Mohon tunggu...
Aulia Zahra
Aulia Zahra Mohon Tunggu... Mahasiswa Manajemen UIN MALIKI MALANG

Fashionable, berwawasan, terpenting mandiri.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Minoritas Pun Mempunyai Hak yang Sama

2 April 2021   07:29 Diperbarui: 2 April 2021   07:56 171 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Minoritas Pun Mempunyai Hak yang Sama
exception-5d6b94a4097f36133007ba44-60666bac8ede4862712384e3.jpg

Halo teman-teman semuanya.

Bagaimana nih kabarnya? Tentu sehat-sehat ya. Jagalah kesehatanmu, jangan lupa untuk selalu berpikir positif, dan bersyukur atas nikmat apapun yang kamu rasakan saat ini. Oh ya.. jangan lupa pratekkan sekali lagi saya beritahukan untuk pratekkan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama yang semuanya dinaungi oleh Pancasila, namun benarkah semua suku tersebut dilindungi? Apakah itu dirasakan di semua tingkatan? Bagaimana dengan mayoritas dan minoritas? Hal pertama yang perlu dibicarakan adalah agama, agama sudah menjadi pembicaraan yang tak ada habisnya di negeri kita tercinta ini, terutama di malam tahun baru dan natal.

Tahun ke tahun hanya itu pembicaraan yang dipermasalahkan. Penggunaan nama mayoritas untuk mengedepankan kepentingan dan keinginan golongan tertentu bukanlah hal baru, sebagaimana adat istiadat yang terus diajarkan. Banyak orang dan juga tak sedikit mengatakan bahwa mereka adalah generasi penerus. Mereka dengan bangga berkata: "Kalau bukan kita, siapa lagi?" Padahal, kita seharusnya tidak hanya menjadi "generasi penerus", tetapi juga generasi yang lurus. Kadang-kadang teori-teori berpikir manusia lebih rendah dari pemikiran tradisi. Disini saya tidak memonopoli mayoritas ya, hanya menyatakan yang sebenarnya.

Nah, salah satu hal yang paling menonjol di akhir tahun pasti "Dilarang mengucapkan Selamat Natal dan dilarang merayakan Tahun Baru". Apa kalian tidak capek mendengar hal itu dari tahun ke tahun? Apakah dengan mengucapkan selamat saja berarti iman terguncang? Atau apakah akan mengubah keyakinan hanya dengan mengucapkan selamat?. Ternyata teman-teman selama ini kita dibatasi oleh keyakinan dan pemikiran yang dangkal.

Coba teman-teman bayangkan, bagaimana ketika hari kebesaran keagamaan kalian dibatasi karena alasan toleransi mayoritas? Saya pikir ini alasan yang sangat tidak masuk akal. Jika kita yang dilarang merayakan hari raya keagamaan di depan umum, bagaimana perasaan kita? Tentu hal ini akan menimbulkan banyak perlawanan, karena sudah pasti kita akan merasa tersinggung. "Tempatkan dirimu pada posisiku" atau "cobalah berada di tempatmu" adalah salah satu idiom dalam hidup kita. Setiap agama itu mengajarkan yang baik, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal buruk, tetapi kenyataannya masih banyak orang yang mengaku sebagai orang yang paling yakin dan menjadi provokator dalam pertengkaran. Orang-orang seperti itu harus segera ditangani. Terlepas dari persoalan apakah itu benar atau salah, mereka akan berbicara dengan lantang dan melakukan apa yang ia katakan.

Selain melarang selamat hari raya natal dan hari raya keagamaan lainnya, saya juga sering mendengar beberapa pertanyaan dengan alasan mengganggu banyak orang. Salah satunya menolak membangun gereja atau tempat ibadah untuk agama lain. Yang selalu muncul di benak saya, sebenarnya apa yang membuat terganggu? Apakah salah agama lain beribadah kepada Tuhannya? Sebagian masyarakat selalu berpikir bahwa mereka mengganggu aktivitas mereka. Jika ternyata suatu agama menjadi minoritas di satu tempat, dan sebagian besar agama melarang pembangunan tempat ibadahnya dengan alasan mengganggu ketertiban, apa yang akan terjadi? Tentunya, meski undang-undang sudah mengatur hal-hal yang berkaitan dengan agama, termasuk hak asasi manusia, kita tetap merasa sedih. Apakah kita ingin dicap melakukan pelanggaran HAM? Jangan karena kita kelompok mayoritas dan lebih mengedepankan alasan mayoritas dibanding minoritas justru tidak boleh.Ingatlah teman-teman bagaimana jika posisi kita berada diposisi mereka kelompok minoritas?  

Salah satu kasus terkait teman-teman yaitu pelarangan pembangunan rumah ibadah untuk umat Hindu di Bekasi yang jumlah penduduknya merupakan minoritas dari penduduk Bekasi. Namun kenyataannya, mereka memenuhi semua persyaratan untuk pembangunan rumah ibadah mereka, tetapi karena ada penolakan dari mayoritas masyarakat, keadaan menjadi lebih buruk. Ada salah seorang provokator pada saat itu membalikkan fakta dan mengatakan bahwa hanya ada satu komunitas Hindu. Oleh karena itu, dia merasa yakin tidak perlu lagi membangun rumah ibadah, dan dengan bangga meneriakkan kata "jihad" sebagai provokasi. Istilah ini sering disalahartikan oleh umat Islam, mereka meyakini bahwa setiap perbuatan yang berhubungan dengan agama, baik atau jahat, bisa dikatakan sebagai perang suci. Sekalipun ini adalah kesalahan besar. Pemerintah juga merevisi peraturan tentang pendirian rumah ibadah agar tidak ada lagi keributan antara mayoritas dan minoritas, yang berarti masih banyak peraturan pemerintah yang kurang memperhatikan masyarakat minoritas. Bisa dibandingkan dengan jumlah masjid di sekitarnya, setiap beberapa ratus meter pasti akan dijumpai masjid yang memudahkan kita dalam beribadah, tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain? Mereka harus berjalan jauh untuk beribadah, dan beberapa orang hanya bisa beribadah di rumah karena keterbatasan tempat ibadah.

Saya berikan contoh lain di luar Indonesia salah satu kasus tepatnya di Australia, di Annan Grove di South Wales. Islam adalah minoritas di tempat ini. Pada tahun 2002, seorang pemeluk Syiah, Abbas Aly, ingin membangun masjid di tanahnya sendiri agar lebih mudah baginya dan umat Islam lainnya untuk beribadah. Pembangunan masjid tersebut ditolak oleh masyarakat sekitar. karena mereka mengira masjid itu dibangun, maka akan terjadi kerusuhan, dan banyak umat Islam lainnya akan pindah ke sekitar masjid. Penolakan ini dilanjutkan dengan tindakan anarki, di mana kaca pecah dan kepala babi diletakkan di setiap pagar. Namun, Abbas Aly tak tinggal diam, ia terus memperjuangkan haknya dan membawa masalah itu ke pengadilan. Alhasil, pengadilan mengizinkan Abbas Aly membangun masjid karena memenuhi standar yang disyaratkan dan tidak ada alasan lain untuk mencegah pembangunan masjid tersebut. Kini masjid ini berdiri megah, warga sekitar yang sebelumnya menolak menuruti putusan pengadilan.

Inti dari apa yang saya sebutkan di atas adalah bahwa jika kita menjadi mayoritas, tidak berarti kita dapat memperlakukan kelompok minoritas dengan semena-mena, bagi kelompok minoritas jangan pernah merasa tertindas, atau takut bahwa kita benar. Kelompok minoritas pun mempunyai hak yang yang sama dengan kelompok mayoritas. Terima kasih.

VIDEO PILIHAN