Aten Dhey
Aten Dhey

Penikmat kopi buatan Mama di ujung senja Waelengga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Waelengga [1]

11 Januari 2019   11:58 Diperbarui: 11 Januari 2019   13:12 173 1 0
Waelengga [1]
Sumber : waerebopinisi.com

Waelengga, sapuan cahaya pagi menyisir pelipis gunung Inerie merias indahmu. Berbisik dari bibir manis pantai Mbolata sebuah pujian akan temaram sinar yang menyempil di wajah cantikmu. Aliran sungai Wae Mokel mempercepat degup jantungmu. 

Luasnya padang Ma'u Sui memanggil angin tuk kembali menyempilkan nada bertalu kerinduan akan dirimu. Gelagat bukit Toloroja tercerahkan kiblat akan memori indah tempat tongkrongan di kala itu bersamamu.

Waelengga, bak layar diterpa angin keras hatiku kacau dan mulai berirama sedih dan seduh menimba kerinduan akan hadirku dalam hadirmu. Hatiku mulai senduh. Mulut tergagap-gagap. Pikiran mulai buyar. Logikaku berlakon di luar batas kewajaran. Aku kelimpungan dalam bayang yang terus melayang. 

Dentingan stik waktu perlahan dalam nada pasti berputar menjemput masa depan dan mengantar masa lalu. Ada ruang dalam pusaran waktu. Cinta yang nyata terbersit indah melebur dan menyatu. Riak-riak kegelisahan mulai terlihat meningkat bahkan terekat dan tersekat sangat dekat. Terlalu sebentar bagiku tuk terkapar di atas pusar yang menitihku hingga besar. Engkaukah itu Waelenggaku?

Waelengga, betapa kerinduan ini meregang-regang bayang masa lalu yang selalu berkanjang dalam tata kalimat "ingin pulang". Tanah kelahiranku, batinmu sungguh mengendap dalam keagungan di selaksa hidupku. Terbelit dan terselip rasa rindu membangkitkan imaji yang tersirat serta tersurat lagi-lagi dalam kalimat "ingin pulang".

Waelengga, engkau membungkam berderet gelagat yang sulit tuk dilewatkan sendirian. Engkau membuatku mencecar diri, menelanjangkannya hingga kengerian melonjak kegirangan. Engkau menggugatku tuk kembali bercumbu dalam medan perjumpaan. Ah, dalam hadirmu aku merasakan kegilaan yang lain. Ketika memikirkanmu aku merasakan penderitaan yang mengantar pada kesunyian. Tahukah engkau bahwa aku teramat sangat ingin dekat denganmu?

Waelengga, aku ingin menukar waktu tuk mendaraskan lagu yang engkau lantunkan dalam jeritan tangisku saat engkau memuntahkanku di atas rahimmu. Hati ini terkelupas dikikis sinar kerinduan yang selalu menarikku tuk kembali pulang. 

Matahari mengantarku pada sapuan sinar yang beranjak meninggi hingga meniti dalam duka dan lara yang semakin berlarut. Ia memanggilku pulang. Tapi, aku ingin berkeliaran menggapai sukacita dan menyedot gairah tuk meraih cahaya yang nanti pada waktunya akan kutaburkan pada paras cantikmu.

Waelengga, aku tahu engkau sengaja membiarkanku duduk melongo seorang diri merenung tentang rahim keibuanmu yang saat ini bersinar terang. Terangkai cerita dalam bingkai mata leso yang mencapai titik api perjuangan yang tak kenal lelah tuk mengenang. Tak terelak bahkan kelak aku akan terbelalak menatap lekak-lekak jejak anakmu yang saat ini beranjak kepelosok pojok-pojok duniamu.

Waelengga, gelap gulita mataku sepintas menghilang karena seberkas memoar indah yang mempersempit waktuku tuk berpikir. Aku dirajam berkeping-keping oleh imaji indah yang tak pernah kupandang saat terakhirku melangkahkan kaki tuk meninggalkanmu. Aku ingin melantunkan kata hatiku yang saat ini dikacaukan oleh kepanikan yang memuncak karena takut tak punya waktu lagi bersamamu.

Waelengga, terpukau atas waktu yang engkau berikan ini aku ingin berdendang dalam embusan angin malam. Kapan? Tersebutkan dalam ruang yang sempit setumpuk kerinduan tuk mendengar lagu natal di hatimu yang suci. Rangkaian nada dan kata telah engkau siapkan tuk menyambut kelahiran anak-anakmu. Tanah suburmu bak cinta yang tak terkikis oleh waktu.

Waelengga, berjarak sepelemparan waktu kuingin mencumbui bibirmu yang selalu bertutur penuh pesona tentang masa kecilku. Aku bangga memilikimu karena engkau mewariskan kemurahan hati Sang pemberi waktu. Terkadang aku letih dan tertatih-tatih dalam balutan butir-butir air mata ingin menjadi seorang anak seperti yang engkau inginkan. 

Aku sadar sungai arus zaman seringkali mencecap tubuh ini. Dingin dalam derita membuatku menjerit tuk bercerita. Aku mendadak bangkit, menopang, mengangkat, mengais, memegang, merangkai semangat dalam hati keibuanmu ketika engkau datang dan berjalan bersandingan denganku.