Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Administrasi - Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Semangat Sembuh!

10 Juli 2021   08:39 Diperbarui: 10 Juli 2021   08:45 129 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Semangat Sembuh!
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Tersirat suatu pembelajaran dari belajar dalam menulis di Kompasiana bahwa memang baik aku menulis tentang Life, Kehidupan. Bagi aku santai berbagi tentang kehidupan. Sudah biasa semua yang kusampaikan obyektif nyata, Sebab terangkat dari realita kehidupan yang dialami dan orang banyak pun mengalaminya pula. Tantangannya ialah memilih kata-kata istilah yang umum menggunakannya.

Catatan saya ini berupaya untuk membesarkan hati prihal sakit. Ini memenuhi harapan banyak teman dalam grup WhatsApp. Mereka enggan membaca banyak berita tentang Covid19. yang serba mencemaskan. Apa yang paling penting dalam catatan saya ini yaitu tentang Proses Sembuh, Semangat untuk sembuh, Sembuh karena mau sembuh dengan pertolongan orang lain dan obat. 

Dengan label Covid-19, penyakit yang disebabkan virus yang viral ini terhitung baru, sebenarnyalah masih harus lebih dipahami oleh banyak warga masyarakat ini. Tetapi gencarnya informasi untuk lapisan yang sibuk untuk bertahan hidup justru menjadi tambahan beban. Menghadapi perkembangan Covid 19 dengan berita, informasi statistik dan segala macam opini sebagai salah satu sisi kehidupan perlu strategi tarik ulur.  Situasi memang masih berkembang dalam proses.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi  optimis akhir pandemi Covid-19 di dunia mulai terlihat. Dia mengatakan hal tersebut ditandai dengan tercapainya 'herd immunity' alias kekebalan kelompok di sejumlah negara. 

Dan sementara itu diberitakan Viva Polri meminta masyarakat menghentikan perdebatan terkait penanganan COVID-19 di tanah air karena faktanya lonjakan korban sudah terjadi. Yang perlu dilakukan saat ini adalah bersama-sama fokus mengatasi pandemi tersebut. "Sekarang waktunya untuk fokus menggalang agar dapat keluar dari situasi ini," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono dalam webinar bertajuk "PPKM Darurat, Indonesia Selamat", yang diselenggarakan secara daring oleh Divisi Humas Polri, Rabu, 7 Juli 2021.(Polri Minta Masyarakat Hentikan Perdebatan, Fokus Atasi COVID-19 (msn.com))

Itulah salah satu sisi saja dari Kehidupan. Yang menjadi penting bagaimana kita sendiri mengambil sikap. Dari hal sikap pada umumnya sudah banyak kali dalam tulisan saya terkutip pesan dari RD.Greg.Utomo pr.: "Globally Thinking, Locally Act". Bagi saya itu diteguhkan oleh ajaran Prof.Dr.N.Drijarkara SJ. tentang Aku manusia, yang adalah Jiwa yang berbadan dan badan yang berjiwa. Filosof masa kini yang saya baca Bruce Lipton memaparkan panjang lebar tentang : "the Biology of Belief". Ilmu tubuh (biologi) dari Kepercayaan (belief) atau hal gerak pemikiran, memori, visi orang dalam badan . Saya lalu teringat dalam buku pelajaran agama waktu SMP ada hal Allah yang immanen (memenuhi alam semesta) sekaligus transcendent (mengatasi / diatas segala).

Belajar dari tiga empat butir kata bijak diatas, melalui permenungan beberapa tahun, menyadari dan mengalami sejak masa awal pendidikan hingga lima tahun bekerja saya sampai pada kessimpulan bahwa hidup saya dianugerahi Tuhan lebih banyak fasilitas dan kerja daripada perhitungan duitnya. Fasilitas maksudnya itu adalah kesempatan, peluang, dan kemungkinan pengembangan, baik belajar maupun kerja, lebih daripada penghasilan atau pembeayaan hidup itu sendiri.

Berikutnya melalui suka duka kehidupan pribadi dan keluarga hidup ini saya alami selalu dikuatkan oleh doa dan harapan. Doa dan harapan dimaksudkan sebagai istilah mudah untuk menyatakan "Ora et labora" (berdoa dan bekerja) Berharap dan berupaya tanpa keraguan dalam setiap apa yang secara nalar sudah dikerjakan, maka Tuhan dan mekanisme tubuh serta alam semesta akan terjadi bagi kami sekeluarga.

Dalam bukunya The Biology of Belief,*) Bruce Lipton masih mengingatkan pula bahwa memang ada disana sini penyimpangan dari perkiraan, ditulis: "Sayangnya para saintis seringkali mangabaikan pengecualian-pengecualian, anomali-anomali yang bisa terjadi." (opcit, halaman 237) Itu kritik dari seorang ahli bagi para orang ahli lainnya. Bagi otak yang pas-pasan sepertii kami itulah saat-saat perlu penguatan oleh doa, keyakinan dan kepercayaan akan Penyelenggaraan Illahi.

Maka bicara tentang Hidup sehat  yang membesarkan hati tentang sakit saya perlu membuka Personal branding dalam hal pernah sakit.  Pada usia kanak kanak malaria adalah penyakit yang menjadi epidemi. Umur 8 th saya diinjeksi, justru membuat kaki kiri salah urat menjadi lumpuh sebagian syaraf. Kondisi dari tidak bisa berjalan hingga bisa berjalan lagi melalui terapi sebaik mungkin saat itu..Dan itu berdampak hingga sekarang.  Pada usia 28 th terkena typus dirawat di rumah sakit sebulan lebih.  Pada usia 48 terindikasi kanker otak, dioperasi, dan lumpuh setengah badan hingga 4 bulan baru bisa berjalan mendekati normal. Pada usia 77 th saya mulai diganggu oleh penyakit yang dokter bilang Vertigo. Sampai saat ini bila Vertigo datang saya pusing, limbung, keringat dingin, muntah dan lemas seluruh tubuh.

Sakit dan hidup sehat adalah sisi kehidupan yang juga pantas direnungkan dalam semangat hidup penuh syukur dan harapan positip untuk kesembuhan. Kesembuhan yang sebenarnya benar-benar tidak sakit lagi, bukan kesembuhan fiktip imaginer atau pura-pura tidak sakit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x