Mohon tunggu...
Asep Soheh Irpan
Asep Soheh Irpan Mohon Tunggu... I am a sea navigator

Seorang pelaut, mantan santri dan mantan anak kecil yang cita-citanya menjadi astronot. Memiliki dua hal yang utama; 1. Tanggal lahir yang palsu 2. Memiliki minat terhadap astronomi dan filsafat. Bekerja sebagai Navigating Officer di kapal-kapal Ocean Going

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sudut Spiritual Gempa

5 September 2019   12:17 Diperbarui: 5 September 2019   12:21 0 0 0 Mohon Tunggu...

SUDUT SPIRITUAL GEMPA
( Disarikan dari kejadian gempa Tasikmalaya 02 September 2009 )

*Ini tulisan lama yang saya upload kembali tanpa editing. Perubahan pemikiran penulis mungkin ada.


Oleh : Asep Soheh Irpan, Amd, ANT-III
Tasikmalaya, 03 September 2009
09:00 WIB

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang perempuan yang tinggal di sudut hatiku yang hening karena tulisan ini terinspirasi olehnya ketika dia berkata: "....hmmm...jangan-jangan gempa ini juga karena Allah murka ama Aa...". Masya'Allah.....
" Tuhanku...hamba telah dzolim pada diri hamba sendiri, maka jika Engkau tidak mengampuni hamba tentunya hamba akan termasuk orang-orang yang merugi "

Muqoddimah
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Segala puji bagi Allah yang Baginya apa yang ada di langit dan di bumi.....yang bertasbih bagi-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.(al-baqarah: 255)

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjunan alam Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan kepada para pengikutnya hingga akhir jaman. Amin.

Sudut Spiritual Gempa
Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya barusan saja terjadi yaitu Rabu, 02 September 2009. Hati siapa yang tak gentar mendengar riuh gemuruh bangunan yang bergoyang atau pepohonan yang berjingkrak. Semua orang berkerumun di lapang, di jalanan dan ditempat lainnya seraya berdo'a dan hatinya menangis ( jika ada orang yang saat kejadian itu tidak berdo'a dan ingat kepada Allah, sungguh hamba berdo'a semoga Allah membukakan hatinya - amin).

Lantas pelajaran apa yang kita peroleh supaya kita semakin dekat kepada Allah? Bukan hanya semakin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi harus semakin peduli kepada sesama ummat manusia di lingkungan terdekat kita.
Di dalam kitab As-Sulamuttaufik dan kitab-kitab lainnya gubahan Iman Al-Ghazali, bencana alam terbagi menjadi tiga jenis:
1.Ujian / Cobaan
2.Peringatan / Ultimatum
3.Siksaan / Adzab

Ujian / Cobaan diberikan kepada hamba Allah yang bertakwa supaya Allah mengangkat derajatnya, memuliakannya di dunia dan akhirat. Bencana semacam ini misalnya dialami Nabi Ibrahim AS ketika dibakar oleh Rada Namrud ( Nbukadnezar II -- Babylonia ), Nabi Nuh AS ketika ditimpa banjir, Nabi Muhammad ketika dilempari batu. Kesemuanya ini ditimpakan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai bukti kecintaan Allah kepada mereka sehingga, jika mereka bersabar, Allah akan mengangkat derajat mereka ke derajat yang setinggi-tingginya.

Peringatan / Ultimatum diberikan kepada hamba Allah yang beriman yang telah berbuat salah. Sesungguhnya Allah maha pengasih dan penyayang memiliki cara yang unik yang belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh manusia. Allah membuat simbol-simbol, isyarat-isyarat yang sifatnya relatif pada reaksi masing-masing hamba.

" Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapu orang-orang yang beriman mereka yakin perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: " Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik "

Bagi orang yang beriman, bencana itu diyakini sebagai peringatan dari Allah. Mereka mengambil pelajaran darinya dan memperbaiki semua kesalahannya supaya tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Di dalam kitab Mukhtaral-hadits dimuat sabda Nabi SAW yang berarti:

" Hendaklah seorang mukmin tidak terperosok ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya "
 ( Al- hadits )

Siksaan / Adzab ditimpakan kepada orang-orang kafir yang membangkang kepada Allah. Sejarah telah menunjukkan ini, misalnya kaum Nuh AS, kaum Nabi Luth di daerah Sodom dan lain sebagainya.

Para pembaca yang budiman, alangkah bijaknya jika kita menghadapi bencana gempa ini sebagai peringatan kepada kita supaya kita mengambil pelajaran darinya. Mungkin kita telah banyak lupa akan-Nya sehingga lalai, mungkin kita sudah tidak lagi menghayati kalimat Bissmillahirrahmaanirrahiim yang kita baca setiap sebelum melakukan sesuatu, bahwa kalimat itu memiliki pesan bahwa semua tindakan yang kita lakukan itu benar-benar dengan menyebut nama Allah, atas nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, sehingga setiap jengkal langkah, setiap tingkat pekerjaan kita jalani dengan penuh kasih sayang. Seorang pedagang berdagang dengan penuh kasih sayang, ia ramah kepada para pembeli, seorang pembeli membeli dengan penuh kasih sayang, orang yang makan makan dengan kasih sayang sehingga tidak sembarangan membuang sampah karena itu akan merusak, seorang petani bertani dengan kasih sayang sehingga tidak sembarangan menebang pohon karena itu akan mematikan sumber air dan menimbulkan banjir, seorang kontraktor tidak akan memangkas gunung begitu saja karena itu akan menyebabkan longsor.

" Dan apabila ia berpaling ( dari kamu ), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan "
 ( Al-baqarah : 205 )

Seorang mukmin harusnya malu ketika membaca kalimat "Limaadza ta'akhkharal-muslimuuna wataqaddamal-kaafiruuna?" yang merupakan judul sebuah buku yang digubah oleh Syaikh Hassan Al-Banna seorang ulama pembaharu dari Mesir yang mendirikan persatuan islam Ikhwanul-Muslimin pada tahun 1929. Kalimat itu berarti "Mengapa gerangan orang-orang muslim itu terbelakang sementara orang-orang kafir lebih maju dan unggul?". Ada sebuah ungkapan yang muncul:
" Orang kafir lebih islam dari orang muslim sendiri "
Kita kaum muslimin masih berani membuang sampah sembarangan ketika di Singapore meludah di tempat umum saja didenda ratusan dollar Amerika.
Kita kaum muslimin masih beradi membuang minyak di lautan ketika di Amerika meneteskan minyak di laut saja didenda lima puluh ribu dollar.
Kita kaum muslimin masih berani membuang nasi atau membiarkan uang seratus rupiah tergeletak begitu saja ketika orang-orang China menyimpan uang dengan rapi bahkan walau hanya dua puluh lima rupiah
Kita kaum muslimin masih berani menebang pohon ketika di negara-negara maju justeru konservasi hutan dan lahan pertanian mulai digalakkan
Kita kaum muslimin masih bangga dengan pembangunan perumahan megah yang membabat hutan di Kalimantan ketika di Brazil tanaman kopi justeru digalakkan.

Masya'Allah,....pantas bencana ini demikian gencar di bumi ini;..
Kita mestinya ber-INTEROSPEKSI diri.

" mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita...
Yang s'lalu bangga dengan dosa-dosa

Mungkin alam mulai enggan
Bersahaba dengan kita...."
( Kutipan lagu Ebiet. G. Ade )

Ah...Ebiet lagi!!! Hehehehe...cihuuyy...favoritku...
Ya...Ebiet! Pejuang moral yang berdakwah mengajak orang kepada kebenaran dan kesalehan sosial dengan lagu. Seharusnya semua orang islam seperti dia: saling menasihati, mengajak kepada kebaikan, meluruskan yang salah dan merangkul mereka yang sedang terpuruk memerlukan petunjuk.

Para pembaca yang budiman, adalah sangat buruk sifat acuh tak acuh.... Loe loe gua gua.... Biarin aje.... Terserah... Bukan gua ini kok.... Yang penting gua kagak!... Yang penting gua oke oke aja... Biarin aja mereka begitu... Suka suka....Wong itu haknya... Wong ini duit gua... Badan badan gua... Yang mati gua juga sendiri... Ngapain loe ikut-ikutan?...

Masya'Allah...
Saudaraku, Allah memerintahkan kita untuk saling mengingatkan. Tidaklah cukup baik seorang mukmin yang taat beribadah sementara tetangganya masih tenang berjudi. Tidaklah cukup anda bersujud di mesjid yang sepi dan memohon kebaikan kepada Allah. Tidaklah cukup untuk menghentikan bencana ini. Bangkitlah!!!! Ingatkan dan ajak semua orang untuk berbuat baik agar Allah tidak murka kepada kita. Ajaklah temanmu di sampingmu sekarang untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ajaklah temanmu yang saat ini ada di sampingmu untuk sejenak mematikan rokok!

Sesungguhnya manusia itu akan berada pada kerugian kecuali orang-orang yang saling menasihati dan saling berwasiat akan kebenaran dan kebaikan...

" Demi masa....
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian
Keuiali orang-orang yang beriman
Dan orang-orang berbuat amal salih
Dan saling berwasiat dengan kebenaran
Dan saling berwasiat akan kesabaran..." ( Al-'ashr : 1- 3 )

Berbuat amal salih bukanlah hanya memakai serban lalu merunduk di mesjid di sepertiga malam. Berbuat salih bukanlah hanya mendendangkan ayat-ayat suci al-qur'an di malam-malam Ramadan. Semuanya itu percuma jika Anda masih mendapati puntung rokok tergeletak di lantai mesjid. Masya'allah...

Ini hanyalah sebuah tulisan yang penuh sinisme untuk membangkitkan bara api di dalam dada para hamba Allah untuk saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan. Amin.

Saudaraku, karena sesungguhnya bencana yang menimpa itu tidak hanya mengenai orang-orang yang berdosa. Sebagian mereka ada yang baik dan taat. Namun demikianlah cara Allah memberi peringatan.

" dan peliharalah dirimu dari siksaan yang khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah Allah amat KERAS siksaan-Nya "

Kesimpulan
Marilah kita berinterospeksi diri untuk perbaikan jiwa, fikiran dan akhlak seraya kita juga tidak melupakan rekan-rekan kita yang memerlukan bantuan untuk diingatkan, karena sesungguhnya Allah masih menyayangi kita dengan memberikan peringatan yang besar supaya kita memperbaiki diri, menjaga lingkungan, alam dan mengasihi semua makhluk Allah serta bercengkerama dan berinteraksi dengan sesama manusia dengan lebih saling menyayangi dan mengasihi.


Penutup
Alhamdulillahirabbil-'alamiin.
Hamba berdoa semoga ini menjadi amal baik untuk hamba dam menjadi jihad bagi hamba meski dengan sedikit upaya yang belum berarti apa-apa jika dibandingkan dengan nikmat Allah. Amin.

MASIH ADA WAKTU

Bila masih mungkin kita menorehkan bakti
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlash....
Mungpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi...

Kita pasti ingat tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang pergi menghadang....
Tentu ada hikmah yang harus kita tunggu
Atas nama jiwa mari heningkan cipta...

Reff:
Kita mesti bersyukur
Bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan
Tak ada yang bakal dapat menghitung

Hanya atas kasih-Nya
Hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumpun ilalang
Kepada bintang-gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatannya

Reff:
Sampai kapankah gerangan
Waktu yang masih tersisa?
Semuanya mengeleng...
Semuanya terdiam....
Semuanya menjawab tak mengerti...

Yang terbaik hanyalah segeralah bersujud
Mungpung kita masih diberi waktu
( Ebiet. G. Ade )

Selesai  Pukul 10.51 WIB, di rumah ibuku tercinta.
03 September 2009

VIDEO PILIHAN