Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar Pola Saat Tenggelam Dalam Problema Kehidupan

27 Juni 2016   12:37 Diperbarui: 27 Juni 2016   12:45 0 6 2 Mohon Tunggu...

Hari ini saya menulis di status Facebook sana berjudul “Diujung perjalanan…”Salah satu pengalaman melihat dan lalu menjalani jalan ditengah hamparan luas sawah jalan beraspal mulus, sekitar 4 km dari desa Purwadadi ke desa Ngombol, Purworejo. Sudah beberapa kali saya kesana, tetapi tak pernah terbayang jalannya masuk desa dan menemukan rumah teman saya. Demikianlah jalan panjang kehidupan bagaikan tampak terhampar……. Tetapi apa bagaimana diujung jalan itu saya tidak tahu. Hanya Iman dan Harapan mendasari langkah kesana membawa kasih dan cinta. “Faith is taking the first step event you don’t see the whole staircase” kata Martin Luther King Jr. Sudah dari awal kita harus beriman untuk menatap kedepan melangkah dengan langkah tegap penuh harapan dan hati terbuka meskipun ujung jalan itu kita belum tahu pasti.

Disaat lain saya mendapat cerita dari anak saya yang sudah berusia sekitar 37 tahun sudah menikah berbadan besar dan berbobot pula. Ceriteranya adalah “Belajar Berrenang”, bukan anaknya tetapi dia sendiri. Dan sekarang sudah bisa dan biasa dia berrenang. Oleh pelatihnya dia diberi teori tentang “Tenggelam”. Bobot dan golongan darah, kebanyakan lelaki dan perempuan, dan hal lain yang membedakan bagaimana harus disikapi ketika kita didalam air. Pelatih lalu minta kepada yang dilatih untuk mengalami bagaimana rasanya tenggalam dalam kedalaman air dengan pengawasan pelatih. Selanjutnya pelatih menjelaskan pelbagai pengalaman langsung si siswa, bagaimana nafas diatur, bagaimana ditahan lalu diembuskan lewat hidungkah atau mulut. Tetapi semua harus dirasakan, dan dialami sendiri secara nyata.

Jadi sebelum orang itu bisa berrenang dan mungkin menjadi perenang yang cepat serta indah, bukan saja sekedar tidak tenggelam, tetapi memang mulai dengan tahu rasanya tenggelam. Dalam hidup ini saya melihat banyak manusia sukses karena pilihan sikap tepat saat dia tenggelam dalam kesulitan hidup. Saat kita tenggelam disana :  harus kita pahami sifat air yang menenggelamkan kita dengan tenang tidak panic tetapi sadar dan cerdas. Disitu harus disadari  benar posisi dan kondisi kita sebenarnya. Sebab ancaman atau problematika kita bisa bersumber juga dari respon spontan diri kita terhadap sesuatu yang kita anggap masalah. Dan mungkin diri kita itu factor yang terutama melebihi situasi nyata sekitar kita yang kita anggap sebagai ancaman atau hal yang berbahaya.

Dalam hidup keseharian sering ada tawaran yang dirasa sangat modern dan maju yaitu semboyan “future oriented”, bukan “past oriented”.  Semboyan untuk maju kedepan di tandingkan dengan “kultus masa lalu”. Saya rasa semua perlu harmonisasi atau keselarasan dan kepatutan.

Beberapa Coach/Pelatih/Motivator di Indonesia yang saya hubungi menceritakan bahwa mereka sedang getol berdiskusi tentang pola pola perilaku untuk mengkaji dan menemukan pola dari masa ke masa dalam topic topic perilaku dan cara pendekatan yang actual dan efektip.

Diantara dikotomi past dan future adalah kekinian. Sekarang kita harus berkeputusan belajar dari perkembangan (pola) masa-lalu dan antisipasi masa-depan. Kita belum kesana dan sudah tidak dimasa lalu, tetapi sekarang.

Simone Weil was a French philosopher, Christian mystic, and political activist. After her graduation from formal education, Weil became a teacher. Born: February 3, 1909, Paris, France .Died: August 24, 1943, Ashford, United Kingdom. Menulis : “The Future is of the same stuff as the present”.Apabila pernyataan itu sudah tidak layak lagi

Untuk masa kini yaah mungkin juga.

Tetapi yang pasti sebaiknya kita : Belajar Pola saat tenggelam dalam Problema Kehidupan. Karena hidup harus selalu cerdas, santai dengan rasional, kelola strategi kebutuhan, mengikuti pola kepatutan…….

 

VIDEO PILIHAN