Mohon tunggu...
Asyifa FebrianaPutri
Asyifa FebrianaPutri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta

Haloo namaku Asyifa Febriana Putri, aku memiliki hobi membaca, bersepeda dan traveling.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Kunci Sukses dengan Mengukir Prestasi Sejak Dini

7 Desember 2022   09:12 Diperbarui: 7 Desember 2022   09:28 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Butuh perjalanan yang sangat panjang untuk mencapai kesuksesan. Ribuan cara dapat ditempuh untuk mendapat kesuksesan salah satunya melalui prestasi yang dimiliki. Dalam mengukir prestasi tidak berlaku istilah 'terlalu dini' karena pada dasarnya setiap anak memiliki prestasinya masing-masing sejak masa anak-anak yang merupakan masa keemasan di masa hidupnya. Bahkan sejak dalam kandungan ibunya seorang anak sudah mulai merekam semua yang ada di sekitarnya dan kemudian akan ditampilkan pada saat dia tumbuh dengan ucapan atau perbuatan. Maka dari itu, orang tua memegang peranan penting dalam kesuksesan anaknya.

Sejatinya tidak ada kata "tidak mungkin" dan "terlalu dini" dalam hal mengukir prestasi. Ungkapan tersebut sangat cocok dengan Medina Warda Aulia. Medina Warda Aulia, gadis kelahiran 1997 ini telah menyabet gelar grand master Indonesia pada usia 16 tahun.  Selain itu, Medina juga menjadi pemegang rekor murni dan dunia sebagai pecatur yang mampu mengalahkan 650 pecatur lain pada kompetisi Indosat Grand Master Chess Match. Atas prestasi Medina pada bidang catur, ia memperoleh penghargaan Setya Lancana Wira Karya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008 lalu.

Selain medina, Indonesia juga memiliki Wei Yi yang merupakan grand master termuda keempat di dunia. Wei Yi mendapatkan gelar grand master pada usia 13 tahun setelah meraih norma grand master ketiganya pada Turnamen Catur Reykjavik Open 2013. Sebelumnya, Wei Yi telah mendapatkan dua norma grand master pada kompetisi World Junior Championship dan Indonesia Open pada tahun 2012.

Indonesia juga telah mencatat sarjana kedokteran termuda yakni Rafidah Helmi. Rafidah Helmi merupakan mahasiswi lulusan Unissula Semarang. Rafidah Helmi memperoleh gelar sarjana kedokterannya pada usia 17 tahun pada tahun 2016. Rafidah masuk sekolah dasar pada usia empat tahun dan selama menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMA, Rafidah Helmu selalu menjalani program akselerasi sehingga ia terdaftar sebagai mahasiswa di usianya yang ke-14. Bagi Rafidah tidak ada hal khusus untuk mendapatkan prestasinya sekarang, ia menuturkan jika yang terpenting adalah menentukan tujuan dari awal dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan tersebut.

Prestasi seseorang tidak hanya diukur berdasarkan tingginya skor pada bidang akademik saja, namun kecerdasan non akademik juga merupakan sebuah prestasi. Menurut Prof. Dr. Howard Gardner, Psikolog dan Ahli Pendidikan dari Universitas Harvard menyatakan bahwa manusia dilahirkan setidaknya dengan sembilan kecerdasan. Sembilan kecerdasan ini berupa kecerdasan naturalis, kecerdasan musikal, kecerdasan logikal, kecerdasan eksistensial, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestesik-jasmani, kecerdasan linguistik, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan spasial.

Indonesia memiliki banyak anak-anak generasi muda cerdas dengan prestasi yang sesuai dengan bidangnya. Diatas telah diperlihatkan kecerdasan akademik yang dimiliki anak-anak Indonesia. Tak hanya kecerdasan akademik, namun non-akademik juga banyak diraih oleh generasi Indonesia, contohnya Ayahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik yang merupakan kakak beradik peraih Juara Robotik Internasional. 

Pada saat itu, Nadia yang baru berusia 9 tahun dan adiknya, Avicenna yang berusia 6 tahun berhasil menjuarai Asian Youth Robotic Olymiads (AYRO) di Singapura. Mereka berhasil meraih Gold Prize Medal Brick Speed, Gold Prize Medal, Silber Prize Medals Maze Solving Junior dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior. Di usianya yang masih belia ini, siswa MI Pembangunan UIN Jakarta ini telah berkali-kali menyabet gelar juara di kontes robotik internasional.

Prestasi tidak harus selalu sesuai dimulai langsung dari sesuatu yang besar, mengukir prestasi dapat dimulai dari sekedar menekuni hobi dengan serius. Bila menyukai akademik, maka berprestasilah di bidang akademik. Bila memang tidak menonjol di bidang akademik, namun ahli di bidang olahraga, maka tekunilah. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dibandingkan berprestasi di bidang yang kita sukai.

Dalam mengukir prestasi membutuhkan perjuangan tanpa henti dan kemauan untuk mengikuti proses dalam menghadapi rintangan dan kesalahan yang berulang selama perjalanan menempuh tujuan. Kunci agar meraih prestasi dan mewujudkan mimpi hingga berhasil.

1. Jangan Menjadikan Keterbatasan Menjadi Sebuah Penghalang
Perlu diingat bahwa tidak ada yang mustahil bila memiliki keyakinan dan keinginan saat mencapai kesuksesan. Keterbatasan yang dimiliki hanya memberi keyakinan yang negatif tentang diri sendiri dan merasa tujuan terlalu sulit untuk bisa tercapai.

2. Belajar dari kesalahan
Dalam mencapai kesuksesan pasti menghadapi banyak kesalahan. Kesalahan memang menimbulkan kekecewaan namun perlu terus berjuang, bekerja keras, dan yakin bahwa segala impian dapat diwujudkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun