Mohon tunggu...
Plum
Plum Mohon Tunggu...

Politics, Pop Culture and Trending Analysis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kebijakan DP 0% Rumah Anies Baswedan Berpotensi Memicu Krisis Ekonomi

28 April 2017   00:27 Diperbarui: 28 April 2017   10:53 1184 3 15 Mohon Tunggu...

Pada tahun 2007-2008 Amerika Serikat terhempas salah satu krisis finansial terbesar didalam sejarah negara mereka yang memaksa berbagai bank finansial seperti Bear Stearns untuk tutup dan pemerintahannya pada akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan bank-bank besar lainnya melalui triliunan uang bail out. Sayangnya memang upaya pemerintah tidak cukup untuk membantu rakyat yang kehilangan rumah mereka atau melihat tabungan pensiunan mereka hangus dan dampaknya sangat terasa sampai sekarang. 

Sebagai orang awam saya tidak terlalu begitu mengerti masalah finansial ataupun mendalami cara kerja bursa saham di Indonesia maupun di dunia, dan ketidak mengertian ini juga dirasakan oleh sebagian besar masyarakat yang pada akhirnya jatuh menjadi korban dari krisis tanpa tahu apa-apa. Pada masa krisis moneter yang dialami Indonesia juga demikian, masyarakat banyak merasa syok, namun dibenak mereka mungkin tidak banyak yang memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa krisis ini terjadi, tahu-tahu nilai uang di tabungan mereka anjlok dan semua harga barang naik drastis. Untuk itu saya sangat berterimakasih terhadap komikus seperti Benny and Mice yang menceritakan keadaan krisis moneter secara menghibur dan seadanya dan sutradara seperti Adam McKay yang membuat film The Big Short yang menceritakan tentang terjadinya krisis finansial  Amerika Serikat pada tahun 2007-2008 yang disebabkan oleh kredit kepemilikan  rumah (mortgage). 

Dalam tulisan ini saya akan memberi argumen bagaimana kebijakan kredit kepemilikan rumah yang gegabah ini hampir satu jiwa dengan janji-janji pak Anies mengenai DP rumah 0%, jika masyarakat tidak bisa lebih kritis dan mempelajari contoh-contoh kegagalan diluar, kita kemungkinan akan jatuh di lubang yang lebih dalam. 

Masyarakat perlu menyadari bahwa memiliki rumah itu adalah langkah besar, terutama dalam lingkungan perkotaan seperti DKI yang ruangnya semakin menyempit, variabel-variabel untuk medapatkan rumah yang layak, ergonomis (nyaman), dengan lokasi yang pas, dengan harga yang terjangkau semakin sulit. Banyak perkotaan di seluruh dunia sudah mendorong masyarakat agar tinggal di apartemen, condo atau rumah susun , tetapi memang di Indonesia mayarakat kita masih memilih rumah. Sehingga ketika ada jargon-jargon DP 0%, siapa yang tidak terpincut? Jargon ini paling mengena bagi masyarakat dari kalangan menengah kebawah yang banyak menghuni perkampungan di Jakarta yang bermimpi untuk tinggal ditempat yang lebih layak. 

Kebijakan DP 0% sudah banyak memicu keraguan terutama bagi kalangan developer perumahan dan juga bank-bank yang bertanggung jawab memonitor transaksi kredit. Sudah banyak artikel berupa kritikan dan juga klarifikasi bahwa kebijakan ini sangat menyalahi aturan dan seharusnya tidak digunakan untuk menipu masyarakat. Namun saya hanya menyampaikan satu logika ini, "jika masyarakat tidak mampu membayar DP mereka PASTI tidak mampu membeli ataupun mengangsur rumah"--jangankan rumah kasus rusun pluit saja banyak penghuni yang masih menunggak, karena masyarakat dari kalangan menengah kebawah masih banyak yang memiliki stabilitas pekerjaan dan terlalu mengandalkan asistensi keuangan dari pemerintah untuk berbagai kebutuhan lainnya. Hal ini sudah terbukti juga di pasar perumahan Amerika Serikat, jantung dari krisis finansial yang mengguncang Amerika Serikat dan dunia. 

Masyarakat Amerika Serikat begitu ingin membeli rumah, permintaan terus meninggi dan asumsi bank adalah, masyarakat PASTI akan membayar kredit rumah mereka, untuk itu para bank-bank besar mulai menumpas syarat-syarat  pinjaman atau kredit untuk membayar rumah mereka, seperti DP yang dikecilkan, data penghasilan peminjam dsb. Salah satu pinjaman yang terkenal adalah NINJA Loan, NINJA merupakan singkatan No Income No Job Application yang merupakan kredit/pinjaman pembelian rumah yang diberikan kepada masyarakat yang tidak memiliki penghasilan ataupun penghasilan tetap dan tidak memiliki pekerjaan sama sekali. 

Pada akhirnya banyak sekali masyarakat yang tidak mampu membayar hutang rumah, yang kemudian menjadi beban yang semakin berat ditanggung oleh bank dan juga membuat bunga kredit semakin tinggi sehingga masyarakat yang masih ditengah pembayaran kredit mereka, karena tidak mampu membayar bunga terpaksa dikeluarkan. Ketidak mampuan ini juga tidak dibantu karena ekonomi Amerika Serikat tidak mampu mengutamakan pertumbuhan kaum menengah kebawah, sehingga mereka semakin terpuruk bahkan setelah krisis tergulir. 

Masyarakat pembeli rumah, developer dan bank pada saat bisnis properti sedang booming, selalu memiliki asumsi yang keliru terhadap pasar rumah, jujur saya juga termasuk dalam kategori ini. Kita selalu merasa kalau bisnis properti ataupun menginvestasikan uang kita pada rumah kita sendiri sebagai salah satu tujuan dari hidup kita merupakan area yang aman dan justru semakin menguntungkan. 

Kita juga selalu menaruh kepercayaan pada sosok otoritas, seperti pemerintahan dan bank yang membantu kita melakukan transaksi dan menanam investasi kita, jika ada kebijakan yang semakin mempermudah kita seperti DP 0% pasti kita semua akan tergiur. Akan tetapi inilah yang berbahaya, ketidak tahuan kita dan juga kenaif-an kita terhadap pemerintah, developer dan bank yang akan semakin menggelincirkan kita kebawah. 

Saat ini banyak sekali properti dan perumahan dijakarta yang belum banyak terbeli, tidak terhitung berapa proyek yang saya lihat progressnya tersendat karena dana yang kurang, saya juga memiliki berberapa teman dan kenalan di bidang konstruksi yang terpaksa diberhentikan karena hal yang sama dan anda bisa lihat bahwa pasaran rumah dari tahun lalu sudah mulai turun serta menunjukkan bubble hutang yang akan pecah. 

Sementara itu stimulus ekonomi Jokowi juga belum berjalan secara maksimal, perkembangan ekonomi masyarakat masih lambat sehingga daya beli masyarakat pasti masih datar, terutama dalam membeli investasi besar semacam rumah.  Jika kebijakan ini benar-benar direalisasikan atau diupayakan untuk realisasinya, saya rasa dengan variable pertumbuhan ekonomi saja, masyarakat pasti tidak akan mampu membeli, atau nantinya mereka akan berpotensi menunggak hutang yang besar dan ini akan berdampak bagi kita semua. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x