Mohon tunggu...
D AthriKasih
D AthriKasih Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger

Blogger Pekanbaru yang senang jalan jajan dan bercerita dari sudut pandang ISFP-T. email: athrikasih93@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Mandiri Jogja Marathon, Pamerkan Istimewanya Jogja

21 Mei 2019   16:25 Diperbarui: 21 Mei 2019   16:50 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mandiri Jogja Marathon, Memamerkan Istimewanya Jogja. | mandirimarathon.com/gallery 

Menjamurnya komunitas lari di masing-masing daerah Indonesia menjadikan olahraga ini sebagai gaya hidup masyarakat yang sangat mudah untuk dilakukan. Hal ini tentunya menjadikan event ataupun kompetisi lari mulai muncul satu persatu. Dari yang bersifat sekedar senang-senang semacam color run sampai yang lebih berkompetisi layaknya full marathon dengan beragam hadiah, keunikan medali hingga prestise penyelenggara.

Karena kegiatan berlariku hanya sebatas jogging sore-sore di halaman Masjid Agung Annur di Pekanbaru, bayanganku tidak pernah sampai ke kompetisi lari dengan ribuan peserta dengan rute yang juga bervariasi bahkan mampu mendongkrak ekonomi di bidang wisata sebuah daerah. Menurutku, awalnya komunitas lari yang muncul beberapa buah di kotaku hanya buat gaya-gayaan dan tidak akan bertahan lama. Tetapi sayangnya aku salah.

Dari salah seorang teman yang merupakan anggota sebuah komunitas lari dan juga beberapa kali ikutan race competition, bilang bahwa event tersebut untuknya lebih seperti reward untuk diri sendiri. Setelah rutin lari di rute dalam kota bersama teman sekomunitas, rasanya berbeda jika ikut kompetisi yang diselenggarakan oleh daerah lain yang memiliki peserta hingga ribuan orang. Ditambah lagi bonus jalan-jalannya yang tidak bisa dilakukan jika hanya lari di kota sendiri.

Melihat fenomena ini aku jadi tertarik untuk mencari tahu lebih jauh mengenai event-event serupa hingga akhirnya mendapati Mandiri Jogja Marathon yang baru saja selesai diselenggarakan April bulan lalu. Ini adalah sebuah lomba yang berlangsung dengan jarak standar full marathon, half marathon, 10 km dan 5 km, dengan lintasan jalan umum dan jalan desa yang dimulai dari Candi Prambanan.

Lebih dari Sekedar Lomba

Buatku acara ini terlihat sangat menarik, masuk dalam kategori Sport Tourism yang memang memiliki peminat cukup banyak, beragam dan tersebar di banyak wilayah hingga ke luar negeri. Dari ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa penyelenggaraan sebuah event olahraga sangat membantu pertumbuhan wisata di suatu wilayah. Karena dengan adanya sebuah ajang internasional akan ada peningkatan kunjungan dari luar daerah yang meningkatkan kebutuhan atas penginapan, transportasi, serta kuliner yang tentunya memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pemerintah daerah ataupun masyarakat sekitar.

 Indonesia, sebagai sebuah negara dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah, sangat bisa menyelenggarakan event serupa dengan mengkolaborasikan kegiatan olahraga dengan mengeksplorasi kekayaan alam serta budaya yang sudah kita miliki. Dan ternyata aku melihat kolaborasi tersebut di ajang Mandiri Jogja Marathon 2019.

Pemilihan Rute yang dipenuhi oleh keistimewaan Jogja

Rute MJM lalu berlatar kota Jogjakarta khususnya area di sekitar Candi Prambanan, dimana sekitar 7500 pelari dari 9 negara melewati 13 desa yang masyarakatnya ikut menyambut para pelari lewat persembahan kesenian lokal. Event yang turut serta melibatkan masyarakat ini tentunya memberikan semarak yang berbeda. Jalur-jalur yang ditempuh mengekspose keindahan alam desa-desa tersebut juga spot-spot bersejarah yang terdapat disana.

Masyarakat yang menyambut peserta. | mandirimarathon.com/gallery 
Masyarakat yang menyambut peserta. | mandirimarathon.com/gallery 

Ada delapan titik panorama yang bisa dinikmati para pelari full marathon. Pada kilometer 18-20, akan ada suguhan pemandangan indah Gunung Merapi. Pada kilometer 26, akan mereka dapat menyaksikan pemandangan monumen perjuangan. Sementara di kilometer 37-39 akan ada pemandangan Candi Plaosan Lor.

Selanjutnya keindahan pemandangan Candi Plaosan Kidul bisa dinikmati di kilometer berikutnya. Dan terakhir, pada kilometer 40, para peserta akan disambut oleh Candi Sewu dan Candi Bubrah. Dan beberapa ratus meter sebelum finish, peserta dapat menikmati keindahan alam di bawah Candi mendut sebelum akhirnya disambut megahnya Candi Prambanan. Jogjakarta sungguh memamerkan keistimewaannya melalui ajang bergengsi ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun