Kesehatan highlight

Antibiotik: Kawan atau Lawan?

6 September 2017   00:03 Diperbarui: 6 September 2017   00:55 637 1 0

"Aduh, sudah demam dua hari, minum antibiotik saja deh, sepertinya terkena infeksi"

"Mana bisa zaman sekarang hanya minum Amoxicillin, langsung saja Cefixime!"

"Kata dokter harus antibiotik harus dihabiskan, tapi sekarang sudah merasa baikan. Stop saja deh obatnya!"

Pernahkah Anda mendengar kata-kata seperti itu? Asingkah Anda mendengar kata antibiotik?

Antibiotik merupakan golongan senyawa baik alami maupun sintetik yang memiliki efek untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik mulai dikenal sejak sekitar 90 tahun yang lalu ketika Alexander Flemming menemukan penisilin pada tahun 1928. Penemuan ini bisa dikatakan sebagai "titik balik" dari dunia kesehatan, di mana penyakit infeksi yang dahulu sulit untuk disembuhkan kemudian dapat teratasi. Penggunaannya pun meluas saat Perang Dunia ke-II sebagai pengobatan infeksi dan operasi. Seiring dengan perkembangan zaman, peneliti demi peneliti melakukan penemuan jenis antibiotik baru dengan mekanisme kerja yang beragam. Namun, perlu diingat bahwa antibiotik hanya bekerja pada bakteri sehingga tidak efektif untuk membunuh virus, parasit, dan jamur.

Ketenaran antibiotik dalam penyembuhan penyakit infeksi membuat para penggunanya terbuai. Masyarakat percaya, bahwa antibiotik adalah "obat super" yang dapat menyembuhkan penyakit apa saja dalam waktu yang cepat.  Akibatnya, antibiotik juga digunakan untuk mengobati penyakit seperti flu, sakit tenggorokan, batuk dan pilek yang paling banyak disebabkan oleh virus. Penggunaan ini sebenarnya tidak tepat guna, karena cara kerja dari antibiotik sendiri hanya efektif untuk bakteri. \Selain itu, antibiotik juga cenderung mudah untuk didapatkan oleh masyarakat tanpa resep dokter. Penggunaan yang tidak rasional inilah akan membuat bakteri "mengenal" sifat antibiotik akibat paparan yang terus menerus, dan kemudian akan menciptakan kekebalan, yang dikenal dengan istilah resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik sudah pernah diperingatkan oleh Alexander Flemming ketika beliau memberikan pidato saat menerima penghargaan Nobel. Benar saja, kini resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dari 2.049.442 kasus penyakit infeksi (akibat bakteri dan jamur) di Amerika Serikat, 23.000 di antaranya mengalami kematian akibat resistensi antibiotik. 

Di Indonesia, beberapa rumah sakit juga menunjukkan adanya peningkatan tingkat bakteri yang mengalami resistensi. Bakteri tersebut meliputi P. aeruginosa, Enterbocateriaceae, Acinetobacter baumanii, Klebsiella pneumoniae,dan Staphylococcus aureus. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Antimicrobial Resistance in Indonesia: Prevalence and Prevention (AMRIN-study menunjukkan bahwa terdapat 70% dokter di Indonesia yang melakukan peresepan antibiotik secara tidak rasional.

Lalu, apa akibatnya bila resistensi antibiotik terjadi? Bila hal ini terjadi maka akan timbul masalah yang serius, yaitu penyakit infeksi yang awalnya dapat ditatalaksana dengan antibiotik akan menjadi infeksi yang berbahaya, memperlambat proses penyembuhan, serta diperlukannya biaya yang lebih mahal untuk dilakukan pengobatan. Sebagai contoh adalah TB paru. Data WHO menyatakan bahwa pada tahun 2014 terdapat 480.000 kasus baru TB yang resisten terhadap dua obat anti-TB atau dikenal dengan TB-MDR. 

Pasien dengan TB-MDR akan membutuhkan pengobatan yang lebih lama dan kurang efektif dibandingkan pasien dengan TB non-resisten. Contoh lainnya adalah antibiotik florokuinolon, yang kini pada beberapa negara sudah dinyatakan inefektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Tidak hanya masalah kesehatan, terjadinya resistensi antibiotik juga akan berdampak pada ekonomi dan pembangunan. Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini, biaya negara untuk melakukan pengobatan akibat pasien yang mengalami resistensi antibiotik tentu akan meningkat.

Pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya untuk mengendalikan resistensi antibiotik ini. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 dapat dijadikan sebuah pedoman untuk tenaga kesehatan dalam menggunakan antibiotik di layanan kesehatan. Pada pedoman ini juga dijelaskan prinsip pencegahan resistensi bakteri, yaitu dengan cara penggunaan antibiotik dengan bijak dan meningkatkan ketaatan terhadap prinsip kewaspadaan. Adanya peraturan ini seyogyanya menjadi pembuka mata bahwa penggunaan antibiotik secara rasional harus menjadi prioritas utama di seluruh pelayanan kesehatan di Indonesia. Namun kembali lagi, dengan luasnya peredaran antibiotik yang dijual bebas, apakah ini cukup?

Jawabannya tentu tidak. Sebagai bentuk waspada terhadap masalah ini, WHO telah mencanangkan rencana aksi global pada resistensi antimikroba yang meliputi lima tujuan, antara lain meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan resistensi antibiotik, menguatkan pemahaman melalui penelitian dan surveilans, mengoptimalisasi penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan, menurunkan insidensi infeksi melalui sanitasi dan higienitas yang efektif, serta mengembangkan investasi berkelanjutan dalam penanganan resistensi antibiotik. 

Dalam menjalankan rencana ini, setidaknya terdapat empat komponen penting yang perlu terlibat dalam pencegahan resistensi antibiotik, terdiri dari individu masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah dan pembuat kebijakan, serta sektor lainnya seperti industri kesehatan. Sebagai bagian dari masyarakat, yang dapat dilakukan oleh individu antara lain adalah tidak menggunakan antibiotik kecuali bila diresepkan oleh dokter, tidak meminta dokter meresepkan antibiotik bila tidak dibutuhkan, mengikuti saran dokter dalam penggunaan antibiotik, serta mencegah terjadinya infeksi dengan cara mencuci tangan, imunisasi, dan menjaga kebersihan air. 

Masyarakat juga dapat menunjukkan kepeduliannya dengan berpartisipasi pada World Antibiotic Awareness Week yang akan dilaksanakan pada 13-19 November 2017 mendatang. Dari segi tenaga kesehatan, maka perlu dilakukan pemantauan penggunaan antibiotik. Dokter perlu lebih ketat dalam peresepan antibiotik, dan apotek membatasi pembelian antibiotik tanpa resep dokter.

Kesimpulannya, apakah antibiotik kawan atau lawan? Antibiotik tentu akan menjadi "kawan" ketika penggunaannya yang tepat sasaran dan rasional, yaitu untuk penyakit yang sudah jelas disebabkan oleh bakteri. Yang perlu "dilawan" adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional untuk mencegah terjadinya berbagai masalah serius akibat resistensi antibiotik.