Astri Rahayu
Astri Rahayu

Pengajar di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pembalut dan Sensitifitas Gender

13 Agustus 2017   01:23 Diperbarui: 13 Agustus 2017   02:53 37 2 1
Pembalut dan Sensitifitas Gender
www.hipwee.com

Kemarin saya mendapatkan hal yang cukup menarik dari percakapan di salah satu grup sosial media di mana saya bergabung di dalamnya.

Ayah:   Kaka hari ini bawa pembalut ga?

Kaka:   Ga, Yah...Kaka kan ga lagi haid.

Ayah:   Bawa aja Ka, buat jaga2 aja. Ayah kan tahu kalau siklus haid perempuan itu ga teratur. 

Kaka:   Tapi siklus haid Kaka masih jauh, Yah..Ga usah lah bawa-bawa pembalut.

Ayah:   Ayah hanya ga mau kaya bulan kemarin waktu Ayah harus ke sekolah Kaka siang-siang untuk mengantarkan pembalut, celana dalam                    serta rok sekolah soalnya waktu itu Kaka dapet haidnya di sekolah.   

Diskusi di dunia maya menjadi menarik karena ada dua komentar yang bertentangan dan lumayan menggelitik. Kelompok yang satu menganggap bahwa sang Ayah sudah lebay karena sudah menjamah ranah yang menjadi tanggung jawab perempuan (baca: ibu dan anak perempuan). Terlebih jika hal ini juga bisa membuat sang anak merasa risi dan jengah, sebuah  komentar wajar yang datang dari teman perempuan.

Yang umum terjadi, ketika seorang perempuan mendapatkan haid, biasanya dia akan menyimpan dengan rapi dan tersembunyi di dalam tasnya semua benda yang berkaitan dengan perlengkapan haid. Tujuan utamanya sebenarnya adalah karena khawatir ada teman laki-laki yang akan melihat. Obrolan seputar haid pun biasanya hanya terjadi  di kalangan perempuan saja secara khusus dan terkadang dengan suara yang halus agar tidak terdengar oleh para lelaki. Tabu, itu katanya.  

Sex education yang dijalankan di sekolah-sekolah pun masih bersifat cluster, memisahkan kelas laki-laki dengan kelas perempuan untuk menghindari hal-hal etis terkait alat reproduksi laki-laki dan perempuan yang bisa menimbulkan kehebohan di dalam kelas. Pembahasan masalah reproduksi pun lebih ditekankan pada bagaimana para siswa mampu menjaga kesehatan alat reproduksi dan perilaku keseharian dengan lawan jenis tanpa adanya penekanan pendekatan psikologis dan empati terhadap lawan jenis seandainya ada hal-hal yang berkaitan dengan masalah ini terjadi. 

Jawaban si ayah cukup menyentak batin saya. Dia justru berpendapat bahwa hal-hal kecil seperti ilustrasi dialog di atas justru sebaiknya dijadikan kebiasaan. Bukan berarti peran ibu dalam hal ini telah tergantikan oleh keberadaan sang ayah, tetapi lebih menekankan adanya bentuk kontribusi maskulin dalam dunia feminisme. Laki-laki memang harus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Jargon ayah yang mencari nafkah dan ibu yang mendidik anak-anak di rumah sekarang ini menjadi semakin bias karena saat ini sudah banyak juga ibu yang mencari nafkah dan berkarir di luar rumah untuk membantu ekonomi keluarganya, sementara tanggung jawab domestik masih harus menjadi beban seorang ibu. 

Di sinilah memang peran ayah yang bersifat feminin sangat penting. Ayah tidak hanya berperan dan bertanggung jawab untuk mencari nafkah saja. Ada hal-hal domestik yang juga bisa memberikan dampak positif terhadap konstruksi keluarga yang sehat. Komunikasi verbal dengan mengambil topik yang di dalam masyarakat masih dianggap tabu sejatinya merupakan nafkah batin seorang suami terhadap istrinya. Hal ini sama pentingnya dengan nafkah lahir yang secara fisik terlihat. Ayah yang perhatian terhadap hal-hal sensitif tentang anak perempuannya akan menjadi contoh bagi sang anak bagaimana nanti dia harus mencari seorang suami. Bukan hanya seorang suami yang bertanggung jawab secara fisik, memberi nafkah sandang pangan papan yang memadai, tetapi juga memberi sentuhan perhatian yang sensitif yang justru memberikan efek yang sangat besar bagi perkembangan anaknya kelak.***


Kuala Lumpur, 13/08/2017