Daniel Yonathan Missa
Daniel Yonathan Missa Pelayan Pendidikan

Saya anak kampung yang mengabdi sebagai pelayan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sikap Spiritual Dicerminkan Sikap Sosial

13 Oktober 2017   13:00 Diperbarui: 13 Oktober 2017   17:01 643 0 0

Ada empat Kompetensi Inti (KI) dalam kurikulum 2013. KI -- 1 antara lain: menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya. KI -- 2 yaitu: menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangganya. Kedua KI ini mengacu pada ranah sikap (attitude).

Sementara itu unsur-unsur yang terdapat dalam KI -- 3 ialah memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain. Sedangkan KI -- 4 tentang Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia. Jelas bahwa KI 3 dan KI 4 mengacu pada aspek pengetahuan dan keterampilan.

Menumbuhkan Sikap Spiritual

KI -- 1 dan KI -- 2  bersifat vertikal dan horizontal. Sikap yang dimaksudkan di sini tak lain daripada sikap sosial dan sikap spiritual. KI -- 1 memberi pencerahan kepada anak didik bahwa alam semesta dan segala isinya, termasuk dirinya, tidak ada dengan sendirinya. Ada "Kekuatan" di luar semua kekuatan dan potensi yang ada dalam alam semesta dan diri anak didik itu sendiri yang menyebabkan semua itu ada. Dan karena "Kekuatan" itu pula, maka alam semesta dan segala isinya, dan anak didik itu sendiri bisa menjadi tidak ada. Sebagaimana segala sesuatu diciptakan dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Sepatutnyalah manusia mengetahui, mengenal, dan membangun relasi dengan "Kekuatan" tersebut dalam sikap hormat dan takut akan Dia, sesuai dengan ajaran agama anak didik sendiri.

Menajamkan Sikap Sosial

Secara kodrati, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Di sekeliling manusia terdapat banyak komponen yang membuat manusia dapat hidup dan beraktifitas. Salah satu komponen penting ialah manusia lain yang hidup bersama dengan anak didik. Misalnya kakek-nenek, orang tua, guru, sahabat, teman, tetangga, atau bahkan orang-orang yang ditemui anak didik dalam perjalanan ke/kembali dari sekolah/aktifitasnya. Anak didik dapat berguna bagi kelompok manusia tersebut jika berperilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diri. Inilah yang hendak dicapai dalam KI -- 2.

Sikap Spiritual Dicerminkan Sikap Sosial

Melalui agama, anak-anak belajar mengenal kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang sudah diketahui bak mutiara terpendam apabila tidak ditunjukkan kepada orang lain. Maka pengetahuan tersebut hanya bermanfaat untuk diri sendiri.

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Bukan hanya supaya manusia dapat saling menolong dan menempatkan manusia lain dalam porsi yang tepat, melainkan juga sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kehendak Tuhan. Interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain, baik secara individu maupun kelompok, hendaknya dilakukan dalam nilai-nilai yang mencerminkan kehendak Sang Pencipta.

 Sikap sosial mencerminkan sikap spiritual. Secara spiritual, agama mengajarkan tentang apa yang harus dilakukan. Dalam interaksi sosial anak-anak didik menunjukkan caranya. Sang Pemilik Kehidupan menghendaki umatnya hidup jujur, taat (disiplin), santun, penuh kasih (peduli), dan percaya diri (tidak minder). Nilai-nilai tersebut hanya dapat ditunjukkan dalam interaksi dengan kakek-nenek, orang tua, guru, sahabat, teman, tetangga, atau orang-orang yang ditemui anak didik dalam aktifitasnya.