Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Temukan Hikmah Jangan Salahkan Orang Lain

13 September 2022   10:43 Diperbarui: 13 September 2022   11:49 151 15 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dalam rangka membangun dan memelihara relasi hidup bersama sangat sering kita mengalami tertipu, terkecoh, dan terperdaya sehingga menderita kerugian yang tidak kecil. Saya mempunyai beberapa pengalaman unik dengan orang-orang yang kami layani dalam sebuah lembaga. Beberapa jenis penipuan itu merugikan memang, tetapi ada sisi positipnya atau paradoksnya.  

'Tertipu' bisa berat bisa ringan, tetapi pada pokoknya orang tidak diberikan informasi yang benar yang menjadi haknya untuk suatu perbuatan sehingga orang ini menjadi tersesat, dan pada umumnya dirugikan..

'Terkecoh' mungkin bisa karena adanya maksud penipuan tetapi bisa sekedar humor, namun pada pokoknya terkecoh itu orang dihadapkan pada situasi/kondisi yang bisa membuat orang menjadi salah dalam melangkah atau berbuat.

'Terperdaya' pada umumnya ada motivasi jahat semacam menipu, mengecoh, tetapi pada pokoknya terperdaya itu orang dibuat dan disiasati dengan informasi atau sikon yang dirancang dengan baik dan lihai (katakan dengan sistem) sehingga orang dibuat sesuai yang memperdayainya. Orang terperdaya bisa dirugikan, merasa dipermalukan.

Catatan Peristiwa berikut ini tentang kejadian masa lalu yang saya alami terlebih sebagai illustrasi beberapa jenis penipuan dan ketertipuan. Saya bukan mau mengingat dan membanggakan pengalaman masa lalu namun kapan saja semua bisa diambil hikmahnya  Maka perlu sedikit di "terjemahkan" disesuaikan untuk mengambil pembelajaran dimasa kini..   

Pak Roto (nama samaran) adalah kurban penipuan hingga dua kasus oleh seorang penipu lihai yang sama. Latar belakang, dia adalah salah satu pengusaha desa yang ternama didaerahnya. Ada tiga bersaudara dalam segitiga persaingan bisnis desa. Dua orang bersaing usaha huller/penggilingan padi, dua orang bersaing usaha ternak babi, dan dua orang bersaing dalam pemborong kerja bangunan. Seharusnya ada tiga jenis kerja sama tetapi yang terjadi terlebih persaingan segitiga dari tiga bersaudara.

Dalam Semangat untuk lebih hebat Pak Roto yang pengusaha pemborong bangunan, minta saya bantu sedikit tambahan beaya untuk menyelesaikan proyek rehab SD Inpres. Tetapi belum seminggu dia mengaku semua pemberian saya hanyut sebagai uang muka pembelian "besi tua" katanya dari sebuah pabrik gula. Ketika saya cek tak akan ada penjualan besi tua dari satu-satunya pabrik gula yang ada di daerah kami. Kata Pak Roto si penerima uang muka sebagai pedagang perantara itu mengakui minta maaf dan sebagai silih akan menggantikan dengan proyek rehab gedung milik BUMN di daerah sebelah.

Sayang seribu sayang Pak Roto sampai dua bulan hilir mudik ke daerah sebelah tetap saja belum bekerja pada bangunan yang ditawarkan. Dan ketika saya menawarkan diri menjadi pendamping mengurus ke instansi di daerah sebelah, dalam waktu tiga hari saya memberi saran untuk menghentikan usaha itu. Sebab ketika saya pergi kesana dimana saya mempunyai banyak saudara sepupu disana, saya peroleh informasi siapa Sang Perantara itu. Dia Perantara seribu satu jenis bisnis yang dia 'suka'. Sebab dia memang Penipu ulung yang cerdik menangkap kurban, menipu, mengecoh, dan memperdaya kurban dan cerdik untuk menghindar dari jerat hukum.

Pak Sapar (nama samaran), teman lain kerkecoh dalam pergaulan non produktip, meninggalkan pekerjaannya sehari hari sebagai petani. Dia semula tampak bagi saya sebagai petani berfikir maju. Membeli pompa air berukuran besar membuka kebun sayur dan padi di daerah diatas sungai cukup besar bertebing tinggi. Orangnya ramah rajin dan sopan santun.

Suatu ketika saya minta ikut suatu rencana kegiatannya. Ternyata dia bergabung pada  suatu kelompok sekitar 6 -10 bapak-bapak lansia purna karya. Mereka seminggu sekali mengadakan pertemuan rutin di malam hari, dimana diantaranya merencanakan suatu tour di siang hari sesuai kesepakatan. Dan pada akhirnya saya semakin memahami bahwa mereka menganut suatu paham kebatinan kejawen tertentu. Dan diketuai oleh seorang purnawirawan yang tentu mempunyai banyak waktu. Dari mereka setelah mengikuti pertemuan sekitar tiga empat kali saya sempat belajar dan diperingatkan bagaimana banyak oknum penyalahgunakan kemampuan paranormalistik untuk sempat mencari keuntungan finansial. Dan hampir pasti  ada trik nakal disana, dengan kata lain keterkecohan. Tetapi yang saya menyesal bahwa saya tidak mampu menarik kembali dari sana Pak Saparjo untuk kembali menekuni sawah ladangnya. .  

Sedikit berbeda adalah rekan lain saya Pak Beko (nama samaran), yang sangat sering datang kerumah saya untuk curhat. Keluh kesahnya selalu hal perasaan dimusuhi, dikhianati, di zolimi orang termasuk diperdaya. Sampai tiga bulan yang lalu sejak sekitar 15 tahun sebelumnya keluh kesah selalu tentang hubungannya dalam bisnis Multi Level Marketing. Sudah demikian banyak Pak Beko mengikuti banyak bisnis itu. Baru tiga bulan ini dia merasa bangga dan mantab plus sukses dengan bisnis MLMnya . Melalui WA dipamerkan kepada saya mobilnya yang baru dan mewah. Saya ikut bersyukur dan berdoa semoga suksesnya sampai tahun 2024 dst. Karena ini menyangkut sistem bisnis tidak saya masukkan pada kategori penipuan dsb tetapi selama 15 tahun Pak Beko memang memberi kesibukan saya untuk menghiburnya dan mengajak menghentikan atau bersikap lebih kritis dalam berbisnis sembari mengembangkan kesukaannya menjalin relasi MLM yang meriah itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan