seonggok daging yang sudah tercacah-cacah namun masih dapat dikenali sebagai manusia tanpa nyawa itu adalah cadaver. Bahasa keren untuk sebuah mayat yang diawetkan dan dijadikan bahan pembelajaran para calon dokter dan tenaga medis lainnya itu memang bernama cadaver. Bentuk organ manusia yang mungkin sudah berubah warna bukan merah segar lagi tapi hitam legam karena teroksidasi formalin itu memang disebut cadaver. Ya, apapun bentuknya, kali ini saya ingin berbagi kisah tentang cadaver, sesuatu yang menjadi momok paling mengerikan bagi anak kedokteran untuk pertama kalinya, namun akhirnya menjadi teman paling menyenangkan.

Cadaver...pertama kali kata itu saya tahu saat mengikuti OSPEK. Cerita mengerikan dari kakak kelas tentang cadaver membuat saya membayangkan kadaver sebagai sesosok mayat yang menyeramkan, kalau tersenyum terlihat giginya yang keropos, muka tercacah tidak karuan dan berbau sebusuk bangkai ayam. Ditambah lagi dengan imajinasi terlalu banyak menonton film horor, lengkap otak saya merekam gambaran mengerikan sesosok kadaver. Seonggok manusia telanjang tanpa nyawa yang ada di atas meja periksa dengan kulit, otot, bahkan tulang sudah tercabik-cabik lantaran terlalu banyak digunakan sebagai media pembelajaran itu memang bernama cadaver. Bahkan pikiran jahat saya membayangkan mata kadaver itu melotot dengan tempurung kepala yang terbuka di bagian belakangnya karena otaknya dipegang oleh puluhan mahasiswa kedokteran untuk merasakan bagaimana lembutnya jaringan otak. Tidak jarang saya membayangkan cadaver itu digantung tepat di hadapan saya dengan lidah terjulur seperti orang gantung diri di bawah pohon asam yang usianya dua puluh tahun. Belum lagi desas-desus bahwa bau cadaver sangat menyengat, gabungan aroma daging yang busuk dengan formalin yang membuat mata pedih. Bahkan konon membuat yang melihat cadaver kehilangan nafsu makan bakso atau sop buntut...Hmmm....

Bayangan mengerikan cadaver semakin membuat saya gila karena ruangan tempat penggemblengan OSPEK         merupakan tempat bersemayamnya para kadaver, Laboratorim Anatomi. Sejak hari pertama, tempat ini sudah dipasang pita kuning layaknya TKP dengan polisi berjaga supaya kami mahasiswa baru tidak dapat mengintip jebakan apa yang ada di dalamnya. Bukan hanya itu, seluruh sisi laboratorium juga ditutup kertas hitam dan dibuat bersekat-sekat seperti rumah hantu. Seramnya lagi, kami harus masuk sendirian dengan mata tertutup dan rela dikerjai berputar-putar tidak jelas dengan berbagai pos sebelum akhirnya masuk dalam laboratorium tersebut. Walhasil, antrian masuk laboratorium tersebut membuat kami lemas, lapar, dan tentunya gelisah tidak karuan. Berbagai bayangan kengerian pun kembali melintas otak saya ditambah lagi teriakan kawan-kawan yang sudah lebih dulu memasuki laboratorium terdengar miris.

Ruangan yang akan kami masuki sebagai ajang uji nyali paling menegangkan di OSPEK ini benar-benar gelap, tanpa seberkas cahaya secuil pun walau misal gigi anda seputih kapas pun tidak akan membantu pencahayaan di dalamnya. Akhirnya, sebagai bekal kami diperbolehkan membawa lampu senter dengan aturan diameter tidak lebih dari satu sentimeter saja. Tidak boleh mencoba melanggar karena kakak kelas akan mengawasi dan mengukurnya dengan tepat sebagai bentuk kedisiplinan kami. Saya saja harus memodifikasi senter kecil saya karena sampai mati tidak mungkin menemukan senter dengan diameter mungil itu. Saya lingkari lampunya dengan lakban hitam dan disisakan sesuai aturan saja untuk nyalanya. Beji teman sekelompok saya lebih gila lagi karena yang dia bawa adalah lampu petromaks terbesar dengan diameter 20 sentimeter. Andai boleh dinyalakan, dijamin seisi ruangan anatomi akan terang benderang. Sialnya, sesuai syarat diameter maka lampu petromaks itu dari jauh terlihat sebagai lampu lakban hitam terbesar dengan menyisakan lubang satu sentimeter di tengahnya. Naasnya, senter tidak menjamin kerberlangsungan hidup kami ternyata karena selama kita mengantri, banyak kakak kelas yang usil dan membuat senter kami dalam keadaan menyala terus sementara mata kita tertutup dan tangan lain sibuk menyelesaikan aktivitas perintah kakak kelas lainnya. Bejo jadi korban paling mengenaskan karena lampu petromaks dia nyalanya cuma kerlap-kerlip saja dan akhirnya mati total ketika dia memasuki ruang penyiksaan. Sialnya lagi suara teriakan Bejo lantaran kesal senternya dikerjai lebih terdengar seperti suara orang kesetanan yang membuat saya yang masuk setelahnya semakin deg-degan tidak karuan.

Giliran saya masuk 'ruangan setan' pun tiba. Rasanya kaki ingin menolak melangkah tetapi sial perut saya keroncongan sehingga harus segera menuntaskan ini agar dikasih makan siang. Kriiiittt...kali ini suara pintu 'ruangan setan' yang berderit terdengar seperti akan menerkam saya hidup-hidup. Udara dingin langsung menyergap tulang belulang saya saat pintu terbuka lebar dan blep...saat pintu kembali ditutup barulah saya sadar jika saya benar-benar sendirian di ruangan ini. Kegelapan langsung menerkam saya dan bau menyengat menerobos tanpa permisi menyentuk saraf olfaktorius penciuman saya. Bersyukur rasanya lubang hidung saya hanya dua sehingga tidak tersiksa lebih parah dengan bau ini. Saya bahkan dapat mendengar detak jantung saya sendiri yang bergerak cepat seperti genderang perang, atau jangan-jangan ada suara detak jantung mayat yang tiba-tiba hidup. Bulu kuduk saya langsung merinding membayangkan ada yang mencolek bahu saya...hiiii... Saya pun perlahan menyalakan senter sebagai langkah pertama. Perlahan juga saya buka penutup mata. Maklum, ada kakak kelas yang saat membuka penutup matanya langsung dikejutkan oleh cadaver yang tergantung persis di depannya, tanpa jeda dan tanpa persiapan khusus, tentunya berakhir dengan lekingan teriakan yang panjang. Saya tidak mau jadi korban konyol seperti dia dan saya dapat menghitung betapa pelannya saya membuka penutup mata. Akhirnya terbuka juga, namun tetap saja mata saya separoh tertutup. Perlahan picingan mata saya baru terbuka sempurna. Sergapan aroma ribuan bawang merah yang diiris seperti tertabur di mata dan membuat saya ingin menangis. Senter pun menerangi apa yang dihadapan saya dan ternyata...Itu tembok!!! Siaaaallll!!!

Adegan yang sudah saya dramatisir berakhir dengan tembok. Alam bawah sadar saya mulai memberikan sugesti buruk. Jangan-jangan saat saya membalikkan badan, kadaver itu tepat berada di belakang saya dan saya berakhir seperti kakak kelas saya dulu. Saya pun menarik napas perlahan dan terulang lagi adegan slow motion membalikkan badan seperti membuka penutup mata tadi. Bau menyengat itu pun semakin terasa sensasinya, ini toh aroma yang mereka ceritakan dulu, begitu pikir saya. Perpaduan pas antara cairan formalin dengan daging busuk manusia lebih dari sebulan itu langsung menggerogoti otak saya dan menambah berat keinginan membalikkan badan.

Perlahan, sangat pelan, kaki saya membentuk sudut empat puluh lima derajat dan berhasil membalikkan badan dengan sempurna diiringi dengan pejaman mata. Perlahan setelah posisi badan sempurna, saya buka mata perlahan and you know what? Siaaal!!! Kadaver masih lima meter di depan saya dan lagi tidur nyenyak di atas kasur empuknya yang terbuat dari besi seperti keranda pengangkut jenazah. Posisinya bukan digantung. Saking kesalnya karena dua adegan lebay saya berakhir nestapa, langsung saja saya serbu cadaver itu untuk mencari sebuah kertas kecil yang berisi petunjuk apa yang harus saya lakukan dengan cadaver ini. Mata saya sibuk mencari kertas yang ternyata ada di atas dada cadaver. Saya coba baca tetapi gagal, ternyata karena kertasnya diletakkan terbalik. Tangan saya reflek mengambil kertas itu dan JERRRR...saya seperti tersengat listrik. Dada saya bergemuruh hebat lagi saat kulit lembut saya bersentuhan dengan kulit kadaver. Rasanya seperti terkurung dalam ratusan ton es Samudera Antartika, super dingin. Dan, saya baru sadar kalau saya benar-benar telah menyentuh mayat yang diawetkan tanpa embel-embel 'hidup' di belakangnya. Cadaver lelaki muda yang terbuka mulutnya itu seperti ingin meneriakkan 'haaaiii' melalui sengatan sentuhan ini. Tidak mau! Saya masih nornal tidak berharap ingin berbincang dengan mas cadaver. Saya yang tadinya cuek dengan penampilan mas cadaver kini malah terpana dan memandangi detail dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa terlewatkan. Kulitnya terkelupas di sana-sini sampai ototnya terlihat. Perutnya terbuka lebar dan terurai-burai. Inilah pertama kalinya saya melihat manusia utuh dengan isi perut berhamburan tidak tentu arah. Lambung, usus, hati, ginjal, kandung kencingnya bahkan barang paling berharga mas cadaver terlihat semua dengan jelas. Wow...nyaris membuat saya lupa bahwa saya diperintahkan untuk mengambil sedotan yang ada di usus kadaver. Doa permisi minta izin kepada kadaver pun tidak lupa saya lontarkan dan berharap mas cadaver diam saja tidak perlu menjawab. Tangan selembut sutra saya pun harus bersentuhan lagi dengan mas kadaver bahkan kali ini lebih dalam karena harus mengurai ususnya mencari sedotan. Tanpa sarung tangan, rasanya seperti mengorek tempat paling menjijikkan sedunia. Usus berwarna kehitaman membuat tangan saya harus dicuci tujuh kali dengan air dari tujuh sumur (hahaha lebay) dan berakhir dengan sabun cuci. Saya berharap adegan ini cepat berakhir dan segera keluar dari ruangan setan ini. Sibuk mencari, tiba-tiba ada tangan menjawil kaki saya. Otak saya langsung sadar jangan-jangan nih cadaver membawa pasukan. Spontan saya arahkan tendangan mau dan lari terbirit.

Lega rasanya sudah menikmati udara kebebasan walau dari dalam saya mendengar erangan kesakitan yang ternyata adalah kakak kelas saya yang menjawil kaki saya. Saya pun kembali berkumpul dengan teman lain yang sudah berhasil melewati ruangan maut tadi. Ternyata tugas saya di dalam tadi termasuk ringan dibandingkan teman yang lain. Ada teman lain yang harus menghitung gigi kadaver dan saya tidak dapat membayangkan bagaimana dia memasukkan jarinya untuk menghitung gigi dan sialnya lagi dia disuruh menghitung ulang karena jawaban pertamanya salah. Ada juga yang harus mengambil sedotan di punggung cadaver yang berarti membuatnya harus mengangkat dan menahan punggungnya demi mencari sebuah sedotan. Bahkan ada yang disuruh mengambil sedotan di sela kemaluan cadaver...hihihihihi.

Kini cadaver sudah menjadi kenangan tersendiri. Setiap cadaver mempunyai cerita tersendiri yang kebenarannya tidak dapat dipastikan karena hanya mulut ke mulut. Untuk semua ilmu yang berasal dari setiap tubuh cadaver, saya berharap mereka yang telah merelakan tubuhnya dijadikan sarana dasar ilmu pengetahuan kedokteran mendapatkan pahala dan tubuh mereka menjadi amal jariyah yang tidak pernah terputus. Apa pun latar belakang dan cerita hingga cadaver itu sampai di hadapan saya, pastinya mereka guru terhebat saya dan lantunan doa selalu tercurah untuk para guru saya. Hanya yang saya bingungkan, tidak ada kakak kelas yang merasa menjawil saya, mereka hanya berteriak saja. Jadi, siapa yang menjawil saya???

Selamat Malam,

Sumba, 10112011