Mohon tunggu...
M AudreyHasanal
M AudreyHasanal Mohon Tunggu... Jurnalis - Sriwijaya university college student

Surga dunia tidak boleh dibangun diatas penderitaan orang.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Masa depan dari Kajian Strategi: Proteksi Pemerintah Indonesia dalam Melarang Pemulangan WNI dari ISIS Tahun 2020 terhadap Keamanan Nasional

28 November 2021   15:32 Diperbarui: 28 November 2021   22:27 310 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Keamanan. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Pixelcreatures

If you know the enemy and know yourself, you need not fear the results of a hundred battles

-Sun Tzu-

Prolog

Definisi dalam menciptakan strategi keamanan pada perang dunia ke 2 selalu menghadirkan asumsi yang sangat bersifat state centric karena dianggap sebagai aktor paling rasional dalam Hubungan Internasional, bahka dalam mempersepsikan ancaman keamanan masih menghadirkan permasalahan yang sangat sempit seperti konfrontasi militer, dan mengabaikan aspek pemaknaan dalam keamanan yang sebenarnya memiliki arti yang luas seperti keamanan sosial, ekonomi, bahkan lingkungan hidup (Nana Poku, 1998). Sehingga dalam konteks ini (state centric) hanya berfokus tentang bagaimana usaha negara dalam mempertahankan teritorialnya dari ancaman yang datang dari negara lain, dan dalam pencapaiannya itu selalu ditempuh dengan cara pemaksimalan kapabilitas negara dalam memperbannyak senjata atau memperkuat angkatan militernya (Meder, 2008), sehingga keamanan yang hanya menghadirkan negara sebagai aktor dan keamanan yang bersifat militer bisa disebut sebagai keamanan tradisional dan memiliki relevansi dengan perspektif tertua pada Hubungan Internasional yaitu Realisme klasik.

Namun, pasca perang dingin telah meluaskan isu dan konsep keamanan internasional, sehingga memungkinkan bahwa keamanan tidaklah identic dengan yang namanya military centric sebagai sarana untuk mencapai keberlangsungan hidup suatu negara. Jika sebelumnya disebutkan bahwa ancaman keamanan diatas adalah keamanan tradisional, maka ancaman keamanan yang meluas disebut sebagai ancaman non tradisional, dan pemaknaann ancaman non tradisional ini memiliki relevansi dengan perspektif realisme sebelumnya yang mengalami perkembangan menjadi neorealisme. Neorealisme dan keamanan non tradisional memandang bahwa ancaman keamanan tidak selalu datang dari tekanan militer dari negara lain, adapun ancaman non tradisional yang hadir adalah: konflik SARA, degradasi lingkungan, kelompok terorisme, dan kejahatan transnasional lainnya (Yanyan Mochamad Yani, 2017).

Semenjak pasca kejadian 9/11 yang terjadi di gedung World Trade Center (WTC) Amerika serikat, aksi kelompok terorisme yang berasal dari kaum fundamentalis dan kaum ekstremis Islam (Ahmed, 2002) yang bernama al qaeda, Dari aksi yang dilakukan oleh Al Qaeda inilah yang nantinya akan muncul adanya butterfly effect  bagi Kelompok teroris dengan keyakinan Ekstremis Islam untuk melakukan terror di berbagai Negara lainnya termasuk  Indonesia di kemudian hari. Dalam menghadapi kasus ini, berbagai negara juga telah melakukan berbagai kebijakan dalam menjaga keamanannya dari kaum ekstremis ini. Diawali dengan gagasan War on Terrorism yang dicetuskan oleh presiden Amerika Serikat George Bush dalam melabeli ancaman keamanan yang bersifat non tradisional ini tepatnya pasca 9/11.

Isu mengenai warga negara yang terpapar paham radikalisme akibat dipengaruhi oleh kelompok ekstremis, salah satunya ISIS, telah menjadi sebuah Fokus Isu yang dihadapi oleh berbagai macam negara, adapun negara yang termasuk di antaranya adalah Indonesia itu sendiri. Hal ini disebabkan, orang yang terpapar paham radikalisme tidak hanya menargetkan pemerintah saja akan tetapi aksi
yang dilakukan orang yang terpapar radikalisme juga akan menargetkan warga warga sipil yang tidak bersalah. Namun yang membuat ISIS dapat lebih berbahaya disamping melakukan aksi terorisme di dalam negeri kita adalah, mereka dapat mendoktrin anak anak muda agar secara sukarelawan mau untuk berjihad bersama mereka di Suriah ataupun Iraq guna memerangi apa yang dianggap bersebrangan oleh organisasi ekstremis ini, metode yang dilakukan oleh ISIS dalam menghasut generasi muda itu terbilang sangat memiliki korelasi yang cukup erat dengan pendapatan rata rata masyarakat Indonesia. 

Sumber

Hal ini sangat mengkhawatirkan pemerintah Indonesia bahkan kita semua akan ketahanan nasional yang juga berdampak kepada keamanan manusia juga, berbagai upaya dalam mencegah WNI agar tidak berangkat ke ISIS mulai dari membuat kebijakan yang dihadirkan dari BNPT (Badan nasional penanggulangan terorisme) seperti mengajak pemuka agama agar memberikan pendidikan
agama bahwa definisi jihad tidak pernah mengarah ke kekerasan dan ancaman pencabutan kewarganegaraan bagi yang masih ngotot untuk berjihad ke suriah ataupun Iraq (Wardah, 2014). Namun tercatat sebagai upaya terakhir indonesia adalah ketika WNI yang merupakan Ex Combattan (Foreign Terrorist Fighters) dari ISIS ingin berpulang ke tanah air akan dicegah pemulangannya guna mencegah penyebaran radikalisme yang timbul akibat kelompok ekstremis ini.

Pisau analisis 

Neorealisme Kenneth Walz

Kerangka teori yang akan di pakai dan memiliki relevansi yang kuat adalah Neorealisme. Asumsi dasar neorealisme sedikit mengadopsi dari perspektif realisme klasik yang dimana dalam mengejar keamanan negara di tengah sistem internasional yang anarki ini harus ditempuh dengan memaksimalkan pertahanan dari ancaman yang datang dari negara lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Keamanan Selengkapnya
Lihat Keamanan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan