Mohon tunggu...
asti eka
asti eka Mohon Tunggu... Guru - Human being

Pendidikan, Membaca, Menulis, Travelling

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Cerita di Balik Nasi "Buk" Madura (Edisi Kuliner Jawa Timur Part 1)

16 September 2020   13:38 Diperbarui: 16 September 2020   13:43 611
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kuliner. Sumber ilustrasi: SHUTTERSTOCK via KOMPAS.com/Rembolle

"Part of the secret of success in the life is to eat what you like and let the food fight it out inside"

-Mark Twain-

Namanya, Nasi "Buk" Madura. Tetapi sebaiknya kita tidak berharap akan menemukan makanan ini bila kita berkunjung ke Pulau Garam, Madura. Asal mula Nasi "Buk" ini  justru lahir dari kota dingin, Malang.

Bagi yang belum mengenal makanan yang satu ini pasti penasaran untuk mencobanya. Nasi "Buk" sebenarnya adalah nasi campur, nasi putih yang disiram dengan sayur lodeh (biasanya menggunakan tewel/nangka muda atau rebung/bambu muda), kemudian dilengkapi kecambah segar, serundeng kelapa, dendeng rempah dan sambal terasi yang khas.

Untuk lauknya, kita bisa memilih mendol tempe, ayam kampung, daging sapi atau jeroan sapi (paru, usus, babat, limpa). Makanan berkolesterol tinggi memang. Tapi di situlah letak kenikmatan Nasi Bug Madura.

Satu lagi yang khas dari Nasi "Buk"  Madura ini, yang membedakan dengan nasi campur yang lain adalah dendeng rempah kelapanya,  terbuat dari parutan kelapa yang ditumbuk kemudian dipanggang dan digoreng (agak njlimet/rumit ya). Dendeng rempah kelapa ini merupakan ciri khas Nasi "Buk" yang tidak ditemukan di hidangan lain.

Bagaimana awal mula Nasi "Buk" Madura bisa sampai di Malang?

Nasi campur ini dulunya dijual keliling oleh para ibu-ibu di daerah Kotalama, Malang. Asal para "Buk" tersebut dari Desa Bayeman, Bangkalan - Madura. Mereka mulai pindah ke Malang sejak puluhan tahun yang lalu dan tinggal di daerah Kotalama tersebut  berjualan sambil membawa bakul berkeliling di sekitar daerah Pecinan Kota Malang (sekitar Pasar Besar). Para  pembeli saat itu kebanyakan dari kalangan Tionghoa yang tinggal di sekitar pecinan dan menggemari nasi campur jualan mereka. 

Mengapa akhirnya  disebut Nasi "Buk"?

Karena ternyata, "Buk"  ( atau biasa juga dibaca " Mbhug") adalah sebutan untuk ibu atau perempuan dewasa dalam Bahasa Madura. Karena masyarakat pada saat itu tidak tahu menyebut nama nasi campur yang dijual tersebut maka akhirnya mereka menyebutnya menjadi Nasi "Buk" Madura (Nasi yang dijual oleh ibu ibu dari Madura), akhirnya sebutan tersebut melekat sampai saat ini.

Nasi "Buk"  Madura enak untuk dijadikan menu sarapan pagi. Dulu, Nasi "Buk" disajikan beralas daun yang di pincuk tetapi sekarang nasi "Buk" disajikan di piring. Kalau dulu nasi ini dijajakan berkeliling dengan membawa bakul sekarang sudah banyak kedai kedai Nasi "Buk" di Kota malang. Bila dulu para "Mbug-Mbug" ini berjualan keliling hanya sampai sekitar jam 10 pagi tetapi sekarang sampai siang hari pun nasi buk masih bisa kita nikmati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun