Astri Puspita
Astri Puspita

Junior Banker, Financial Planner to be.. and a Magister Management Student

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

"Nyicil" Reksadana Syariah Yuk!

27 Februari 2018   20:41 Diperbarui: 27 Februari 2018   20:42 600 1 0
"Nyicil" Reksadana Syariah Yuk!
Ilustrasi: Shutterstock

Bonus tahunan, Tunjangan Hari Raya, Uang Lembur, dan Bayaran Project yang telah selesai. Semuanya kita dapat belanjakan, apalagi sebagai milenial masih ada kebutuhan untuk bersenang -- senang dan bergaya yang bisa kita penuhi dari pendapatan -- pendapatan tesebut. Namun, pernahkan terpikir dari kita untuk yang masih muda ini untuk memiliki reksa dana? Khususnya reksa dana syariah.

Sesuai dengan hadis : Rasullah bersabda " Barang siapa menjual rumah dan tidak menjadikan harganya yang serupa maka tidak akan mendapat berkah " Ibnu Majah.

Artinya, Islam melarang konsumsi yang berlebihan dan penimbunan kekayaan, karenanya dana perlu diorganisasi dengan cara yang baik agar terus berkembang dan berkelanjutan. Aset tidak boleh habis dikonsumsi tetapi harus ditabung atau diinvestasikan, salah satunya dengan membeli secara berkala reksadana syariah.

Apa itu rekasadana syariah ?

Reksadana syariah adalah reksa dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahib al-mal/rabb al -- maal) dengan manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna Investasi. (Fatwa DSN Nomor : 20/DSN-MUI/IX/2001).

Apakah sama dengan reksadana biasa ?

Tentu Berbeda. Perbedaannya adalah pada batasan -- batasan produk yang dapat dijadikan portofolio bagi reksadana syariah. Yaitu produk -- produk investasi yang sesuai dengan syariah; seperti saham -- saham yang tergabung dalam JII (Jakarta Islamic Index), obligasi syariah, dan berbagai instrument keuangan syariah lainnya.

Lalu, apa keuntungannya ?

Keuntungan berinvestasi reksadana syariah adalah dapat dilakukan secara ritel, sehingga investasi awal dapat disesuaikan dengan kesanggupan keuangan dan nilainya kecil, bahkan ada yang hanya Rp 250.000,-.

Selain itu, hasil yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan deposito, mudah pelaksanaan transaksinya (beberapa MI telah menunjuk beberapa bank sebagai dealer), perkembangan nilai NABnya yang dapat dipantau secara harian melalui media (misal Infovesta, kontan), serta adanya audit secara rutin dan pengawasan oleh Dewan Pengawasan Syariah (DPS).

Ada yang bilang, untuk investasi reksa dana harus dengan modal yang besar? Kok bisa sih hanya Rp 250.000,-?

Dalam pembelian reksadana, kita bisa membeli secara berkala. Yaitu, jika kita bekerja sebagai karyawan yang sebulan sekali "gajian", gaji kita tersebut bisa secara rutin dilakukan autodebet dari tabungan yang kita miliki.

Untuk nilai autodebetnya sendiri bermacam -- macam mulai dari Rp 100.000,-. Selain itu, investasi reksadana syariah berkala seperti "memaksa" kita para investor syariah untuk disiplin dalam menabung. Tentu saja tujuannya satu, yaitu untuk mendapatkan hasil investasi dimasa datang yang sesuai harapan dan In Shaa Allah Halal dan berkah.

Bagaimana dengan yang membeli sekaligus dan periodik? Apa kelemahannya?

Nilai sebuah NAB berubah -- ubah setiap harinya. Nilai keuntungan yang kita peroleh apabila kita membeli sekaligus (lump sum) atau secara berkala tergantung dengan NAB di hari pencairan.

Kelemahan dari cara pembelian reksadana syariah secara sekaligus adalah jika waktu yang digunakan untuk melakukan investasi kurang tepat dan investor tidak berorientasi jangka panjang, maka ketika harga reksadana syariah mengalami penurunan, kerugian yang dialaminya bisa lebih besar. Untuk itu, dari pengalaman para investor reksadana, pembelian secara sekaligus sebaiknya dilakukan oleh investor yang berorientasi jangka panjang dan siap menghadapi risiko penurunan harga.

Sedangkan untuk pembelian reksadana syariah secara berkala, kelemahannya adalah tidak melihat waktu. Jadi pada saat kondisi pasar naik ataupun turun, investor tetap fokus pada tujuan investasinya. Bisa jadi, dalam beberapa kesempatan investor mendapatkan harga NAB yang relatif tinggi sehingga tingkat keuntungannya kurang besar jika dibandingkan investasi sekaligus. 

Unit yang didapatkan otomatis sedikit. Namun, tidak melulu rugi, nilai NAB yang berubah setiap harinya dan nilai investasi yang relative kecil setiap bulannya ini membuat kita lebih intens dalam mengatur "tabungan" pribadi dan yang pasti pada saat redemption/pencairan, nilai yang diperoleh hampir sama dengan  investasi reksadana secara sekaligus.

Oleh sebab itu, cara investasi berkala ini sebaiknya dilakukan oleh investor yang memiliki karakteristik pendapatan rutin seperti karyawan karena balik lagi pada tujuan awal yaitu "investasi sejak muda" dan kita "dipaksa untuk disiplin dalam menabung".

Astri P.