Mohon tunggu...
AUDRI APRILIA PWK UNEJ
AUDRI APRILIA PWK UNEJ Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Mahasiswa yang sedang belajar menulis artikel

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Ketidakmerataan Penyaluran Bantuan Pemerintah Menyebabkan Kemiskinan

12 Oktober 2022   21:09 Diperbarui: 12 Oktober 2022   21:13 141
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kemiskinan merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia saat ini. Jika dalam lingkup luas, kemiskinan sangat merajalela terutama pada daerah ibu kota. Kemiskinan merupakan hal yang ditakuti oleh seluruh umat manusia. Kesenjangan sosial yang ada saat ini, merupakan tolak ukur bahwa kemiskinan masih merajalela pada rakyat Bangsa Indonesia. 

Kemiskinan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor -- faktor inilah yang menjadikan kemiskinan belum dapat diatasi secara menyeluruh baik oleh usaha masyarakat itu sendiri maupun pemerintah setempat.

Jika dijabarkan lebih luas, faktor -- faktor tesebut antara lain yaitu:

  • Faktor Pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan sangat mempengaruhi ilmu pengetahuan seseorang. Masyarakat miskin pada umumnya hanya bersekolah pada tingkat pertama yaitu Sekolah Dasar (SD). Setelah mereka dapat membaca, menulis, dan menghitung, masyarakat miskin akan berhenti mengenyam pendidikan. Karena menurut mereka, bekerja lebih bermanfaat karena dapat menghasilkan uang, sedangkan ketika bersekolah mereka hanya duduk saja dan pulang dengan perut kelaparan. Mereka berpikir bahwa, sekolah membutuhkan biaya yang cukup banyak. Membeli seragam, sepatu, buku, dan perlengkapan lain menjadi beban tersendiri bagi masyarakat dengan perekonomian rendah. Karena mainset itulah yang menyebabkan anak -- anak pada kalangan ekonomi rendah memilih untuk bekerja membantu orang tua. Mereka lebih memilih menghasilkan uang daripada menghasilkan ilmu pengetahuan.
  • Faktor Ketersediaan Lapangan Pekerjaan. Faktor ini sebenarnya terkait dengan faktor yang pertama yaitu pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan yang mereka ikuti membuat rendahnya ilmu pengetahuan yang mereka ketahui. Sehingga, perusahaan tidak ada yang menerima pekerjaan dengan ijazah Sekolah Dasar (SD). Diluar ijazah kelulusan yang dimiliki masyarakat kalangan kebawah. Skill atau kemampuan yang mereka miliki juga sangat basic. Alhasil pekerjaan yang dapat dilakukan missal seperti buruh bangunan, asisten rumah tangga, dan buruh pabrik dengan penghasilan yang cukup rendah. Hingga pilihan terburuknya menjadi pemulung, pengemis, bahkan gelandangan.
  • Faktor Keturunan. Keturunan ini, sulit diubah kecuali dengan usaha dan tekad masing -- masing individunya. Orang tua yang miskin, berimbas kepada anaknya sehingga mengakibatkan taraf hidup anaknya menjadi miskin pula. Sedikitnya imu pengetahuan yang diterima orang tua mereka, membuat keterbatasan ruang untuk mengeksplor untuk membuka pola piker yang luas.
  • Faktor Internal dari dalam Diri Sendiri. Hal internal ini dapat dicontohkan yaitu sifat malas. Masyarakat dengan ekonomi rendah biasa menggantungkan hidup kepada orang lain dengan belas kasihan dan berbagai hal lainnya. Kemalasan dalam mencari ilmu, kemalasan dalam bekerja, dan kemalasan dalam mengasah kemampuan membuat masyarakat perekonomian rendah tersebut tetap berada pada titik mereka saat itu. Salah satu faktor yang harus disosialisasi adalah terkait dengan pentingnya pendidikan dan menghilangkan faktor kemalasan bagi setiap individu.

Kebijakan terkait perencanaan tata kota cenderung hanya dalam aspek fisik saja. Salah satu yang sudah dilakukan adalah terkait pembenahan atau restrukturisasi bangunan sebagai tempat tinggal masyarakat dengan perekonomian rendah menjadi bangunan yang layak dan sedap dipandang. Upaya restrukturisasi ini tentunya harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan mengidentifikiasi aspek wilayah dan tetap memperhatikan kawasan lindung serta drainnase. 

Pengembangan ini masih sulit dilakukan karena keterbatasan biaya untuk menrestrukturisasi bangunan secara besar -- besaran. Jika pengembangan tidak dilakukan secara merata pada pemukiman kumuh, akan berakibat terjadinya kesenjangan bagi para masyarakatnya. Maka dari itu, jika pemerintah melakukan restrukturisasi ini diharapkan mampu mengambil resiko yang besar dalam biaya pembangunan tersebut.

Perbaikan aspek secara fisik mudah dilakukan, sedangkan aspek dalam dari masyarakat itu sendiri masih kurang. Aspek dalam yang dimaksud adalah kesadaran dalam diri mereka itu masih miskin. 

Peningkatan kulaitas hidup masyarakatnya dapat ditingkatkan melalui sosialisasi, adanya kursus untuk melatih potensi, dan menempuh pendidikan wajib 12 tahun harus segera digalakkan. Sehingga masyarakat tersebut tidak hanya memikirkan hasil usaha secara singkat, tetapi memikirkan hasil usaha dengan menikmati prosesnya seperti mengikuti pendidikan wajib 12 tahun atau melatih potensi dengan kursus. 

Sebaiknya program -- program terkait kursus atau sekolah gratis segera digalakkan oleh pemerintah dan diharapkan target yang didapatkan sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Kesenjangan pembangunan yang terjadi di Bangsa Indonesia ini menjadi hasil yang sangat memperlihatkan bahwa kemakmuran rakyat dalam perekonomian masih sangat minim.

Pengembangan potensi dari lingkungan sekitar sebenarnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya sendiri. Potensi dapat diperlihatkan ketika masyarakat sekitar wilayah tersebut mampu menyadari dan memahami lingkungan sekitarnya. Jika pendapatan masyarakat mampu terpenuhi sesuai dengan kapasitan kebutuhan mereka, kemiskinan akan berkurang. Pengimplementasian dari potensi itu yang wajib digali lebih luas lagi.

Pada Kabupaten Jember berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember (BPS) penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan pada bulan Maret 2021 berjumlah 257,09 ribu jiwa. Jumlah tersebut bertambah bila dibandingkan dengan kondisi Maret 2020 yang berjumlah 247,99 ribu jiwa. 

Hal tersebut meningkat dikarenakan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Semenjak dilanda pandemi Covid -- 19 banyak masyarakat yang kehilangan lapangan pekerjaan dan bekerja secara serabutan. Namun, saat ini perekonomian masyarakat sudah lebih baik dari sebelumnya. Program -- program pemerintah cukup membantu disaat pandemic Covid -- 19 melanda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun