Mohon tunggu...
Atma Mubarok
Atma Mubarok Mohon Tunggu... Pemuda

Kematian itu pasti bagi setiap yang bernyawa

Selanjutnya

Tutup

Musik

Romantika Kaset Pita

17 Juni 2021   18:49 Diperbarui: 17 Juni 2021   20:06 61 2 0 Mohon Tunggu...

Kali ini saya akan membahas kegemaran baru saya khususnya di bidang musik. Munculnya hobi baru tentu ditenggarai karena banyaknya waktu luang di masa pandemi yang sudah lebih dari setahun. Selama lima bulan terakhir, saya jadi tertarik untuk mengumpulkan rilisan fisik dari beberapa musisi khususnya dalam format kaset pita. Alasannya karena saya punya sentimen tersendiri dengan format rilisan fisik yang satu ini. Kaset pita adalah satu-satunya rilisan fisik yang saya kenal dan punya pertama kali. Saya ingat ketika masih berumur lima tahun dimana keluarga saya punya sebuah tape compo baru. Sejak saat itu, saya mulai akrab dengan musik dan kaset pita tentunya.

Untuk selera musik keluarga desa, tentu tidak jauh dari dangdut Ida Laila, atau Rhoma Irama. Sementara kakak saya, tentu memilih Iwan Fals atau Jamrud dengan lirik-lirik nakal sebagai asupan setiap hari. “Oemar Bakrie” dan “Tikus Kantor” menjadi lagu Iwan Fals pertama yang terus membekas sampai saat ini. Lirik yang deskriptif membuat imajinasi seorang bocah berumur lima tahun kian tinggi. Yang saya pahami ketika mendengar lagu Tikus Kantor kala itu adalah, adanya tikus yang muncul di tempat kerja seorang pekerja kantoran. Baru ketika beranjak dewasa, saya mulai paham makna implisit soal sindiran pada koruptor dalam lagu tersebut.

Itu adalah sedikit alasan ketertarikan saya untuk mengumpulkan kaset pita, tentunya selain harga vinyl yang belum bisa saya jangkau. Era digital seperti sekarang, rilisan fisik bukan lagi kewajiban yang harus dikeluarkan seorang musisi. Kanal Youtube, music streaming di Spotify, tentu lebih murah dan mudah untuk diakses. Tapi apa mau dikata, alasan saya membeli kaset pita karena memang ingin punya lagi rilisan fisik. Kalo mau dirunut, kaset sebenarnya bukan format pertama rilisan fisik. Masih ada vinyl yang jauh hadir lebih dulu. Tapi memang harganya relatif lebih mahal, yaitu kisaran di angka 400 ribu sampai jutaan rupiah. Tapi dengan harga seperti itu, kualitas yang dihadirkan vinyl memang jempolan kalo mau diadu. Baik dari segi kualitas audio atau durabilitas, vinyl masih jadi juara.

Balik lagi ke kaset pita, mengapa memilih kaset pita dan bukannya CD. Padahal kan sudah ada rilisan fisik dalam format CD yang hadir sebagai format baru yang lebih mudah. Alasannya mungkin CD terkesan kurang analog, sehigga tidak begitu menarik bagi saya. Juga kalau boleh jujur, keluarga saya tidak pernah membeli yang namanya CD. Karena memang kami tidak punya playernya, alasannya? Karena miskin, apalagi?. Keluarga yang memiliki CD player, adalah mereka yang menempati strata sosial tinggi di masyarakat waktu itu. Sehingga bagi keluarga proletar, kaset pita menjadi alternatif apabila ingin mendengarkan musik. 

Untuk masalah harga kaset pita saat ini, sebenarnya relatif murah tergantung siapa musidinya dan bagaimana kondisinya. Kebanyakan kaset pita yang ada saat ini kondisinya bekas dengan tahun rilisan lama. Untuk beberapa kaset bekas yang kondisinya masih bagus, tentu dibandrol dengan harga lebih tinggi. Misalnya album dari Godbless, Iwan Fals atau mungkin musisi yang lebih baru seperti White Shoes and The Couples Company. Harganya bisa tembus lebih dari 300 ribu untuk satu buah kaset pita dengan kondisi yang bagus. Kenapa harganya bisa tinggi, mungkin karena album yang dibuat dalam format kaset tersebut adalah album fenomenal dari sang musisi, atau bisa juga first press (rilisan pertama). Untuk masalah harga apabila kita bicara soal kaset pita, memang tidak ada patokan. Karena kaset pita jatuhnya bukan sekedar rilisan fisik, tapi saat ini sudah menjadi collectible item.

Meski demikian, masih ada musisi yang sampai saat ini merilis albumnya dalam format kaset pita. Misalnya Fleur, tiga perempuan manis dengan genre musik rock 60-an baru merilis EP yang berisi 6 lagu dalam format kaset pita. Atau Komunal dengan deru musik Heavy Metal yang merilis ulang dua albumnya yaitu “Gemuruh Musik Pertiwi” dan “Hitam Semesta” dalam format kaset pita. Juga tidak ketinggalan Mocca yang paling rajin merilis kaset pita sejak album pertamanya, pada tahun 2020 merilis album dengan tajuk “Day by Day”. Sebenarnya masih banyak lagi musisi yang memilih untuk merilis albumnya dalam format kaset. Entah apa alasan mereka memilih kaset pita menjadi salah satu opsi format album mereka. Semoga masih banyak musisi yang konsisten merilis album dalam format kaset pita khususnya.

Sementara harga untuk kaset pita dengan kondisi baru dan tahun rilis baru seperti band-band diatas, dibandrol dengan harga di bawah 100 ribu. Paling tinggi 75 ribu biasanya kalau kita beli di official store. Sehingga opsi untuk mengumpulkan kaset pita lebih banyak, tidak hanya musisi-musisi lawas saja. Soalnya untuk mengumpukan rilisan dari musisi lawas, kita mesti bersaing dengan para kolektor yang lebih dulu bermain. Sehingga kemungkinan untuk mendapat kaset pita dengan kondisi bagi dan harga wajar tentu lebih susah. Karena harus diakui, kaset menjadi rilisan fisik yang saat ini mungkin sama menariknya untuk dikoleksi. Beruntung bagi mereka yang lahir lebih dulu sehingga sempat merasakan membeli kaset pita secara langsung di toko musik.

Tapi apabila masih bersikeras ingin mengumpulkan kaset pita rilisan lawas, ada baiknya kita lebih cermat. Sebenarnya saat ini kita dimudahkan dengan adanya teknologi marketplace dan grub di Facebook. Kita bisa dengan mudah mencari kaset pita yang kita ingingkan, dengan menyiapkan saldo yang cukup tentunya. Karena membeli kaset pita bekas di marketplace, seperti beli kucing dalam brankas. Kita tidak punya akses untuk mencoba langsung dan mendengarkan kualitas audio dari kaset tersebut. Bisa jadi secara tampilan masih baik, tapi kaset pitanya sudah lengket dan jamuran. Atau lebih parah, foto yang ditampilkan di marketplace dan barang yang dikirim, tidak sama. Foto yang ditampilkan masih mulus, sementara yang dikirim sudah penuh dengan coretan pemiliki sebelumnya.

Untuk menghindari hal semacam itu, sangat disarankan untuk membeli kaset pita bekas secara langsung ke penjual. Atau kalau memang terpaksa membeli secara online, usahakan membelinya lewat marketplace atau rekber pihak ketiga. Hal itu bertujuan untuk meminimalisir kecurangan penjual yang mengirim barang dengan kondisi tidak layak. Misalnya lewat Tokopedia atau marketplace lain, kita bisa mengajukan komplain apabila barang dirasa tidak sesuai dengan deskripsi yang dijelaskan penjual. Jadi setelah barang diterima, usahakan langsung mencoba kaset dan diputar di setiap sisinya. Kalau audionya dirasa tidak jelas atau pitanya jamuran, akan langsung ketahuan, sehingga kita bisa ajukan komplain.

Sekian tulisan dari saya, terimakasih.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x