Mohon tunggu...
Aten Dhey
Aten Dhey Mohon Tunggu... Senyum adalah literasi tak berpena

Penikmat kopi buatan Mama di ujung senja Waelengga. Dari aroma kopi aku ingin memberi keharuman bagi sesama dengan membagikan tulisan dalam semangat literasi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memetik Makna 17 Tahun Kemerdekaan Timor Leste

20 Mei 2019   18:08 Diperbarui: 20 Mei 2019   18:42 0 14 2 Mohon Tunggu...
Memetik Makna 17 Tahun Kemerdekaan Timor Leste
Pixabay.com

Setelah sistem pemerintahan terbentuk akhirnya pada tanggal 20 Mei 2002 diumumkan lahirnya negera baru yang lengkap dengan lembaga pemerintahan, Undang-Undang Dasar, dan Parlemennya. Oleh karena itu, tanggal 20 Mei dirayakan sebagai hari lahirnya negara Timor Leste. Selamat ulang tahun negara Timor Leste yang ke-17 tahun.

Narasi Sejarah

Dalam peta dunia, Timor Timur (Timor Leste) merupakan bagian dari pulau Timor. Dalam catatan sejarah jajahan, pulau di Timor dibagi menjadi dua pemerintahan, yakni Timor Barat (di bawah jajahan Belanda) dan Timor Timur (di bawah jajahan Portugis). Walaupun ada pembagian, dari segi budaya, adat istiadat dan religius lokal memiliki banyak kemiripan.

Keadaan geografisnya didominasi oleh pegunungan. Karena itu, sudah bisa dipastikan bahwa daerah Timor memiliki banyak sungai yang menyusur sepanjang pantai utara hingga selatan. Namun, banyaknya anak sungai tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang mayoritas sebagai petani. Debit air sungai hanya akan bertambah pada musim hujan. Selebihnya pulau Timor akan kelihatan sebagai pada sabana yang tak terjamah.

Kegersangan Timor Timur itu estetik. Mengapa? Banyak bangsa Eropa yang  berdatangan. Kekeringan tidak pernah memiskinkan sumber daya alamnya. Di Timor ada beberapa hasil bumi yang menjanjikan seperti cendana dan lahan yang cocok untuk perkebunan kopi.

Selain itu ada beberapa kekayaan lain di bawah bumi seperti emas, perak, dan tembaga yang terdapat di wilayah Baucau. Keramik dan fosfat terdapat di sekitar Maliana, Baucau, Same, Aileu, dan Ainaro. Marmer dan mangan terdapat di daerah Maliana, Baucau dan Viqueque. Minyak bumi di laut Timor bagian barat, yakni di Suai-Kovalima.

Penduduk Timor Timur menampakan tiga tipe. Pertama, Gelombang perpindahan penduduk pertama dari golongan Vedo-Australoid. Kelompok ini memiliki kemiripan dengan orang-orang veda di Srilanka. Hal ini tidak menunjukkan bahwa penduduk TimorTimur berasal dari sana. Untuk membuktikannya dapat diteliti melalui bahasa yang tidak ada kemiripan.

Kedua, penduduk yang menampakan tipe Papua Melanesia yang berciri Negroid (berkulit hitam). Tipe penduduk seperti ini ditemukan hampir di semua pulau Timor secara khusus di bagian barat dan di Timor Timur bagian pegunungan.

Ketiga, penduduk melayu tua (proto-Melayu) dan melayu muda (deutero-Melayu). Gelombang ini disebut gelombang penduduk dari Austronesia. Penduduk ini yang menjadi penduduk Indonesia.  Sementara penduduk Indonesia merupakan percampuran antara penduduk dari deuteron Melayu dan Melanesia melahirkan penduduk yang kini ditemukan di Indonesia Timur, yang kebanyak menghuni pulau Timor (Nusa Tenggara) dan Maluku.

Berkaitan dengan bahasa, para ahli Linguistik berpendapat bahwa ada tiga bahasa daerah yang digunakan, yakni bahasa Makasai (Baucau dan Viqueque), bahasa Fataluco (Lautem), dan bahasa Bunak di daerah Bobonaro, Fatululik dan Zumalai. Ketiganya tergolong  bahasa pre-Austronesia.

Selain keempat bahasa yang ada, sebagian penduduk menggunakan bahasa-bahasa lain seperti bahasa Tetum, Mambai, Galole dan Tokodode. Keempat bahasa ini merupakan rumpun bahasa dari Austronesia. Hal ini karena penduduk Timor Timur merupakan bagian dari hasil perkawinan antara penduduk deotro Melayu dengan Melanesia.

Berbicara mengenai budaya tidak terlepas dari budaya yang dibawa oleh migran Austronesia. Budaya bercocok tanam, pertanian, ladang dan penggunaan alat-alat dari batu, kayu terutama bambu memiliki kemiripan dengan budaya asli Austronesia.

Kebudayaan Timor Timur tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan di pulau Timor. Lalu apa yang memisahkan? Jawaban yang hingga kini belum bisa diganti adalah keberadaan politik Portugis dan Belanda yang menjajah serta membangun skenario memecahbelah kesatuan penduduk di pulau Timor.

Masa Kelam 

Pada tanggal 18 Agustus 1515 bangsa Portugis mewujudkan mimpinya dengan mendarat di pelabuhan pulau Lifau, Oekusi. Pelayaran terus berlanjut ke Batu Gede, Kupang, Mena dan Manatuto. Sejak menginjakkan kaki di pulau Timor, Portugis membangun sistem ekonomi tradisional yang dibangun oleh kerajaan-kerajaan di Timor.

Penataan sistem ekonomi yang lebih modern dengan daya beli yang kuat, disertai dengan politik adu domba yang terkesan elok namun licik membuat kerajaan-kerajaan di Timor saling menghanguskan demi mendapat keuntungan kekuasaan politik dan ekonomi.

Kenyataan ini dibaca oleh rakyat. Hingga mereka membuat perlawanan. Pada tahun 1598 timbul pemberontakkan pertama rakyat di pulau Solor dan Timor terhadap Portugis. Namun, kedatangan dan keberhasilan Belanda menguasai Malaka menimbulkan simpati rakyat terhadap Portugis. Banyak raja yang terpecah. Muncul dua kubu yang pro Belanda dan pro Portugis.

Penjajah di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja selalu mencari kepentingan. Oleh karenanya, meski sering terjadi perang di antara mereka namun pada akhirnya mereka tidak mau ditonton sebagai raksasa yang kalah terhadap sesamanya.

Belanda dan Portugis berusaha mengakhiri persaingan dan perseteruan mereka. Pada tahun 1859 diadakan perjanjian batas wilayah. Portugis menyerahkan pulau Flores dan Solor serta mengakui keberadaan Belanda di Timor Barat yang berpusat di Kupang.

Belanda harus mengakui wilayah kekuasaan dan jajahan Portugis yang mencakup seluruh wilayah Timor Timur, termasuk Oekusi, serta menyerahkan daerah Maubara dengan uang sebesar 80.000 Florins (uang Belanda). Sayangnya, kenyataan politik dan ekonomi yang dipecah-belah ini tidak diketahui oleh rakyat Timor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3