Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Percakapan Sehari-hari Membangun Konsolidasi Organisasi

28 Oktober 2014   14:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:28 224 9 7 Mohon Tunggu...

Sekali waktu saya diundang pada pertemuan pengurus paguyuban. Fokus pembicaraan sangat hebat : Bagaimana dibangun kembali konsolidasi paguyuban.? Mereka mengatakan bahwa para anggota semakin rajin untuk mangkir pertemuan, untung ada yang mengirim SMS dan berpamitan. Ada beberapa yang tidak hadir tidak berkabar sepatah katapun.

Telah diupayakan perbaikan tata organisasi. Undangan tertib dikirim seminggu sebelumnya. Pengurus memberi satu dua permasalahan yang akan dibahas untuk pertemuan mendatang. Waktu dan tempat pertemuan telah dibahas dan disepakati, atau tetap dirumah ketua atau digilir dirumah para pengurus atau dirumah anggota yang menghendakinya.

Visi dan misi paguyuban beserta program tahunan telah selalu disusun bersama dan dilaporkan dievaluasi dan maklumi oleh setiap anggota yang hadir. Nampaknya tidak ada permasalahan keuangan, tidak ada silang pendapat yang serius dan frontal. Nampaknya tidak ada permusuhan dan perbedaan pendapat yang tersembunyi pula diantara para anggota. All is fine, OK. Tetapi belakangan itulah, gairah pertemuan mengendur.

Organisasi sosial yang didasarkan semata pada “kebaikan-hati”, tidak akan kuat bertahan lama. Karenanya kadang mereka memberi rangssangan dengan kekuatan daya tarik “kepentingan” dan “keuangan”, yaitu Arisan atau Tabungan, atau simpan pinjam. Organisasi sosial yang didasarkan pada “iman-kepercayaan” itupun banyak godaan dan mudah menggunakan alasan lain untuk mangkir dalam pertemuan.

Saya belajar dari fakta jaringan pertemanan maya. Facebook, Twitter, dan keakraban di blok royokan seperti Kompasiana. Saya melihat didalam komunikasi dan berbagi serta berjaringan (sharing and connecting), banyak sekali tanda-tanda keakraban yang istimewa, susah dijelaskan, tetapi nyata. Hal itu nampak pada keseriusan, kesungguhan ungkapan dari hati (suka, marah, benci dsb), serta keakraban saat ada pertemuan darat yang populer disebut kopdar. Saya melihat hubungan mereka yang nyata adalah ikatan imaginatif, atau dalam ide-ide yang ideal yang mau dicairkan. Selanjutnya komunikasi efektip yang spontan keseharian. Mengapa justru yang demikian mudah terjalin dan menjadi cenderung menguat ? Saya kira karena tidak ada beban yang berat yang harus ditanggung, dan tak ada sangsi berat meski mungkin diumpat, dibully didunia maya. Entahlah realita yang ada disemua pengguna internet itu masing-masing. Sesab semua orang disemua tempat/waktu hendaknya bisa selalu bertanggung jawab sebagaimana seharusnya. Dan dalam “kebebasan-bertanggungjawab” itulah aktualisasi diri dikembangkan, dan bahkan dipamerkan.

Selanjutnya untuk paguyuban yang harus saya bantu memecahkan permasalahannya tadi, saya sarankan beberapa langkah ini :

1.Buatlah kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan terjalinnya komunikasi efektif, dan dimungkinkannya terjadi persahabatan antar mereka.

2.Tingkatkan komunikasi akrab pula pengurus dengan/kepada satu dua pribadi dari setiap grup yang telah terbentuk.

3.Pengurus hendaknya memberikan masukan-masukan untuk bahan percakapan keseharian mereka, dan rajin mencatat respon anggota agar perkembangannya tidak justru membuat perpecahan.

4.Tujuan dari pengelompokan ini semata mata untuk membangun komunikasi efektif dan konkritisasi dari visi-misi yang mungkin terlalu sulit dicerna dalam pemikiran sehari-hari.

5.Pengurus meningkatkan ketrampilan menjala masalah dan masukan dari percakatan seharian dalam pertemuan kelompok/ grup kecil itu dan pada saatnya diangkat dalam rapat bersama.

Respon awal dari para pengurus atas saran saya itu :Wah berat kerjanya pengurus.....

Tetapi konon peguyuban itu berjalan baik hingga sekarang.......

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x