Mohon tunggu...
Aulia Ulva
Aulia Ulva Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Sastra Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Dari Hukum, Ilmu Gizi, Berlabuh di Sastra, Cuma Pelarian?

28 Oktober 2020   20:56 Diperbarui: 29 Oktober 2020   10:19 35 2 0 Mohon Tunggu...

Menentukan jurusan dari dulu hingga sekarang, masih sangat sulit. Sama ketika mencari jarum di tumpukan jerami, atau mencari jodoh yang cocok untuk hidup kita. Kedua analogi itu sangat pantas disandingkan untuk anak SMA yang labilnya minta ampun. Apalagi anak-anak millenial seperti sekarang. Saya juga menjadi bagian anak millenial itu. Dikit-dikit snapgram, dikit-dikit story whatsapp "lagi galau nih nentuin jurusan". Untuk kalian yang pernah merasakan ini, kalian turut membenarkan kalimat susahnya menentukan jurusan.
Saya adalah orang yang cita-citanya selalu berubah, mungkin hampir setiap saat. Liat baju dokter keren, liat seragam polwan mantap, liat baju menawan jaksa tertarik, sesuai keadaanlah. Namun, ketika saya masuk SMA saya tertarik pada jurusan hukum. Entah mengapa perihal undang-undang dan KUHP selalu memberikan daya pikat yang begitu besar. Belajar PKN pun, rasanya selalu menjadi pelajaran yang menyenangkan.
Anehya, saya jurusan IPA. Mungkin karena sebenarnya saya otak IPS tapi lari ke IPA karena faktor teman. 3 tahun itu diisi dengan bayang-bayang ingin jadi jaksa. Namun bak mendapat pencerahan, saya berbelok ke jurusan ilmu gizi. Sebenarnya tidak terlalu tertarik, bahkan tidak tahu menahu. Tetapi karena di SNMPTN kata orang lintas jurusan itu susah makanya berbelok ke jurusan itu. Jurusan itu pun saya pilih karena jarang, dan hanya saya memilihnya di SNMPTN. Gak papalah, yang penting peluang besar.
Singkat cerita, saya dinyatakan tidak lulus. Ya, mau gimana lagi. Akhirnya saya mencoba peruntungan di SBMPTN. Saya memilih sastra Indonesia dipilihan kedua. Itupun sebenarnya tidak terlalu niat, hehehe. Anehnya, saya lulus disana. Saya langsung bimbang. Sastra kerjanya apa? Saya jadi sastrawan? Hah gimana?
Awalnya memang saya belum jatuh cinta. Tapi semakin kenal, cinta itu terus tumbuh. Mungkin diantara kalian juga mengerutkan kening kalau jurusan  sastra. Sudah sastra, Indonesia pula, kerennya dimana?.
Prospek kerja sastra tidak sama suramnya yang dipikiran orang-orang. Bahkan, prospek kerja sangat luas melintang. Kalau mungkin jadi penulis sudah lumrah di mata masyrarakat, maka tidak menutup kemungkinan lulusan sastra Indonesia bisa berkaprah di dunia jurnalis sampai dunia televisi. Bisa jadi editor,sampai penulis skenario. Selain itu, juga bisa jadi guru, dosen,  atau bekerja di badan bahasa.
Saya sungguh jatuh cinta dengan jurusan ini. Saya mampu menjadi diri sendiri dengan mempelajari apa yang senangi, dan apa yang menjadi passion saya. Mungkin bagi kalian yang takut masuk jurusan sastra, utamanya sastra Indonesia. Jangan pernah takut hidup sengsara. Justru kamu akan bahagia belajar hal yang membuatmu menjadi diri sendiri. Kalau dibilang sastra cuma pelarian, mungkin awalnya memang begitu. Tapi semakin kesini saya semakin sadar, sastra bukanlah pelarian tapi justru jadi tujuan. Saya bahagia belajar sastra!




VIDEO PILIHAN