Humaniora

Apakah Teknologi Membawa Persatuan dan Kemajuan Bangsa?

20 November 2017   20:43 Diperbarui: 20 November 2017   22:02 2268 1 1

Dewasa ini, kita dapat melihat orang-orang dari berbagai jenjang usia dan pendidikan menggenggam sebuah benda berukuran sekitar 4-6 inch di tangan mereka. Ya, berkat globalisasi, benda bernama smartphone ini sampai dan mengubah hidup mayoritas masyarakat Indonesia. Perangkat pintar ini membantu seluruh aspek kehidupan terutama dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Faktanya, dapat kita temukan dan lihat bahwa ponsel cerdas ini membantu membuka lapangan kerja dan ekonomi kreatif di Indonesia. Semenjak kehadiran gagdet ini, orang-orang cenderung dengan gaya modern dan serba praktis, segala urusan dapat diselesaikan secara online. 

Contohnya ada dalam bidang transportasi. Belakangan ini, fenomena luar biasa terjadi dimana kita hanya perlu mengetuk layar ponsel kita dan kita dapat berpergian bebas kemana saja tanpa harus menunggu di pos ojek ataupun mencegat taksi. Perusahaan-perusahaan online ini sangat menguntungkan masyarakat karena berkat mereka, banyak penggangguran menjadi memiliki pekerjaan. Disisi lain, ponsel pintar ini juga mendekatkan yang jauh. 

Fitur-fitur obrolan membuat mengobrol menjadi lebih cepat dan praktis. Dengan adanya kemajuan ini, keadaan sosial di masyarakatpun perlahan-lahan berubah. Banyak orang berhubungan dan berkomunikasi tanpa tatap muka secaralangsung, melainkan menggunakan perantara, yaitu layar ponsel. Dalam bidang pendidikan, ponsel memudahkan interaksi guru dengan murid serta memudahkan kedua belah pihak  menerima pengetahuan yang lebih luas melalui beberapa sumber termasuk BSE. Dari fasilitas di atas, sudah semestinya bahwa generasi kita bisa maju dan dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Manfaat teknologi juga sangat berdampak di bidang sosial politik. Melihat berita tidak lagi harus di televisi, melainkan dapat diakses dengan mudah melalui gadget. Bahkan, pada aplikasi obrolan, ada fitu beruta yang bertujuan menumbuhkan minat membaca para pengguna serta mengisi waktu luang maupun sebagai hiburan ditengah rutinitas yang padat. Terlebih dari itu, dengan membaca berita,perlahan masyarakat dapar memahami berita dan menjadi penasaran akan hal tersebut. 

Secara tak langsung, masyarakat dapat memantau perkembangan pemerintahan sehingga pihak pemerintah akan berusaha menciptakan transparansi. Informasi-informasi yang telah diserap masyarajat akan menjadi pemahaman bagi mereka. Dengan memperoleh pemahaman tersebut dan kemudahan teknologi, mereka dapat mengkritisi dan mengeluarkan pendapat secara bebas, namun tetap bertanggung jawab. Selain itu, dengan adanya program pemerintah berbasis online seperti e-budgeting serta dibagikannya APBN dari masing-masing lembaga pemerintahan, masyarakat dapat melihat aliran uang yang digunakan para pejabat, bagaimana alokasinya, tujuan, dan manfaatnya.

Namun, di sisi lain, teknologi juga membawa dampak negatif bagi para penggunanya, seperti berita hoax dan isu-isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa seperti masalah SARA. Berita hoax yang diragukan kebenarannya membagi masyarakat menjadi 2 golongan, yaitu golongan yang percaya dengan yang tidak. Perbedaan ini dapat menjadi faktor pemicu permasalahan jika kedua pihak saling tidak mau berkompromi. Mudahnya berbagi pemikiran mempermudah orang-orang tidak bertanggung jawab mencari sensasi dengan membuat berita hoax. Begitu juga dengan isu-isu SARA yang terkadang bermula dari status di facebook ataupun twitter. 

Dalam hitungan jam, tulisan tersebut menjadi viral dan masyarakat berlomba-lomba untuk mengeluarkan pendapatnya juga. Jika di dunia ada 6 milyar manusia, disitulah ada 6 milyar pemikiran, kepribadian, dan mindset yang berbeda-beda pula. Setiap orang memiliki pemikirannya masing-masing dan diharapkan dengan perbedaan ini, masyarakat bisa saling tukar pikiran sehingga memperoleh pengetahuan yang lebih luas, bukannya malah pertengkaran. Oleh karena itu, kecanggihan zaman sebaiknya digunakan demi perkembangan bangsa menuju kemajuan, bukannya perpecahan. 

Dalam menggunakan media sosial, diharapkan masyarakat dapat memilah kata yang tepat untuk diucapkan, bahasa yang sopan, serta berpikir ulang jika ingin membagikan gagasannya, terutama yang berkaitan dengan sosial politik. Salah pilih satu kata saja, pemaknaan setiap orang juga bisa berbeda-beda juga. Bagi saya sendiri, teknologi itu seperti koin yang mempunyai dua sisi, yaitu positif dan negatif. Semua itu tergantung pada perspektif kita sendiri dan cara kita menggunakan koin tersebut.