Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kehidupan, Nilai Seni, dan Pengaruhnya

17 Juni 2022   13:22 Diperbarui: 17 Juni 2022   14:14 454
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

"Anyone who keeps the ability to see beauty never grows old",  tulis Franc Kafka, novelist Hongaria (1883-1924).  Marilah kita merenung sejenak tentang kehidupan kita dalam "melihat" seni dan keindahan, apakah mungkin kita menjadi lambat menua. Bukankah sama hak setiap orang dari muda belia hingga tua bangka seperti saya ini dalam "melihat" keindahan?.

Akan tetapi manusia kita ini memang insan ciptaan Tuhan yang ditakdirkan hidup berakal-budi, berkehendak-bebas dan merdeka, bersosialisasi, berkembang, berubah diri. Ketika bunga, panorama alam menghadirkan keindahan, manusia diharapkan menghadirkan kebaikan. Sayangnya dalam keterbatasannya kebebasan dan perubahan diri kerap membuat penyimpangan dari harapan untuk kebaikan itu. Itulah dinamika dalam kehidupan. 

"....Soimah mendapat pertanyaan dari warganet tentang menganut agama Kristen atau bukan. "Kak Kristen bukan?" kata Soimah membacakan pertanyaan warganet. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Soimah balik bertanya pada warganet itu tentang faedahnya mengetahui tentang keyakinannya."Memang pengaruh kalau agamanya apa? Pengaruh di hidupmu? Kalau Kristen kenapa? Kalau Islam kenapa? Kalau agama lain kenapa?" ujar sang penyanyi asal Pati, Jawa Tengah......  (Cuplikan video tersebut kemudian diunggah oleh pemilik akun TikTok @sriwahyuni23356.)

Unggahan itu pun langsung dibanjiri komentar dari warganet yang mendukung pernyataan dari Soimah."Hebat jawabannya mewakili banget," tulis seorang warganet...."Betul bund, jawaban yang sangat bijak. Mantab," tambah warganet lain...."pinter iki Soimah Hebat salam toleransi," imbuh warganet lainnya."(Diambil dari : MSN)

Selain menyajikan pintasan berita yang bagi saya indah, saya ingin menarik perhatian terhadap "orangnya" yang terlibat. Penyanyi, banyak warganet, dan tersirat nyata cara pandang mereka. Juga pertanyaan tentang agama, "apa pengaruh di hidup seseorang pada kesempatan itu". Tetapi begitulah kehidupan itu.

Mari kita telusuri satu persatu faktor-faktor cerita terkutip diatas, sambil melepas dari nada pencitraan bagi identitas perseorangan (Soimah).

Soimah dan semua seniwati, penyanyi berkesempatan menghadirkan keindahan merdunya suara hadir dipanggung entertainment. Ada seniman seniwati kondang ada yang kurang kondang.  Seniwati terkutip direspon dinilai warganet, secara pribadi sebagai "mewakili banget" yang saya pahami, sebagai "disetujui", sikap dalam omongannya. Secara pribadi, Bijak, Pinter, hebat. Secara tersirat bersikap menolak dalam forumnya bicara soal agama, sikap mana diartikan "punya toleransi" terhadap adanya perbedaan diantara penggemar atau forum panggungnya.

Sebagaimana dilaporkan "warganet" merespon seniman penyanyi apalagi ada kata "mewakili", saya membaca sebagai "kesadaran publik" minimal masyarakat tertentu yang disebut warganet menyampaikan respon. Itulah peristiwa kehidupan. Saya teringat pernah mengutip Pablo Picasso (1881-1973) artis Spanyol yang mengatakan: Seni itu kebohongan tetapi menunjukkan kebenaran.  Bila lukisan bunga itu indah tetapi tetapi tetap tidak menghadirkan keharuman bunga bohongan, demikian pula omongan Siomah tetap menunjukkan kebenaran bahwa agama tidak perlu menjadi pengaruh didengar tidaknya nyanyiannya. Dan dalam kehidupan biasa terjadi alur-alur pengaruh dalam beinteraksi.

Menunjukkan kebenaran termasuk meluruskan alur interaksi dan pengaruhnya, serta mewarnai kehidupan dari keharusan takdirnya hingga penyimpangan ataupun anomalanya. Itulah Seni, seperti pemikiran Pablo Picasso terkutip.

Seni mempunyai makna serba karya manusia yang selalu membawa bobot nilai penciptaan (kreativitas) dan keindahan. Karya manusia dalam berbagai bidang dimana kreativitas, originalitas, dan keindahan bisa diwujutkan, baik secara langsung dengan gerak dan suara maupun tidak langsung disampaikan melalui tulisan, lukisan, warna dan bentuk benda tiruan atau ciptaan.

Disana terjadilah beraneka obyek yang indah berkat kehebatan dan imaginasi orang. Pernah saya mengutip :  Immagination is the highest kite that can fly (Lauren Bach artis AS. +1924). Dengan imaginasi sebagai alatnya hingga kita bisa terbang keangkasa kebebasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun