Cerpen

Semu

3 Januari 2019   08:07 Diperbarui: 3 Januari 2019   08:47 114 3 1

Oleh : Nur Aulia Lidyanto

Lembayung kian turun meninggalkan jejak jingga di angkasa. Lolongan sendu dari ajak-ajak liar seolah menggambarkan kesedihan yang dirasakan iring-iringan pembawa keranda menuju tanah pekuburan. Gerimis ringan menyapu wajah-wajah sedih sanak famili si mati, menggantikan airmata di pipi mereka. 

Si Kulin penggali kubur telah siap dengan cangkul di pundak. Sebelumnya ia pula yang telah membuat lubang berukuran dua meter dan lebar setengah depa itu. Tanah kuning bercampur air hujan membuat kubangan setinggi betis dalam liang lahat. Sekalipun hujan sore itu tak deras adanya.

Kain penutup keranda disingkap ke samping, menampakkan seonggok bangkai manusia yang terbaring di dalam bungkusan kain kafan. Tiga pemuda yang diyakini sebagai anak dari si  mati, membopong jasad dan memasukkannya kedalam peti kayu jati yang di minta si mati sebelum malaikat maut menjemput. 

Awalnya pemuka agama setempat tak mengizinkan penggunaan peti sebab seorang mati harus menyatu dengan tanah dan dimakan cacing. Namun tanah pekuburan yang teramat banyak kandungan airnya mengharuskan jasad yang hendak di kubur itu mengenakannya. 

Seorang ustadz membuka tali pocong di leher dan nampaklah wajah pucat sedikit membiru di baliknya. Wajah itu disibakkan ke samping menghadap kiblat, di adzankan dan kembali peti di tutup. Membuat sesenggukan para wanita ahli waris menangis di sudut-sudut peti.

Peti kayu jati itu perlahan di turunkan dengan mengulur tali dari enam sisi nya oleh masing-masing anggota keluarga si mati. Terdengar tangisan pilu nan lara melihat peti mulai terbenam menuju dasar tanah berair. Petugas pemakaman menaburi tanah di atasnya hingga peti mati itu benar-benar tidak nampak lagi. 

Bunga-bungaan bermacam warna dan jenis mulai ditabur di atas tanah basah pekuburan. Seorang wanita paruh baya menyiramkan air mawar dari sebuah botol kaca yang ia bawa sedari rumah. Dengan linangan air mata ia menandasakan air itu hingga ke tetes terakhir.

Kelompok orang-orang berbaju hitam satu demi satu meninggalkan si mati sendirian di liangnya. Juga dengan mereka yang tadi menangis tersedu-sedu. Iring-iringan yang mengantar si mati sudah tiada lagi tampak.

Batu nisan baru dan tanah yang masih basah di tengah pekuburan umum. Padahal yang terbaring disana ialah seorang petinggi di negeri ini. Sebuah frame foto yang menampakkan seorang lelaki enam puluhan tersenyum, dengan kacamata juga kemeja putihnya. Juga payung yang menaungi nisan dan foto itu. Juga rangkaian bunga bermacam varies mengelilingi petak tanah liang lahat. Namun tak satu pun ia bawa kedalam kuburnya selain kafan dan peti mati.

"makam siapakah yang engkau gali tadi suamiku?" Istri Kulin memecah keheningan dua suami istri yang tengah duduk di kursi panjang terbuat dari bambu.

"Ia seorang kaya, juga berkedudukan di negeri ini. Tapi tidak lah semua yang ia miliki mengikutinya keliang kubur." Terang Kulin kepada Minah. Paruh baya yang setia. Sosok wanita masa lalu yang hidup di masa kini, telah menemani Kulin menghabiskan seperempat abad hidup bersama tanpa seorang anak untuk diasuh. Sembari menyesap kopi hitam racikan sang istri.

Ia kemudian melanjutkan, "Ia korup, hingga ajal menemuinya setelah putusan hakim soal berapa lama ia harus menginap di hotel prodeo". Minah hanya tercengang mendengar penuturan si penggali kubur. Dalam otak berputar pertanyaan-pertanyaan perihal pengetahuan suaminya terkait orang yang baru di kubur itu.

"siapakah gerangan yang telah memberitahukan engkau soal yang begitu? Lalu apa tidak ada wartawan yang menjejali pekuburan?" Minah antusias menanggapi cerita sang suami tanpa mengindahkan pengetahuan Kulin.

"Dua orang peziarah yang mengantarkan ke pemakaman membicarakannya di perjalanan pulang. Aku tidak sengaja curi dengar pembicaraan itu sebab aku berada di belakang bayangan mereka saat itu. Keduanya merupakan kerabat jauh si mati." Kulin mengetukkan jari di atas tungkahan kursi bambu, tanda berpikir, "kalau tidak salah yang wafat bernama bapak Soeprapjo seorang pegawai tinggi di peradilan agama".

"walah, wong peradilan agama?!" sergah Minah. Kulin mengisyaratkan kepada istrinya untuk mendekatkan telinga

 "kematiannya di rahasiakan pihak keluarga karena takut tersebar isu bahwa pak Prapjo itu bunuh diri". Ucap Kulin setengah berbisik kepada istrinya.

Keduanya hening seketika. Persepsi macam-macam seketika berkelebat di benak mereka.  

"memang benar kata ibu bapakku dulu" Minah  menerawang mengingat masa lalu "mau jadi apapun kita di dunia, mau seberapapun kita kaya, mau dimanapun posisi kita semua akan di tinggal pabila ruh berpisah dari jasad. Hanya beberapa lembar kaci saja yang ikut masuk ke lahat". Minah menatap Kulin lekat sembari tersenyum.

"iya benar katamu dek, pada akhirnya dunia hanya persinggahan sementara. Pertama kita yakin semua yang kita miliki tidak akan berakhir lalu ketika si kematian datang seolah yang telah kita kumpulkan adalah kesia-siaan belaka". Pembicaraan petang itu ditutup saat samar-samar suara bocah belasan tahun mengumandangkan adzan magrib di arah barat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2